Vaksinasi Covid-19, Lebih Afdol Bila Sebelumnya Penerima Dites Antigen

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja wisata di Senggigi Lombok mendapatkan vaksinasi Covid-19. Dok. Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat, NTB.

    Pekerja wisata di Senggigi Lombok mendapatkan vaksinasi Covid-19. Dok. Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat, NTB.

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam rangka pengendalian pandemi COVID-19 di Indonesia, pemerintah tengah menggencarkan vaksinasi untuk mengejar target kekebalan kelompok secepat mungkin. Kondisi warga yang memiliki antibodi terhadap COVID-19 akan terbentuk kira-kira 2,6 tahun jika dikalkulasikan dari kecepatan suntikan, menurut Menteri Kesehatan adalah 400.000 suntikan per hari untuk 70 persen dari jumlah penduduk Indonesia pada 2020 sebanyak 271.349.889 jiwa.

    Namun, ada beberapa kasus orang yang sudah disuntik vaksin masih tertular COVID-19. Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Prof. Dr. dr. Syamsul Arifin MPd., menyarankan vaksinasi COVID-19 didahului tes cepat antigen sebagai langkah pemeriksaan awal.

    "Kebijakan yang dilaksanakan saat ini adalah vaksinasi massal tanpa pemeriksaan atau tes cepat antigen maupun tes usap PCR. Tentu kita tidak bisa memastikan apakah saat itu orang yang divaksin bebas COVID-19 atau tidak," kata Syamsul.

    Menurutnya, pelaksanaan vaksinasi sekarang sangat tergantung kejujuran warga dalam memberikan informasi kesehatannya kepada petugas skrining, terutama kondisi yang merupakan kontra indikasi mutlak pemberian vaksin, misalnya penyakit autoimun.

    Di samping itu, jika ada warga yang sedang terkonfirmasi COVID-19 lolos, vaksinasi massal tanpa tes dan telusur kontak yang memadai akan membiarkan virus corona leluasa menyebar. Parahnya, akan membahayakan warga lain yang sedang hadir saat pelaksanaan vaksinasi dan bahkan petugas yang memberikan pelayanan jika tidak menjalankan protokol kesehatan dan menggunakan alat pelindung diri (APD) dengan baik dan benar.

    Baca juga: Tak Rasakan Efek Samping Vaksinasi Covid-19, Bukan Tanda Vaksin Tak Bekerja

    Menurut Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM ini, meskipun pada saat pelaksanaan skrining warga yang terkonfirmasi positif lolos dan selanjutnya dilaksanakan vaksinasi, secara individual vaksin tidak memberikan efek negatif bagi bahan aktif vaksin COVID-19 yang berasal dari virus yang dimatikan seperti Sinovac.

    Terkait temuan orang positif setelah vaksinasi, menurut Syamsul, kemungkinan ada tiga. Pertama, orang yang divaksin sebelumnya sudah positif namun tanpa gejala (OTG). Padahal, virus corona di vaksin yang beredar sekarang sudah mati, maka kemungkinan kecil dapat menyebabkan terinfeksi COVID-19.

    Kedua, jika sebelumnya memang negatif COVID-19, maka antibodi yang digunakan untuk pertahanan terhadap penyakit ini belum terbentuk karena rata-rata antibodi terhadap COVID-19 secara sempurna terbentuk pada minggu keempat setelah mendapatkan dua kali vaksinasi dengan jeda 14 hari. Oleh karena itu, setelah vaksinasi harus tetap disiplin dalam penerapan protokol kesehatan.

    Kemungkinan ketiga, efikasi vaksin COVID-19 yang sekarang dalam program vaksinasi hanya 65 persen. Jadi, meskipun empat minggu setelah vaksinasi masih ada kemungkinan gagalnya, yaitu sekitar 35 persen, sehingga jika kontak dengan OTG dan yang terkonfirmasi tanpa protokol kesehatan tetap kemungkinan dapat tertular.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.