Penanganan Tuberkulosis Harus Sejalan dengan Pengendalian COVID-19

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Tuberkulosis atau TBC. Shutterstock

    Ilustrasi Tuberkulosis atau TBC. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit itu utamanya menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang organ tubuh lain, seperti selaput otak, tulang, dan kelenjar getah bening. Bakteri penyebab TB menyebar ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin.

    COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan virus corona baru yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina. Penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini menular melalui percikan cairan saluran napas.

    TB sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Upaya penanggulangan penyakit itu terhambat pada masa pandemi COVID-19. Pelacakan kasus TB terkendala selama pandemi.

    Menurut data Kementerian Kesehatan, persentase penemuan kasus TB pada 2018 dan 2019 sekitar 60 persen. Pada 2020, dalam kondisi pandemi, capaian penemuan kasus TB jauh lebih rendah, hanya 30 persen.

    Baca juga: Pandemi Covid-19, Jangan Abaikan Perhatian pada Tuberkulosis

    Wakil Ketua Komite Ahli Penanggulangan Tuberkulosis 2021 Tjandra Yoga Aditama mengatakan upaya pengendalian tuberkulosis (TB) bisa dilakukan sejalan dengan penanganan COVID-19. Ia menyampaikan tujuh upaya penanganan COVID-19 yang dapat dilakukan sejalan dengan penanggulangan TB, yakni pemeriksaan, penelusuran kontak, pencegahan infeksi, surveilans, penguatan pelayanan kesehatan, komunikasi risiko, dan pelibatan masyarakat.

    Ia mengatakan pemeriksaan dan penelusuran kontak secara luas yang dijalankan dalam pengendalian penularan virus corona tipe baru akan baik kalau dilakukan dalam penanganan TB. Demikian pula dengan upaya pencegahan infeksi melalui kampanye mencuci tangan dan memakai masker.

    "Data menunjukkan penggunaan masker yang tepat dapat mengurangi kemungkinan tertular TBC sampai 56 persen," kata Tjandra.

    Surveilans atau pengamatan data dan informasi mengenai kejadian penyakit dari waktu ke waktu yang dilakukan untuk COVID-19 juga harus dilakukan untuk TB. Komunikasi risiko yang baik pun penting untuk mengendalikan penularan kedua penyakit tersebut.

    "Penyampaian informasi ke masyarakat yang secara intensif diberikan untuk COVID-19 juga bisa dilakukan untuk penyakit TBC, tidak hanya di seputar saat Hari TBC Sedunia di bulan Maret ini," kata Tjandra.

    Selain itu, penguatan sistem pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan pelibatan masyarakat dalam pengendalian penyakit sama-sama penting dalam penanggulangan COVID-19 maupun tuberkulosis. "Kita harapkan semua pelayanan kesehatan itu berjalan baik untuk menangani COVID-19 dan juga menangani TBC," harapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.