Kisah Produsen dan Distributor Video Porno, Suka Merekam Tanpa Diketahui Korban

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kekerasan seksual. Freepik.com

    Ilustrasi kekerasan seksual. Freepik.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Industri pornografi online di Indonesia diperkirakan sudah bertumbuh meski bergerak di bawah tanah. Seorang pria berinisial R, 35 tahun, mengklaim sebagai produsen sekaligus distributor video porno. Tempo menemukan R setelah berkomunikasi dengan sejumlah pelaku prostitusi online.

    R memiliki kamar di apartemen di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Kamar itu sudah dipenuhi kamera di berbagai sudut. Ia merekrut “aktor” pria untuk menjerat korban yang umumnya perempuan dan berusia muda. Ia memberikan honor Rp 1-5 juta kepada setiap aktor jika berhasil menghasilkan sebuah video cabul.

    “Aktor” suruhan akan merayu korbannya untuk berhubungan intim di lokasi yang sudah disiapkan R. Saat peristiwa itu terjadi, kamera R merekam setiap adegan tanpa setahu korban.

    Mereka mencari korban di berbagai komunitas media sosial atau aplikasi kencan. Dalam satu pekan, R mengklaim dapat memproduksi 10 video berdurasi minimal 1 jam. Video-video yang ia produksi sendiri itu dijual seharga Rp 1-2 juta untuk tiap satu kali unduh.

    ADVERTISEMENT

    Pelanggan konten eksklusifnya kebanyakan berasal dari luar negeri, seperti India, Timur Tengah, dan Singapura. Selain memproduksi sendiri, R sesekali meretas dan mengambil konten menggunakan aplikasi khusus. Karyawan bagian teknologi informasi di sebuah perusahaan ini mengaku mendapatkan uang hingga Rp 150 juta per bulan dari bisnis haram itu.

    Ada juga pengakuan salah seorang penjual video porno berinisial D, 45 tahun. Ia juga admin di channel berisi konten cabul di Telegram dan aplikasi khusus. Untuk grup ini, ia memungut tarif Rp 100.000-150.000 kepada tiap anggota yang ingin bergabung. Ia menjaring kliennya lewat akun Twitter. Caranya, ia mengunggah video pendek adegan cabul, lalu memberikan tautan yang langsung terhubung dengan channel yang dikelolanya. Ia mengaku bisa meraup hingga Rp 10 juta setiap bulan dari bisnis ini.

    Baca: Kekerasan Seksual Online Meningkat di Indonesia

    DINI PRAMITA| DIKO OKTARA | LINDA TRIANITA | MITRA TARIGAN | MAJALAH TEMPO

    Kolaborasi dengan Judith Nellson Institute - Asian Stories


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?