Tips Memulai Bisnis Fashion

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto: Dok. Jakarta Fashion Week 2019/BISNIS.COM

    Foto: Dok. Jakarta Fashion Week 2019/BISNIS.COM

    TEMPO.CO, Jakarta - Bisnis fashion adalah lahan usaha yang menggiurkan bagi banyak orang. Apalagi bila nama label buatan sendiri dikenal oleh banyak orang.

    Menembus pasar fashion dengan merek yang banyak dikenal orang tentunya jadi idaman, apalagi jika mampu meraup keuntungan fantastis. Namun, seringkali keinginan tersebut sulit terealisasi karena minimnya latar belakang pendidikan dan modal.

    Namun, untuk membangun bisnis fashion tidak melulu butuh latar belakang sekolah mode dan modal fantastis. Kreatif dan juga beberapa strategi adalah hal yang paling utama dalam merintis usaha ini. Dilansir dari Fashionista, berikut adalah tips membangun bisnis fashion bagi pemula.

    Berperilaku sebagai pebisnis
    Untuk membangun label fashion yang sukses, Anda harus berpikir seperti pengusaha sejak awal. Itu berarti memahami cara kerja bisnis dan menyusun rencana yang menjabarkan tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang.

    Setelah perusahaan berdiri dan berjalan, bangun hubungan yang solid dengan produsen, pembeli, dan investor. Lakukan secara konsisten, dapat diandalkan, dan jujur tentang apa yang dilakukan. Menjadi pengusaha yang baik juga berarti memiliki rasa lapar dan tekad untuk memberikan segalanya.

    Mengenali pentingnya pengembangan produk
    Mulailah dari yang kecil dengan satu lini produk kemudian kembangkan merek lain. Namun, kerjakan dengan cara yang juga konsisten dan meneruskan DNA desain yang sama. Kemudian, tetapkan harga yang tepat untuk produk fashion. Mulailah dengan jumlah yang bersedia dibayar oleh pelanggan. Lalu, hitung berapa banyak yang telah dibelanjakan untuk bahan dan manufaktur sambil tetap menghasilkan keuntungan.

    Tonjolkan keunikan
    Penting untuk memiliki visi yang kuat tentang identitas merek sejak awal. Desainer muda perlu memahami apa mau mereka dan mengapa memulai usaha sendiri. Mulailah dengan rencana pemasaran yang menetapkan pelanggan mana yang ditargetkan dan bagaimana akan mendekati mereka.

    Memahami dan mengatasi tantangan produksi
    Bisnis baru sering kali kesulitan dengan produksi. Itu karena pada bisnis fashion tahap awal biasanya desainer akan bekerjasama dengan beragam produsen, seperti penjahit, tempat sablon, atau bahkan produsen tekstil. Lalu, Anda akan mendapat pesanan dalam jumlah kecil pada awalnya dan itu yang membuat Anda berada dalam posisi tawar menawar yang buruk dengan produsen. Ini bisa jadi sulit, tetapi penting untuk membayar segera agar produksi tidak tertunda. Jika terlalu lama, Anda bisa terlambat mengirim ke pengecer dan merusak hubungan.

    Kunci penjualan dan distribusi
    Agar sukses, Anda harus mendapatkan perhatian pembeli. Mereka ingin tahu apa yang unik tentang produk Anda, bagaimana produk itu cocok dengan mereka. Jika berencana untuk menjual secara online, ketahuilah produk harus memiliki detail yang jelas. Pakaian apapun dengan bentuk atau ukuran yang tidak menampilkan detail deskripsi yang jelas akan sulit dijual di situs web.

    Anda bisa memulainya dengan menjual di e-commerce pilihan. Pada saat sudah memiliki keuntungan atau balik modal, tak ada salahnya untuk dialokasikan membuat situs web sendiri. Itu akan memaksimalkan marjin keuntungan dan memberi akses langsung ke pelanggan.

    Memahami pentingnya arus kas, pendanaan dan pembiayaan
    Salah satu tantangan terbesar yang akan dihadapi sebagai bisnis fashion baru adalah arus kas keluar. Biasanya dana harus keluar untuk pengembangan produk dan manufaktur. Sejak awal, Anda harus tahu dari mana dana berasal dan bagaimana cara mengendalikan uang tersebut. Jadi, pikirkan baik-baik dan jangan biarkan uang terlalu banyak keluar.

    Baca juga: Kreativitas Anak Jadi Lahan Bisnis, Cek Alasannya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.