Penyebab dan Cara Mengatasi Burnout Menurut Psikiater

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perempuan stres/depresi. Shutterstock.com

    Ilustrasi perempuan stres/depresi. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Tak sedikit orang merasa terlalu lelah hampir sepanjang waktu, mendadak malas dan bosan dengan rutinitas sehari-hari, serta tidak ingin melakukan apapun. Rutinitas dan tumpukan pekerjaan bisa membuat orang rentan mengalami stres hingga depresi. Kondisi ini dikenal dengan istilah sindrom burnout atau job burnout.

    Burnout merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi stres berat yang dipicu oleh pekerjaan. Seringkali orang tidak menyadari mengalami burnout dan ini berdampak pada produktivitas. Padahal, burnout tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan perlu ditangani dengan tepat agar tidak berakibat buruk pada kesehatan fisik dan mental.

    Ida Rochmawati, psikiater dan konselor keluarga, melalui laman Instagramnya, menyebutkan gejala-gejala burnout, yakni lelah berkepanjangan atau seolah kehabisan energi, meningkatnya pemisahan diri dari hal-hal yang terkait dengan pekerjaan atau mental distance, dan memiliki perasaan sinis yang terkait dengan pekerjaan, serta produktivitas yang menurun.

    Lantas, mengapa wanita rentan mengalami burnout? Menurutnya, beban dan peran ganda serta konflik peran, pengabaian diri atas nama kewajiban, kurangnya dukungan sosial, serta faktor hormonal menjadi penyebab wanita rentan mengalami burnout. Saat mengalami burnout, Ida menyarankan beberapa tips berikut.

    -Buat skala prioritas, sederhanakan target
    -Komunikasikan ke orang terdekat atau orang yang signifikan tentang kondisi
    -Ambil waktu untuk keluar dari rutinitas atau cuti
    -Lakukan hobi
    -Jalankan gaya hidup sehat, seperti makan makanan bergizi, olahraga, dan tidur yang cukup
    -Relaksasi
    -Cari suasana baru atau bertemu dengan orang-orang baru

    Apabila fungsi peran dan fungsi sosial terganggu yang berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan serta keluhan berkepanjangan yang memicu penyakit fisik atau keluhan fisik, Ida menyarankan segera menemui psikiater. Apapun tugas dan tanggung jawab, tetaplah untuk peduli pada diri sendiri.

    “Peduli pada diri sendiri bukan semata untuk kepentingan diri sendiri tetapi juga untuk mereka yang kita sayangi,” kata Ida.

    Baca juga: Cara Atasi Gangguan Psikologis Akibat Kelelahan Fisik dan Mental


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.