Mengenal Hiperseks dan Cara Mengatasinya

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Proses persalinan normal tidak secara langsung memengaruhi kehidupan seks suami dan istri. (Foto: Cottonbro)

    Proses persalinan normal tidak secara langsung memengaruhi kehidupan seks suami dan istri. (Foto: Cottonbro)

    TEMPO.CO, JakartaHiperseks merupakan perilaku seksual kompulsif yang mencerminkan suatu kegemaran berlebihan pada fantasi, hasrat, dan perilaku seksual hingga sulit dikontrol. Hiperseks bisa menyebabkan penderitanya mengalami tekanan psikis dan gangguan kesehatan.

    Perilaku ini tidak hanya terbatas pada hubungan seksual saja, melainkan juga mencakup masturbasi, cybersex, menonton porno, dan sebagainya.

    Hiperseks bisa disebabkan oleh beragam faktor, seperti ganggan keseimbangan neurotransmitter di otak (terutama serotonin, dopamin, dan norepinefrin), perubahan jaras kimia otak, dan kondisi lain yang mempengaruhi fungsi otak seperti epilepsie serta demensia.

    Untuk itu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi hiperseks. Dikutip dari berbagai sumber, cara tersebut yaitu:

    Dukungan

    Dukungan adalah salah satu faktor penting untuk mengobati hiperseks. Seperti halnya pecandu obat atau alkohol, penderita sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat.

    Menghindari hubungan seksual

    Hindari tempat dan suasana yang bisa membangkitkan hasrat seksual, jauhkan pikiran dari hal-hal yang memicu timbulnya hasrat melakukan hubungan seks.

    Konsultasi ke ahlinya

    Ketika usaha untuk mengobati hiperseks tidak terasa begitu efektif, maka penderita harus berkonsultasi pada ahlinya.

    WINDA OKTAVIA (Magang)

     

    Baca juga:

    Menurut Studi Kebiasaan Bersyukur Tingkatkan Kepuasan Seksual Pasangan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.