Mengapa Saat Bangun Tidur Kita Berasa Lapar? Ini Penjelasannya

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita bangun tidur. Freepik.com/Tirachardz

    Ilustrasi wanita bangun tidur. Freepik.com/Tirachardz

    TEMPO.CO, Jakarta - Rasa lapar setelah bangun tidur banyak dialami beberapa orang, walaupun tidur dijelaskan sebagai kondisi tubuh beristirahat, sejatinya metabolisme dalam tubuh tetap berjalan.

    Dijelaskan ada dua hormon jadi bagian integral dari rasa lapar dan nafsu makan yakni hormon leptin dan ghrelin, kedua hormon ini  aktif saat tubuh tertidur.

    Walaupun tubuh tidur, porsi waktu yang tidak sesuai dengan anjuran lama waktu tidur alias kurang tidur berpengaruh besar terhadap perilaku lapar. Alasannya saat tubuh kurang tidur maka kadar hormone ghrelin mengalami peningkatan yang notabenenya penyebab rasa lapar dan nafsu makan.

    Makanya saat terjaga kesempatan  untuk makan lebih mungkin dan lebih banyak.  Kurang tidur juga berpengaruh langsung terhadap cara pikir individu terhadap satu makanan.

    Bagian otak (Hipotalamus) yang bekerja mengatur persepsi. Mengutip dari laman sleepfoundation.org menjelaskan bahwa saat kurang tidur otak melihat makanan menjadi satu hal positif, sehingga kita lebih rentan untuk makan terlalu banyak.

    Kondisi tubuh yang tidak cukup makan, dijelaskan menurut ketentuan Dietary Guidelines 2015–2020 kebutuhan pemenuhan kalori orang dewasa untuk perempuan berjumlah   1.600–2.400 kalori per hari dan bagi pria, kisarannya adalah 2.000–3.000 kalori.

    Saat kebutuhan diatas tidak dipenuhi dengan baik atau bahkan tidak seimbang sesuai tingkat mobilitas aktivitas individu cenderung mempengaruhi perilaku lapar.

    Artinya, jika saja seorang individu memiliki mobilitas atau kegiatan aktivitas yang banyak dan jumlah kalori yang dibutuhkan tubuh tidak terpenuhi risiko lapar tak dapat dihindari. Tak hanya itu saja, perilaku di atas juga berkaitan dengan aktivitas olahraga.

    Aktivitas olahraga yang dilakukan pada siang hari akan banyak menghabiskan sejumlah kalori di dalam tubuh, jika kebutuhan kalori pada siang hari tidak mencukupi kemungkinan akan memberikan sinyal pada tubuh bahwa membutuhkan sejumlah energi yang sebelumnya sudah habis digunakan untuk aktivitas olahraga.

    Selain itu perilaku yang tidak baik seperti makan saat malam hari atau yang dikenal mentong, bukan lah satu hal asing bagi masyarakat Indonesia, merujuk pada National Eating Disorders Association (OSFED) kebiasaan tersebut  masuk kategori serius dan mencakup semua yang dapat mencakup sindrom makan malam. Hal ini biasanya menyebabkan seseorang untuk secara teratur bangun perlu makan di malam hari karena rasa lapar.

    TIKA AYU

    Baca juga: Sebab Orang Malas Sarapan, Tidak Lapar atau Masalah Kesehatan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.