Simak Perbedaan Anosmia karena Covid-19 dengan Flu Biasa

Reporter:
Editor:

Nurhadi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasien COVID-19 dirawat di tenda darurat di RSUD Kramat Jati, Jakarta, Jumat, 25 Juni 2021. Pemprov DKI menambah kapasitas Rumah Sakit COVID-19 yang semula sebanyak 103 menjadi 140 RS khusus COVID-19. Tenda darurat pun dipasang di halaman RSUD Kramat Jati dikarenakan melebihi kapasitas. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pasien COVID-19 dirawat di tenda darurat di RSUD Kramat Jati, Jakarta, Jumat, 25 Juni 2021. Pemprov DKI menambah kapasitas Rumah Sakit COVID-19 yang semula sebanyak 103 menjadi 140 RS khusus COVID-19. Tenda darurat pun dipasang di halaman RSUD Kramat Jati dikarenakan melebihi kapasitas. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Perbedaan anosmia karena Covid-19 dan flu yang mendasar tentu adalah penyebabnya. Dilansir dari laman Hopkins Medicine, anosmia karena Covid-19 disebabkan virus SARS-CoV-2, sedangkan anosmia karena flu disebabkan salah satu dari beberapa jenis strain influenza yang berbeda dan beredar tiap tahun.

    Berdasarkan penelitian para ahli dari University of East Anglia pada 2020, anosmia dapat terjadi kepada 34-98 persen penderita Covid-19. Dalam penelitian tersebut, para peneliti menguji kapasitas penciuman dan pengecapan dari 10 orang dengan flu berat, 10 orang positif Covid-19, dan 10 orang sehat sebagai kelompok kontrol.

    Hasil penelitian itu mengungkap bahwa orang dengan positif Covid-19 kehilangan penciuman lebih mendalam dibanding dua kelompok lainnya. Penelitian ini juga membuktikan perbedaan anosma pada orang positif Covid-19 dengan orang pengidap flu.

    Perbedaannya yaitu orang positif Covid-19 tidak hanya tidak bisa mencium bau, namun juga tidak bisa membedakan rasa pahit dan manis. Pengidap flu berat mungkin tidak bisa membau seperti penderita Covid-19, tapi mereka masih bisa membedakan rasa.

    “Ini sangat menarik karena ini berarti tes bau dan rasa dapat digunakan untuk membedakan antara pasien Covid-19 dan orang-orang dengan pilek atau flu biasa,” ujar peneliti utama dari University East Anglia’s Medical School, Carl Philpott, yang dikutip Tempo dari laman Science Focus, Rabu, 19 Agustus 2020.

    Meskipun tes seperti itu, lanjut Philpott, tidak dapat menggantikan tes swab, namun tes bau dan rasa dapat digunakan ketika tes konvensional tidak tersedia atau ketika diperlukan skring cepat-terutama pada Unit Gawat Darurat (UGD), tingkat perawatan primer, dan bandara.

    Anosmia yang disebabkan oleh flu juga lebih mudah hilang dibandingkan dengan anosmia yang disebabkan oleh Covid-19. Anosmia karena flu biasa hanya butuh waktu sekitar seminggu untuk hilang, sementara anosmia karena Covid-19 bahkan bisa membutuhkan waktu hingga satu sampai dua bulan. 

    AMELIA RAHIMA 

    Baca juga: Virus Corona Sebabkan Anosmia, Pulihkan dengan Trik Berikut


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.