Pentingnya Deteksi Dini untuk Cegah Hipertensi

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi cek tekanan darah. shutterstock.com

    Ilustrasi cek tekanan darah. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Hipertensi yakni saat tekanan darah di atas 140/90 mmHg yang tidak terkontrol bisa menempatkan penderitanya pada berbagai masalah kesehatan seperti stroke hingga masalah jantung. Pada kondisi pandemi COVID-19 saat ini, pemilik penyakit ini rentan terkena dan mengalami perburukan dibanding yang tanpa hipertensi.

    Spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, Badai Bhatara Tiksnadi, menekankan pentingnya gaya hidup sehat dan deteksi dini untuk mencegah hipertensi.

    Gaya hidup sehat ini mencakup membatasi konsumsi garam tidak melebihi 1 sendok teh per hari, melakukan aktivitas fisik teratur seperti jalan kaki, bersepeda, selama 30 menit per hari, minimal lima kali seminggu, menerapkan diet bergizi seimbang, mempertahankan berat badan ideal, tidak merokok dan menghindari asap rokok, serta menghindari minuman beralkohol.

    "Harus lebih banyak sayur dan buah. Semakin enak dan gurih makanan harus dicurigai kurang baik untuk kesehatan. Aktivitas fisik harus teratur, kalau bisa setiap hari, hindari asap rokok, alkohol," ujarnya.

    Badai mengungkapkan data di Indonesia yang melibatkan sekitar 13.000 partisipan menunjukkan 32 persen ternyata tidak tahu tekanan darahnya. Banyak yang bahkan tidak mengukur tekanan darah dalam setahun terakhir dan sekitar 14 persen orang dengan tekanan darah tinggi yang berobat. Temuan data ini semakin menunjang bukti tekanan darah tinggi yang tidak memunculkan keluhan kecuali sudah berat sehingga penyakit ini perlu diketahui lebih awal melalui deteksi dini.

    Badai menekankan pentingnya pengukuran tekanan darah sesuai panduan berulang kali, termasuk di rumah melalui metode CERAMAH atau cek tekanan darah di rumah, selain mengandalkan pemeriksaan di klinik atau fasilitas kesehatan.

    "Pengukuran tekanan sesuai panduan, kontrol sehingga bisa hidup lebih lama. Pengukuran menggunakan alat yang sudah tervalidasi sehingga akurat dilakukan berulang. Kalau sekali kurang akurat, kalau di klinik bisa cemas bisa terjadi pengukuran yang tidak ideal karena baru naik tangga ke lantai dua misalnya, karena suasana gaduh, maka pengukuran harus berulang," tutur Badai.

    Saat melakukan CERAMAH, usahakan tubuh dengan posisi rileks selama 2-5 menit. Lakukan pemeriksaan 2-3 kali dengan jangka waktu satu menit untuk mendapatkan data variasi tekanan darah. Terkait alat ukur tekanan darah, sebaiknya yang menggunakan manset dililitkan pada lengan dan alat tervalidasi.

    "Pengukuran tekanan darah di rumah mampu menegakkan diagnosis hipertensi yang tidak bisa satu kali pengukuran, terutama hipertensi terselubung, bisa memantau variasi tiba-tiba naik atau rendah, menilai efektivitas pengobatan, dosis, dan deteksi resistensi obat," ujar Badai. Rata-rata tekanan darah saat di rumah untuk diagnosis hipertensi yakni di atas 135/85 mmHg.

    Baca juga: Semakin Banyak Anak Muda Alami Hipertensi, Dokter Ingatkan Ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.