Sabu-Sabu Hanya Hilangkan Stres Sesaat, Setelahnya Bisa Berujung Pada Kematian

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Sabu-sabu. Dok. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Ilustrasi Sabu-sabu. Dok. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktris Nia Ramadhani dan suaminya, Ardi Bakrie, ditangkap polisi karena diduga mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu. Polisi mengatakan, Nia memakai narkoba karena stres dengan tekanan pekerjaan dan situasi pandemi Covid-19.

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan Nia Ramadhani bersama suaminya Ardi Bakrie telah mengonsumsi sabu sejak lima bulan terakhir.

    Beberapa artis yang sempat terjerat kasus narkoba selain Nia juga berdalih menggunakan sabu-sabu untuk menghilangkan stres dan membantu pekerjaannya.

    Namun, apakah sabu benar-benar bisa menghilangkan stres?

    Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari Klinik Angsamerah, Ratna Mardiati mengatakan narkoba jenis sabu merupakan stimulan yang bisa merangsang orang untuk aktif dan tidak mudah lelah dalam beraktivitas. "Namun dapat menyebabkan efek yang serius bagi kesehatan dalam jangka pendek maupun jangka panjang," kata Ratna pada Kamis, 8 Juli 2021.

    Berbagai sumber menjelaskan amfetamin yang ada pada sabu-sabu memang dapat meningkatkan pasokan energi dalam tubuh. Sehingga pemakainya akan merasa lebih bersemangat. Pada tahap tertentu, sabu dapat memicu efek samping berupa rasa senang berlebihan.

    Namun efek menyenangkan dari sabu-sabu tersebut hanya berlangsung selama 20-90 menit setelah penggunaan.

    Setelahnya timbul efek-efek lain yang cenderung merugikan kesehatan, seperti halusinasi, hilangnya nafsu makan, tekanan darah meningkat, bahkan kematian.

    RIZQI AKBAR (MAGANG)

    Baca Juga:

    Nia Ramadhani - Ardi Bakrie 5 Bulan Pakai Narkoba Jenis Sabu, Ini Efek ke Organ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.