Jangan Asal Bercanda Fisik, Dampak Buruk Bagi Korban Body Shaming

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi body shaming. shutterstock.com

    Ilustrasi body shaming. shutterstock.com

    TEMPO.CO, JakartaBody shaming adalah perilaku menjelek-jelekkan dan mengomentari penampilan fisik orang lain. Perilaku ini sama saja dengan tindakan bullying. Alasan orang yang melakukan body shaming (body shamer) beragam, mulai dari ingin mencairkan suasana, mengundang gelak tawa, iseng belaka, hingga memang ingin menghina.

    Meski kerap diutarakan sebagai bentuk perhatian, ucapan seperti “Badanmu kurus banget, sih! Enggak sehat, loh,” atau, “Eh, kok kulitmu jadi hitam gitu, sih? Pakai sunblock, dong!” sudah termasuk tindakan body shaming. Tidak heran, perkataan seperti ini lebih sering membuat penerimanya sakit hati daripada merasa diperhatikan.

    Body shaming bisa terjadi secara langsung ataupun secara tidak langsung, misalnya di media sosial. Perilaku ini juga bisa terjadi di kalangan mana pun, pria maupun wanita, anak-anak maupun orang dewasa. Bahkan, body shaming juga bisa terjadi dalam hubungan percintaan, keluarga, atau lingkar pertemanan. Nyatanya perilaku body shaming ini dapat menimbulkan dampak buruk bagi korban. Dikutip dari berbagai sumber, berikut dampak buruk yang ditimbulkan dari body shaming:

    1. Menurunkan rasa percaya diri korban

    ADVERTISEMENT

    Guyonan yang mengarah ke fisik juga bisa dikategorikan sebagai body shamming. Meski hanya bercandaan, namun hal ini bisa menjadi penyebab seseorang menjadi tidak percaya diri. Seseorang yang insecure akan menarik diri dari lingkungan sekitar dan kehilangan kepercayaan diri.

    2. Membuat korban menutup diri

    Seseorang yang tidak percaya diri akan menarik diri dari lingkungan sekitar dan kehilangan kepercayaan diri. Jika sudah seperti ini, orang itu akan menjadi pendiam dan tidak banyak berinteraksi. Korban cenderung merasa bahwa orang-orang hanya akan melihatnya dari tampilan fisik sehingga ia enggan menunjukkan diri pada dunia luar.

    3. Melakukan hal ekstrem untuk memperbaiki kondisi fisik

    Korban body shaming memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melakukan hal-hal ekstrem demi memperbaiki fisiknya yang dirasa kurang. Misalnya saat seseorang sering dibilang gendut, orang tersebut langsung melakukan diet ekstrem yang bisa mengancam kesehatannya hanya agar terlihat kurus.

    4. Meningkatkan risiko terkena eating disorder

    Dampak body shaming terhadap kesehatan mental dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan makan atau eating disorder. Selain itu, salah satu dampak dari body shaming pada kesehatan mental adalah anoreksia. Gangguan ini termasuk hal ekstrem yang terjadi untuk menurunkan berat badan karena perlakukan buruk terhadap penampilannya.

    5. Depresi

    Korban body shaming mudah mengalami masalah psikologi seperti depresi. Meski tidak ada hubungan langsung antara body shaming dengan bunuh diri, depresi yang ditimbulkan oleh korban akan berkaitan. Depresi juga merupakan salah satu penyebab utama seseorang bunuh diri.

    WINDA OKTAVIA

    Baca: Awas Korban Body Shaming Bisa Bunuh Diri Hindari Perilaku ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?