Tips Lancar Puasa Ramadan bagi Pasien Diabetes

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi makanan untuk pasien diabetes (pixabay.com)

    Ilustrasi makanan untuk pasien diabetes (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Penderita diabetes perlu beberapa persiapan sebelum puasa Ramadan agar tidak menimbulkan komplikasi yang membahayakan kesehatan akibat proses metabolisme yang terganggu. Menurut dr. Asri Meiy Andini, pada prinsipnya penderita diabetes boleh saja berpuasa asalkan kadar gula darah terkontrol baik dan tidak memiliki penyakit serius lain, seperti penyakit jantung atau ginjal.

    Bagi penderita diabetes, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, dan jadwal minum obat penting untuk diperhatikan selama berpuasa. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi berupa kadar gula darah turun secara drastis (hipoglikemia) atau justru menjadi sangat tinggi (hiperglikemia).

    Gejala yang dapat dirasakan akibat hipoglikemia dan hiperglikemia adalah sakit kepala, pusing, lemas, sering haus, kejang, hingga tidak sadarkan diri. Keduanya merupakan kondisi yang berbahaya pada penderita diabetes dan perlu segera mendapatkan penanganan medis. Berikut tips buat penderita diabetes agar dapat berpuasa dengan aman.

    Jangan lewatkan makan sahur
    Penderita diabetes tak boleh melewatkan waktu makan sahur agar cadangan energi selama berpuasa cukup dan tidak terjadi hipoglikemia.

    Tetap makan tiga kali sehari
    Sarapan bisa diganti dengan makan sahur, makan siang diganti dengan makan saat buka puasa, dan makan malam dilakukan setelah Tarawih. Saat makan sahur, dianjurkan mendekati waktu Imsak atau Subuh. Sedangkan saat berbuka dianjurkan sesegera mungkin. Hal ini dilakukan agar kadar gula darah tidak turun terlalu lama.

    Hindari makan berlebihan saat sahur dan berbuka puasa
    Mengatur porsi makan sangat penting untuk mengontrol kadar gula darah dan berat badan. Meski tubuh lapar, disarankan untuk tidak makan terlalu banyak saat berbuka puasa. Awali dengan takjil, lalu konsumsi makanan bergizi seimbang dalam porsi secukupnya.

    Konsumsi makanan yang mengandung banyak serat
    Makanan berserat memberikan rasa kenyang lebih lama. Makanan berserat, seperti nasi merah, gandum, sayur dan buah, dianjurkan untuk dikonsumsi lebih banyak saat makan sahur.

    Hindari gorengan dan makanan yang terlalu manis
    Mengonsumsi gorengan menyebabkan penimbunan lemak dalam tubuh dan secara tidak langsung akan meningkatkan kadar gula darah. Selain itu, penderita diabetes juga disarankan untuk tidak mengonsumsi makanan yang terlalu manis untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.

    Cukup minum air putih
    Kecukupan cairan penting untuk mencegah dehidrasi. Minum air putih lebih dianjurkan dibanding minuman manis atau yang mengandung kafein, seperti kopi dan teh. Minuman berkafein menyebabkan lebih sering buang air kecil sehingga memicu dehidrasi.

    Periksa gula darah secara teratur
    Pemeriksaan gula darah dapat dilakukan sendiri di rumah dengan alat pengukur gula darah. Pemeriksaan gula darah dapat dilakukan 2-4 kali sehari, yaitu setelah sahur, selama berpuasa, dan setelah berbuka puasa. Hal ini penting untuk menghindari hipoglikemia ataupun hiperglikemia. Jika kadar gula darah kurang dari 70 mg/dl atau lebih dari 300 mg/dl, dianjurkan untuk membatalkan puasa.

    Rutin berolahraga
    Berolahraga saat puasa baik untuk menjaga kebugaran asalkan tidak berlebihan. Bagi penderita diabetes, aktivitas fisik yang berlebihan dapat menyebabkan hipoglikemia. Salat Tarawih yang dilakukan setelah berbuka puasa bisa dijadikan sebagai salah satu bentuk olahraga sekaligus ibadah.

    Konsumsi obat sesuai petunjuk dokter
    Selama menjalani ibadah puasa, penderita diabetes perlu tetap mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter. Bila perlu, dokter akan mengatur ulang jadwal konsumsi obat agar sesuai dengan jadwal makan selama bulan puasa. Kondisi tubuh setiap orang berbeda-beda sehingga sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum menjalani ibadah puasa. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan minimal dua bulan sebelum Ramadan.

    Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, mengevaluasi gula darah, dan menentukan apakah kondisi tubuh aman untuk menjalani ibadah puasa. Jika kadar gula darah terkontrol dengan baik, ibadah puasa tentu dapat dilakukan tanpa kendala. Apabila saat berpuasa Anda merasa pusing, sakit kepala, lemas, jantung berdebar, keringat dingin, tubuh gemetar, dan seperti akan pingsan, segera batalkan puasa dan periksakan diri ke dokter terdekat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H