Kenali 10 Kondisi Penyebab Kadar Oksigen di dalam Darah Berkurang

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi oksigen (pixabay.com)

    ilustrasi oksigen (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Hipoksemia didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana tekanan oksigen arteri atau tekanan parsial oksigen dalam darah berada di bawah angka normal.

    Biasanya, berkisar di antara 80 dan 100 mmHg. Ketika darah tak memiliki cukup oksigen, maka hipoksemia dapat terjadi. Kondisi hipoksemia dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. 

    Dalam kondisi seperti sekarang, saat kasus Covid-19 terus melonjak, kebutuhan akan oksigen juga turut meningkat. Berkurangnya saturasi oksigen pada banyak pasien Covid-19, membuat permintaan tabung oksigen meningkat.  

    Oksigen merupakan elemen penting bagi kehidupan. Tanpa adanya oksigen, manusia hanya dapat bertahan hidup selama beberapa menit saja. Kebutuhan oksigen dengan pengiriman untuk menjaga homeostasis dalam tubuh haruslah seimbang.

    Sistem organ utama yang bertanggung jawab dalam mengirimkan oksigen dalam tubuh dan mempertahankan homeostasis adalah sistem pernapasan dan kardiovaskular. Fungsi abnormal dari salah satunya akan menyebabkan perkembangan hipoksemia dan konsekuensi yang merugikan.

    Hipoksemia didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana tekanan oksigen arteri atau tekanan parsial oksigen dalam darah berada di bawah angka normal. Biasanya, berkisar di antara 80 dan 100 mmHg. Ketika darah tak memiliki cukup oksigen, maka hipoksemia dapat terjadi.

    Kondisi hipoksemia dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Mengutip dari Physiopedia, di antara kondisi tersebut adalah:

    1. Anemia

    Anemi merupakan kondisi di mana tak ada cukup sel darah merah untuk membawa oksigen secara efektif. Oleh sebab itu itu, penderita anemia mungkin memiliki kadar oksigen yang rendah di dalam darahnya

    1. Asma

    Asma adalah suatu kondisi yang mempengaruhi saluran udara. Ketika penderitanya mengalami serangan asma, ia mungkin merasa sangat sulit untuk bernapas.

    1. Emboli paru

    Emboli paru adalah penyumbatan arteri di paru-paru oleh adanya gumpalan yang berpindah dari tempat lain di tubuh melalui aliran darah atau emboli. Emboli paru memiliki gejala termasuk sesak napas dan nyeri dada, terutama saat menarik napas.

    1. Paru-paru kolaps (Atelektasis)

    Atelektasis menggambarkan kondisi di mana daerah parenkim paru yang kolaps dan tidak aerasi

    1. Cacat atau penyakit jantung bawaan
    2. Fibrosis paru

    Kondisi ini menggambarkan kumpulan penyakit yang mengakibatkan kerusakan paru, berujung fibrosis dan hilangnya elastisitas paru-paru.

    1. Pneumonia
    2. Sleep Apnea
    3. Edema paru

    Ederma paru menggambarkan kondisi di mana cairan menumpuk di alveoli paru-paru yang menyebabkan peningkatan kerja pernapasan. Akumulasi cairan ini akan mengganggu pertukaran gas, sehingga dapat menyebabkan gagal napas.

    1. Penyakit paru obstruktif kronik

    Penyakit ini ditandai dengan keterbatasan aliran udara progresif dan kerusakan jaringan. Penghancuran dinding alveoli dan kapiler sekitarnya dapat menyebabkan terjadinya masalah dengan pertukaran oksigen yang dapat menyebabkan hipoksemia

    Itulah beberapa kondisi yang dapat menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah atau hipoksemia. Seseorang dengan kondisi tersebut, dapat mengalami hipoksemia.

    ANNISA FEBIOLA

    Baca juga: Apa Itu Tabung Oksigen dan Ragam Kegunaannya Saat Menyuplai Oksigen ke Tubuh


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.