Efikasi Vaksin Sinopharm dan Negara Mana Saja yang Menggunakan

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menunjukkan vaksin sinopharm saat Vaksinasi Gotong Royong Perbanas di Lapangan Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Sabtu, 19 Juni 2021. Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) bekerjasama dengan Bio Farma dan Kimia Farma menyiapkan 130.000 dosis vaksin sinopharm pada  program vaksinasi gotong royong secara Mandiri bagi 65.000 karyawan dari 48 bank pemerintah, swasta, nasional, asing dan daerah untuk mencapai target herd immunity di bulan Agustus 2021. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Petugas menunjukkan vaksin sinopharm saat Vaksinasi Gotong Royong Perbanas di Lapangan Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Sabtu, 19 Juni 2021. Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) bekerjasama dengan Bio Farma dan Kimia Farma menyiapkan 130.000 dosis vaksin sinopharm pada program vaksinasi gotong royong secara Mandiri bagi 65.000 karyawan dari 48 bank pemerintah, swasta, nasional, asing dan daerah untuk mencapai target herd immunity di bulan Agustus 2021. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah menyediakan berbagai jenis vaksin Covid-19 untuk mengatasi virus corona. Vaksin yang pertama hadir adalah Sinovac, kemudian vaksin AstraZeneca, dan sekarang tersedia jenis vaksin Sinopharm.

    Vaksin Sinopharm dibuat di Cina. Sama seperti vaksin AstraZeneca, vaksin Sinopharm di Indonesia tersedia melalui skema COVAX atau Covid-19 Vaccines Global Access. Ini adalah program kerja sama antar-negara untuk menyediakan vaksin yang diinisiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

    Vaksin Sinopharm telah diuji di beberapa negara, di antaranya Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, dan Yordania. Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Zullies Ikawati mengatakan vaksin Sinopharm menggunakan platform yang sama dengan vaksin Sinovac, yaitu virus yang diinaktivasi.

    Dalam uji klinik di Uni Emirat Arab, efikasi vaksin Sinopharm mencapai 78 persen. "Vaksin ini dapat digunakan mulai usia 18 tahun sampai lansia," kata Zullies dalam keterangan tertulis, Senin 21 Jui 2021. Lantaran memiliki platform yang sama dengan vaksin Sinovac, maka profil efek sampingnya juga mirip.

    ADVERTISEMENT

    Profil yang dimaksud Zullies antara lain frekuensi kejadian efek samping 0,01 persen atau masuk kategori sangat jarang. Menurut Zullies, efek samping yang dijumpai dalam uji klinik adalah efek samping lokal yang ringan, seperti nyeri atau kemerahan di area suntik, dan efek samping sistemik berupa sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, diare, dan batuk.

    Efek samping tersebut bisa segera pulih dan umumnya tidak memerlukan pengobatan. Masyarakat diminta tidak perlu khawatir dengan efek samping vaksinasi, baik vaksin AstraZeneca maupun vaksin Sinopharm. Secara umum, dari hasil eveluasi terhadap uji klinik yang telah melibatkan ribuan orang di berbagai negara, manfaat vaksin jauh melebihi risiko efek sampingnya.

    Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi atau KIPI secara umum juga bersifat ringan sampai sedang. Dan kondisi ini bersifat individual, atau tergantung kesehatan individu. "Adanya KIPI juga menunjukkan bahwa vaksinnya sedang bekerja," katanya.

    Hanya saja, jika kejadian pasca-imunisasi itu terasa kian berat, segera melapor ke nomor kontak yang tertera pada sertifikat vaksinasi agar segera tertangani. Komite KIPI juga akan mengevaluasi setiap kejadian dan menganalisis hubungannya dengan vaksin. Ini menjadi data yang penting dalam program vaksinasi.

    Baca juga:
    Satu Juta Dosis Vaksin Sinopharm Bakal Tiba Hari Ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?