Dikaji Ibnu Sina Hingga Goethe, Psikologi Warna Bisa Memahami Emosi Jiwa

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi warna (pixabay.com)

    ilustrasi warna (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Warna, adalah salah satu cara untuk menunjukkan identitas diri dan kelompok. Mulai dari klub sepak bola, seperti The Red atau The Blues atau The Red Devil, hingga identitas politik dan agama. Kuning, misalnya dalam jagat politik Tanah Air identik dengan Partai Golkar. Hijau, sering dikesankan sebagai warna keislaman atau bisa juga dunia militer.

    Warna, karenanya tak hanya soal memilih merah, hjau, kuning, biru dan seterusnya, tapi ada pilihan identitas dan sikap. Termasuk di dalamnya emosi dan sifat manusia, yang itu dipelajari secara khusus dalam psikologi warna.

    Secara keilmuan, psikologi warna sudah menjadi bahasan sejumlah ilmuwan. Adalah Johann Wolfgang von Goethe, sastrawan terkenal asal Jerman yang memperkenalkan Theory of Colours, yang juga sekaligus judul bukunya.

    Bagi Goethe, warna menyimpan dan memancarkan  kesan dan pengaruh tertentu atas emosi seseorang. Kuning, dinilai punya efek positif, menampilkan kesan gembira, suka cita. Adapun biru, bagi Goethe, dikesankan sebagai sesuatu yang negatif, memancarkan kesedihan.

    Jauh di masa lampau, ilmuwan Arab yang juga seorang dokter, Avicenna atau kita kenal juga sebagai Ibnu Sina, menyatakan warna dapat sebagai cara untuk mendiagnosis dan atau melihat tanda-tanda sebuah penyakit dalam tubuh manusia.      

    Secara umum, psikologi warna merupakan teori yang menjelaskan tentang pengaruh warna terhadap perasaan, suasana hati, emosi dan perilaku manusia. Tiap warna punya arti masing-masing. Misal saja arti warna merah tentu berbeda pengaruhnya dengan warna hijau.

    Persepsi tiap orang pun terhadap warna umumnya berbeda-beda. Mulai dari merah, kuning, hijau hingga nila dan ungu, hampir sebagian besar orang hidup di dunia yang penuh warna. Hampir setiap orang pun memiliki warna favorit mereka. Kendati demikian ada beberapa jenis warna yang memiliki arti yang universal atau sama bagi kebanyakan orang.

    Beberapa penelitian menunjukkan bagaimana warna memengaruhi kerja otak. Misalnya, kelompok warna merah memberi nuansa hangat, meliputi warna merah, jingga, dan kuning. Bahkan kelompok warna ini bisa membangkitkan berbagai emosi, mulai dari perasaan hangat dan nyaman hingga perasaan marah dan kebencian.

    Begitupun kelompok warna biru dikenal sebagai warna dingin, meliputi warna biru, ungu, dan hijau. Warna-warna tersebut dideskripsikan sebagai ketenangan hingga arti perasaan sedih atau diabaikan.

    Sedangkan warna hitam umumnya menggambarkan kemisteriusan, keberanian, kekuatan, atau rasa tidak bahagia. Bahkan warna gelap ini sering digunakan sebagai simbol ancaman atau kekuatan, namun juga dapat menjadi indikator kekuatan.

    Sebaliknya warna putih umumnya justru menggambarkan kesucian, kedamaian, kekosongan, dan kepolosan. dalam psikologi warna, putih dinilai  melambangkan awal yang baru, serta memberikan efek yang membuat ruang terasa lebih besar dan luas.

    RAUDATUL ADAWIYAH NASUTION

    Baca juga: Ungkap Kepribadian Lewat Warna: Pink Romantis, Warna Lainnya?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...