Tips Mencegah Penggumpalan Darah

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sel Darah Merah. Dok: StockXpert

    Sel Darah Merah. Dok: StockXpert

    TEMPO.CO, Jakarta - Penggumpalan darah yang tidak normal di dalam pembuluh darah arteri alias trombosis perlu diwaspadai. Gumpalan darah yang dinamakan trombus ini bahkan bisa berujung kematian. Gumpalan yang terbentuk di arteri itu dikenal sebagai trombosis vena dalam (DVT). Ketika sebagian atau seluruh gumpalan tersebut pecah dan berjalan ke paru-paru, ini bisa mengancam nyawa.

    Pembekuan darah bisa terjadi pada pasien rawat inap, masa kehamilan, kanker, dan beberapa jenis perawatan kanker. Faktor risiko lain seperti pergerakan terbatas karena perjalanan yang lama atau istirahat di tempat tidur, riwayat pembekuan darah pribadi atau keluarga, dan cedera pada pembuluh darah.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyarankan banyak menggerakkan kaki untuk meningkatkan aliran darah di kaki saat duduk dalam waktu lama, setelah istirahat di tempat tidur, atau saat bepergian lebih dari empat jam. CDC mencantumkan cara-cara untuk membantu mencegah penggumpalan darah.

    Pertama, bangun dan berjalan setiap 2-3 jam dalam sehari. Kedua, lakukan peregangan kaki sambil duduk. Ketiga, angkat dan turunkan tumit sambil menjaga jari-jari kaki tetap di lantai saat duduk. Keempat, angkat dan turunkan jari-jari kaki sambil menjaga tumit tetap di lantai.

    Kelima, kencangkan dan lepaskan otot kaki. Jika seseorang mengalami DVT di salah satu kaki atau lengan, terkadang anggota tubuh tersebut tetap sedikit bengkak setelah perawatan. Kata CDC itu adalah hal yang wajar.

    Baca juga: Penggumpalan Darah, Gejala dan Cara Mencegah

    Setelah pembekuan darah di paru-paru, orang mungkin juga merasakan nyeri ringan atau tekanan di dada. Para ahli mengingatkan jika mengalami nyeri atau kram di betis yang kerap menyerang, itu bisa menandakan DVT, ditambah gejala sesak napas atau pingsan.

    Di sisi lain, CDC mencatat faktor penting yang harus diperhatikan terkait pembekuan darah, yakni gumpalan bisa terbentuk di mana saja, tetapi kemungkinan besar berkembang di kaki atau panggul. Anda bisa mengalami DVT dan tidak mengetahuinya, terutama jika gumpalannya kecil. Gejala DVT yang paling umum adalah pembengkakan di lengan atau tungkai, nyeri yang bukan karena cedera, dan kulit yang terasa hangat serta berwarna merah di area gumpalan.

    Gumpalan biasanya terbentuk hanya di satu kaki atau lengan, tidak keduanya. Ahli Jantung di Harvard, Samuel Goldhaber, mengatakan orang bisa berisiko lebih besar mengalami pembekuan darah di paru atau emboli paru jika memiliki riwayat DVT. Untuk itu, dia menyarankan agar tetap aktif secara fisik dan lakukan segala kemungkinan untuk menghindari imobilitas.

    "Itu berarti menjalani program olahraga yang menyehatkan jantung, seperti berjalan kaki, setidaknya 30 menit sehari, enam hari seminggu," tuturnya, dilansir dari Express.

    Makan makanan yang menyehatkan jantung dan pertahankan berat badan tanpa lemak juga penting untuk mencegah penggumpalan darah. "Kelebihan berat badan merupakan faktor risiko utama emboli paru."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.