Yang Perlu Diperhatikan saat Pembelajaran Jarak Jauh Menurut Pakar

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) mengerjakan soal dalam Ujian Penilaian Akhir Semester (PAS) tahun pelajaran 2020/2021 di rumahnya, di Duren Sawit, Jakarta Timur, 3 Desember 2020. Meskipun masih harus menerapkan sistem pembelajaran daring guna mengantisipasi penyebaran COVID-19, namun Penilaian Akhir Semester (PAS) tetap berlangsung. TEMPO/FARDI BESTARI

    Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) mengerjakan soal dalam Ujian Penilaian Akhir Semester (PAS) tahun pelajaran 2020/2021 di rumahnya, di Duren Sawit, Jakarta Timur, 3 Desember 2020. Meskipun masih harus menerapkan sistem pembelajaran daring guna mengantisipasi penyebaran COVID-19, namun Penilaian Akhir Semester (PAS) tetap berlangsung. TEMPO/FARDI BESTARI

    TEMPO.CO, Jakarta - Di masa pandemi Covid-19, masih banyak sekolah yang belum menggelar pembelajaran langsung di kelas. Pemerhati pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji, mengatakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang baik harus sesuai dengan kebutuhan.

    “Pada era sekarang ini, anak sudah bisa belajar di mana saja dan kapan saja,” ujarnya.

    Dia menambahkan jika pun pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas dilakukan di kelas, guru seharusnya sudah tidak lagi sekadar menerangkan secara satu arah. Kelas seharusnya digunakan sebagai tempat diskusi, kolaborasi, presentasi, hingga tempat berdebat.

    “Ini yang kita lihat seperti di kantor Google ataupun Go-jek, tidak ada lagi meja karya. Mereka sudah kerja di mana saja dan kapan saja. Mereka cuma ada ruang rapat dan bebas duduk dimana saja,” tambahnya.

    Prinsip belajar sesuai dengan kebutuhan tersebut yang mendorong setiap orang untuk bisa belajar kapan saja dan di mana saja. Dengan prinsip tersebut, anak tidak harus datang ke sekolah. Tidak ke sekolah, bukan berarti tidak belajar karena semua bisa terdeteksi di sistem manajemen pembelajaran atau LMS.

    “Kita gunakan LMS untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan siswa dan berapa lama dia gunakan,” ujarnya.

    Indra menjelaskan era manufaktur sudah bergeser ke era digital dan karyawan tidak perlu hadir untuk absen setiap pukul 08.00. Oleh karena itu, siswa harus disiapkan untuk belajar dan bekerja pada era digital.

    “Jadi, nanti tidak harus ada yang namanya jadwal pelajaran, cara membangun manusianya memang harus diubah pola pikirnya, terutama para guru. Guru harus ditingkatkan kemampuannya, terutama kemampuan pengajaran pada era siber,” tuturnya.

    Baca juga: Survei: 78 Persen Pelajar Ingin Sekolah Tatap Muka


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.