Cara Menolong Orang Serangan Jantung seperti Kasus Markis Kido

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hendra Setiawan (kiri) dan Markis Kido merayakan perolehan meraih medali emas di ganda putra bulu tangkis di Olimpiade Beijing 2008, 16 Agustus 2008. Duet Markis-Hendra telah membuahkan banyak gelar termasuk 7 medali emas SEA Games. REUTERS/Beawiharta

    Hendra Setiawan (kiri) dan Markis Kido merayakan perolehan meraih medali emas di ganda putra bulu tangkis di Olimpiade Beijing 2008, 16 Agustus 2008. Duet Markis-Hendra telah membuahkan banyak gelar termasuk 7 medali emas SEA Games. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan pebulutangkis Markis Kido wafat karena terkena serangan jantung saat bermain bulu tangkis pada Senin, 14 Juni 2021. Saat melakukan pertolongan pertama pada kasus serangan jantung hingga tak sadarkan diri, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya jangan mendudukkan tetapi membaringkannya.

    "Seorang yang kolaps atau pingsan atau tidak sadarkan diri jangan didudukkan, harusnya dibaringkan," ujar dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Vito A. Damay.

    Vito mengatakan membaringkan orang yang terkena serangan jantung membuat aliran darah ke otak lebih baik karena posisi sejajar dengan jantung yang memompa darah.

    "Kalau perlu malah kakinya diangkat 30 cm agar bisa membantu aliran balik sirkulasi darah ke jantung agar dipompa ke seluruh tubuh termasuk ke otak, akan membantu orang yang pingsan cepat sadar penuh," katanya.

    Selain itu, jangan berikan dia minum hingga benar-benar sadar dan bisa minum sendiri. Hal ini untuk menghindari korban tersedak dan semakin berat kondisinya. Air bisa masuk ke saluran napas karena dia tak sadar dan menelan spontan. Jadi, tunggu dia sadar dulu lalu beri minum. Cara ini lebih aman.

    Vito mengingatkan, saat seseorang pingsan atau hilang kesadaran mendadak, Anda perlu membangunkannya walau dia tidak bisa sadar penuh tetapi masih ada napas spontan dan nadi berdenyut.

    "Kalau henti jantung dipanggil tidak akan respons, napas spontan tidak ada atau mungkin mengorok dan denyut pun tidak teraba, maka segera lakukan CPR," tuturnya.

    Salah satu metode CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau RJP (resusitasi jantung paru) yang bisa dilakukan bila bukan profesional kesehatan ialah pijat jantung. Saat melakukannya, Anda juga harus punya teknik yang benar.

    Menurut Vito, awam bahkan atlet perlu paham teknik CPR yang benar, apalagi setelah kasus serangan jantung hingga tak sadarkan diri yang menimpa beberapa figur publik seperti gelandang tim nasional Denmark, Christian Eriksen, dan pebulutangkis Markis Kido. PERKI sendiri mengadakan seminar untuk awam khusus untuk CPR agar dapat menolong rekan atau orang di sekitar yang terkena serangan jantung atau henti jantung dan agar kasus serangan jantung yang sebenarnya bisa diselamatkan tak berujung kematian.

    Buat yang tertarik mendapatkan pengetahuan mengenai hal ini bisa menghubungi nomor (021) 57852940. Pengetahuan mengenai ciri serangan atau henti jantung yang terjadi begitu cepat juga perlu dipahami. Tetapi, lebih dari itu penting juga untuk mencegahnya jangan sampai terjadi.

    "Kemarin saya menanyakan PSSI, sekarang saya menanyakan PBSI. Maukah kira kira kerjasama dengan PERKI untuk pelatihan basic life support awam," kata Vito.

    Baca juga: Dokter Jantung Ajarkan Cara CPR Bagi yang Awam, Lakukan Ketimbang Fatal


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.