Saran Ahli Gizi agar Tetap Sehat Pasca Lebaran

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang ibu memberikan pengetahuan soal makanan bergizi, agar anak tumbuh kuat, dalam sebuah pembelajaran jarak jauh, di Pondok Ranji, Tangerang Selatan, Banten. Tempo/Jati Mahatmaji

    Seorang ibu memberikan pengetahuan soal makanan bergizi, agar anak tumbuh kuat, dalam sebuah pembelajaran jarak jauh, di Pondok Ranji, Tangerang Selatan, Banten. Tempo/Jati Mahatmaji

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah sebulan berpuasa, momen libur Lebaran diwarnai aneka makanan sehingga menjadikan banyak orang berpikir untuk sedikit saja mengendorkan toleransi dalam menjaga pola makan. Bukan saja bagi yang menjalani diet ketat, banyak yang lupa diri untuk tetap menjaga pola makan sehat setelah berpuasa satu bulan.

    Ahli gizi yang juga Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Dr. Hardinsyah menekankan pentingnya masyarakat tetap sehat setelah Lebaran mengingat masih pandemi COVID-19. Fakta ini mestinya menjadi momentum yang terus dijaga. Bahkan ketika libur akhir tahun 2020 serta kejadian ledakan kasus baru COVID-19 di berbagai negara, termasuk di India, seharusnya menjadi pembelajaran penting bagi semua.

    “Oleh karena itu, sebaiknya kita menyikapi dengan baik dan mematuhi peraturan pemerintah pusat dan daerah dalam pencegahan COVID-19, termasuk pada masa Lebaran 2021 terkait kegiatan mudik, Lebaran keluarga, dan wisata,” katanya.

    Lebih jauh, Hardinsyah mengajak seluruh masyarakat untuk menerapkan gizi seimbang. Penerapan protokol kesehatan perlu disertai dengan upaya untuk meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh dengan menerapkan prinsip Gizi Seimbang. Prinsip ini meliputi hidup aktif, bergerak dan berolahraga, menjaga berat badan normal, mengonsumsi makanan yang aman, beragam dan cukup, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

    Sekjen PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Dr. Ahmad Sulaeman, secara khusus menyarankan masyarakat untuk selalu bijak memilih dan mengonsumsi makanan dan minuman sebab berbagai kajian menunjukkan kegemukan, kelebihan konsumsi gula, garam, dan lemak, stres kronik, kurang tidur meningkatkan risiko gangguan imunitas dan gangguan kesehatan.

    Oleh karena itu, masyarakat diharapkan membatasi asupan gula, garam, dan lemak atau membatasi makanan dan minuman yang manis, asin, dan berminyak, serta meningkatkan asupan serat pangan, sesuai anjuran Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan agar turut mempertahankan berat badan yang normal dan tetap sehat setelah puasa.

    Puasa Ramadan yang telah dilakukan dengan baik dan benar mendatangkan banyak kebaikan dalam pengendalian lemak, sistem hormon dan metabolik tubuh, serta latihan kedisiplinan dan kejujuran. Kebaikan yang telah diraih ini sebaiknya dijaga mulai Lebaran pertama dengan cara menghindari makan berlebihan dan setelahnya melaksanakan anjuran puasa Syawal atau puasa berselang (intermittent fasting), seperti puasa Syawal, puasa Senin dan Kamis, atau puasa lain yang dianjurkan bagi yang berkenan dan sesuai kemampuan.

    “Rayakan Lebaran dengan penuh kebahagiaan. Rasa bahagia juga turut meningkatkan imunitas tubuh yang kita perlukan untuk hidup sehat, baik di masa pandemi dan tidak. Rasa bahagia dalam silaturahmi tidak hanya bisa dilakukan dengan mudik tetapi bisa secara daring,” ujar Ahmad.

    Ia berharap masyarakat tetap memiliki kepedulian tinggi untuk menjaga kesehatan tubuh. Puasa juga diharapkan mendatangkan banyak kebaikan bagi kehidupan semua dan mencegah terjadinya kegemukan yang semakin meningkat di Indonesia dan berisiko memperparah pandemi.

    Baca juga: Puasa Syawal Bisa Bantu Mengendalikan Diri Hingga Jaga Berat Badan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.