Penyakit Demensia Bukan Mutlak Milik Lansia, Anda Pun Bisa Menderita Karenanya

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • FPC. Demensia. shutterstock.com

    FPC. Demensia. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Demensia menurut World Health Organization suatu kondisi terjadinya penurunan fungsi intelektual dan memori sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari, begitu pula Young Onset Dementia atau Demensia di usia muda.

    Bukan hanya Young Onset Dementia, terdapat pula Working Onset Dementia yang menunjukkan gajala penurunan fungsi intelektual yang terjadi pada individu di bawah usia 65 tahun. 

    Prevelensi terjadinya penderita demensia lebih berisiko diderita perempuan daripada pria, hal ini didasari juga karena usia harapan hidup wanita lebih lama daripada pria. Walaupun demikian bukan sepenuhnya benar, sampai saat ini prevelensi terkait hal di atas belum dapat dipastikan. 

    Selain itu, faktor risiko peluang menderita demensia beriringan dengan pertambahan usia, adanya riwayat keturunan keluarga yang menderita demensia, penerapan gaya hidup yang tidak baik seperti pola makan tidak sehat, kecanduan alkohol, tidak rutin berolahraga, dan candu merokok. 

    Adapun penyakit ini memiliki gejala yang bertahap sehingga tidak mengejutkan bila penyakit ini sering sulit dideteksi oleh penderitanya, sebab lupa biasa menjadi alasannya. Pada awal, tahap gejala yang ditunjukan pada penderita demensia yakni kemampuan fungsi otak penderita masih dalam tahap normal, sehingga belum ada gejala yang terlihat.

    Gangguan yang terjadi pada tahap ini belum memengaruhi aktivitas sehari-hari penderita. Contohnya, penderita menjadi sulit melakukan beragam kegiatan dalam satu waktu, sulit membuat keputusan atau memecahkan masalah, mudah lupa dengan kegiatan yang belum lama dilakukan, dan kesulitan memilih kata-kata yang tepat.

    Pada tahap selanjutnya, calon penderita demensia menunjukan gejala tanggung penurunan kualitas hidup dalam menjalankan aktivitas sehari-hari penderita. Sebagai misal penderita demensia akan mengalami kesulitan dalam menentukan keputusan tidak mampu dengan baik menjalankan beragam kegiatan dalam satu waktu bersamaan, tak hanya itu penderita demensia juga mengalami gangguan ketika hendak mengingat kembali kejadian yang telah berlalu padahal rentan waktu terjadinya tidak dalam jangka waktu yang lama. 

    Gejala selanjutnya yang ditunjukan penderita demensia yakni, penderita menjadi sulit melakukan beragam kegiatan dalam satu waktu, sulit membuat keputusan atau memecahkan masalah, mudah lupa akan kegiatan yang belum lama dilakukan, dan dalam berkomunikasi sulit memilih kata-kata yang tepat.

    Gejala tahap lanjut yang dirasakan oleh penderita demensia seperti lupa akan arah atau jalan yang padahal sering jadi rutinitasnya. Penderita demensia menunjukkan kesulitan mandiri sehingga membutuhkan bantuan dari orang lain dalam menjalankan aktivitas seperti berpakaian, karena kesulitan-kesulitan tersebut penderita demensia menjadi menarik diri dari lingkungan sosialnya. Selain itu penderita juga mengaji perubahan emosional seperti menjadi lebih sensitif, mudah marah dan mau bersikap kasar. 

    Pada gejala akhir yang paling "mengerikan" bagi penderita demensia, ia bisa tidak lagi mengenali keluarganya dan sulit melakukan komunikasi karena tidak memahami bahasa lisan. 

    TIKA AYU

    Baca: Demensia Bisa Dicegah, Simak 10 Gejala Umumnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H