Mengenal Makna Dalam Kain Ulos Batak Mandailing

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kain ulos yang ditunjukkan dalam Pameran kain Ulos di Museum Tekstil, Jakarta, Rabu, 19 September 2018. (Tempo/Yatti febri Ningsih)

    Kain ulos yang ditunjukkan dalam Pameran kain Ulos di Museum Tekstil, Jakarta, Rabu, 19 September 2018. (Tempo/Yatti febri Ningsih)

    TEMPO.CO, Jakarta - Menurut kepercayaan suku Batak, ada 3 sumber kehangatan. Yaitu matahari, api dan kain ulos. Ulos merupakan kain tenun khas batak yang menyimpan makna tiap jenis motifnya. Beda suku bataknya, beda pula jenis ulos kebanggaannya.

    Misalnya Batak Toba  punya ulos manggiring, bintang maratur, ragi hunting, pinan lobu-lobu, bolean, antak-antak dan lainnya. Ada sekitar 19 jenis ulos. Belum lagi batak Simalungun, Pak-pak, karo, terakhir batak Angkola biasa dikenal Mandailing.

    Ulos khas Mandailing tak banyak, hanya lima jenis. Berikut penjelasan fungsi tiap jenisnya.

    Paling sering ditampilkan pada acara adat adalah ulos sadum. Terutama acara-acara perayaan maupun penyambutan orang penting. Selain itu jenis ulos ini kerap dijadikan kenang-kenangan dan pajangan. Motifnya yang kaya estetika juga ragam warna cerah membuat ulos ini terlihat mewah.

    ADVERTISEMENT

    Ulos sadum pun dipakai sebagai gendongan atau paroppa di Tapanuli Selatan. Gendongan bayi keturunan raja. Pada acara-acara sidang adat raja pun sering digunakan sebagai alas sirih harunduk panyurduan saat mengundang para raja.

    Baca: Tiap Motif Kain Ulos Punya Makna, Bagaimana Membedakannya?

    Selanjutnya ada ulos sabe-sabe. Selendang adat yang dipakai khusus saat membawakan tarian tor-tor. Saat manortor pihak mora akan menyelimutkan ulos ini pada pihak suhut atau orang yang berpesta. Jika pesta pernikahan, ulos akan diberikan oleh para Tulang atau saudara laki-laki Ibunya pengantin pria kepada kedua pengantin. 

    Jenis selendang adat ketiga adalah ulos ragi hotang. Ragi maknanya corak sedangkan hotang artinya rotan.Ulos Ragi Hotang juga diberikan pada pengantin saat prosesi adat pernikahan. Harapannya agar ikatan batin pernikahan pengantin erat seperti rotan.

    Selain untuk pengantin,ulos ini juga dapat mengobati seseorang yang picik. Atas izin Tuhan bisa berubah jadi lebih baik. Konon ulos ini juga sering dipakai membungkus jenazah. Bahkan saat prosesi pemakaman kedua, ulos ini dijadikan pembungkus tulang-belulang jenazah. 

    Selanjutnya ulos Harungguan. Jenis kain yang disematkan pada seseorang yang mendapat jabatan pemimpin atau naik pangkat pekerjaan. Ulos ini melambangkan suka cita. Wujud meminta doa restu keberhasilan atas apa yang telah dicapai.

    Asal kata harungguan berasal dari marunggu, artinya berkumpul. Seluruh jenis motif dimasukkan dalam ulos ini. 

    Terakhir ada ulos Sibolang. Penggunaannya dapat dipakai pada semua kegiatan adat. Baik berduka maupun sedang bersuka cita. Jika berduka, pilihan warna hitam ulos ditonjolkan. Sedangkan jika bersuka cita memakai warna putih.

    Walaupun bisa dipakai tiap kegiatan adat, namun kurang tepat jika dijadikan gendongan dan saat mangupah. Saat upacara pernikahan pun nama ulos sibolang akan disebut dengan ulos pamontari.

    Penamaan kain ulos sibolang punya makna bahwa orang yang membawakannya adalah orang yang berjasa istilahnya mambolang-bolangi dalam pernikahan adat. Saat manortor misalnya, orang tua pengantin perempuan akan memberikan ulos ini kepada orang tua si pengantin pria juga kepada kedua pengantin.

    RAUDATUL ADAWIYAH NASUTION


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.