Gangguan Pendengaran Bisa Hambat Perkembangan Kualitas Manusia

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang terapis memberikan terapi sengatan lebah pada pasien di klinik Rateb Samour, Gaza, Palestina, 11 April 2016. Ratusan pasien terapi gigitan lebah ini mengalami penyakit seperti rambut rontok, cerebral palsy, epilepsi, gangguan tulang belakang, masalah pendengaran, alergi hidung, hingga kanker. REUTERS

    Seorang terapis memberikan terapi sengatan lebah pada pasien di klinik Rateb Samour, Gaza, Palestina, 11 April 2016. Ratusan pasien terapi gigitan lebah ini mengalami penyakit seperti rambut rontok, cerebral palsy, epilepsi, gangguan tulang belakang, masalah pendengaran, alergi hidung, hingga kanker. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Manusia memiliki beberapa indera, salah satunya adalah indera pendengaran. Merawat indera pendengaran merupakan perilaku yang penting.

    Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu mengatakan indera pendengaran yang tidak dirawat dengan baik bisa mengalami gangguan bahkan ketulian. Dampak yang dirasakan akan bermacam-macam, tidak hanya bagi individu penderita tapi bisa hingga skala nasional.

    Orang yang mengalami gangguan pendengaran maka perkembangan kognitif, psikologi, dan sosialnya terganggu. “Jika sudah terdampak pada perkembangan manusia, terdapat kerentanan untuk pada kualitas manusia yang akan rendah dan daya saing yang akan menurun di pangsa pasar,” kata Maxi dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan, Kamis, 9 Juli 2021.

    Dalam ranking disabilitas secara global, penyandang gangguan pendengaran berada di peringkat keempat terbanyak. Berdasarkan data WHO tahun 2018, terdapat 6,1 persen penduduk dunia yang mengalami gangguan pendengaran. Angka tersebut setara dengan 466 juta orang yang terdiri atas 93 persen orang dewasa dan 7 persen anak-anak. 

    Selain itu, WHO juga memperkirakan dengan tingginya penderita gangguan pendengaran dan ketulian ini dapat memberi dampak pada perekonomian. Negara dapat mengalami kerugian hingga US$750 miliar per tahun.

    Sebabnya perlu peduli terhadap kesehatan indera pendengaran. Rasa peduli ini bisa diejawantahkan dimulai dengan mendeteksi dini gangguan pendengaran.

    Bila sudah terdeteksi sejak dini, gangguan kesehatan pendengaran dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tepat. Deteksi dini ini dapat dilakukan dengan rutin melakukan pengecekan telinga dan segera ke dokter jika merasa sakit..

    Setelah melakukan deteksi dini, jika benar terjadi gangguan pendengaran, rehabilitasi yang akan dilakukan juga dapat dilakukan secepatnya. Sehingga, terdapat peluang untuk fungsi-fungsi pendengaran kembali.

    JACINDA NUURUN ADDUNYAA (MAGANG)

    Baca juga:

    Mewaspadai Gangguan Pendengaran Kongenital pada Anak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.