Kenali Ageusia, Hilangannya Kemampuan Lidah Mencecap Rasa

Reporter:
Editor:

Nurhadi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pria periksa lidah ke dokter. shutterstock.com

    Ilustrasi pria periksa lidah ke dokter. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kehilangan kemampuan mengecap pada lidah selama masa pandemi Covid-19 dikaitkan dengan gejala infeksi virus Corona. Dalam bahasa medis, kasus lidah tidak dapat mencecap rasa ini disebut dengan Ageusia.

    Hilangnya kemampuan mengecap rasa pada pasien Covid-19 disebabkan oleh infeksi virus pada bagian mulut sehingga menyebabkan terjadinya perubahan produksi maupun kualitas air liur. Kondisi itulah yang menyebabkan lidah kehilangan kemampuan merasa.

    Di luar isu Covid-19, ageusia sebenarnya merupakan kondisi yang cukup langka. Ada beberapa pengkategorian terhadap kelainan fungsi indra ini. Antara lain hypogeusia atau penurunan kepekaan terhadap semua pengecap, hyperguesia atau peningkatan kepekaan pengecapan, dysgeusia atau persepsi tidak menyenangkan dari indra pengecap, dan phantogeusia atau persepsi rasa yang terjadi tanpa adanya pengecap.

    Dilansir dari NCBI, kendati ageusia bukanlah kondisi yang mengancam jiwa, namun dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan, dan dalam beberapa kejadian dapat mengakibatkan masalah medis dan memberi dampak psikologis yang parah pada pasien.

    Selain karena infeksi virus Corona, ada berbagai kondisi yang dapat menyebabkan ageusia, yaitu di antaranya kerusakan saraf pengecap yaitu saraf lingual dan glossopharyngeal di bagian anterior dan posterior. Selain itu, defisiensi diet, kondisi sistemik seperti hipotiroidisme, diabetes mellitus, anemia pernisiosa, sindrom Sjogren, dan penyakit Crohn juga diyakini dapat menyebabkan kelainan ini.

    Penyebab lainnya lesi saraf kranial yang mempengaruhi fungsi gustatorik termasuk neuritis akibat herpes zoster, diseksi arteri servikal, meningioma atau neurinoma dan lesi neoplastik yang mengenai dasar tengkorak, neuralgia, dan polineuropati karena kondisi seperti difteri, porfiria, lupus, atau amiloidosis.

    Pasien dengan kanker di daerah kepala dan leher yang menerima radioterapi juga dapat mengalami ageusia. Hal ini lantaran terapi radiasi dapat melukai indra perasa yang mentransmisikan saraf, sehingga mempengaruhi aliran saliva dengan merusak kelenjar saliva, yang mengakibatkan disfungsi gustatory.

    Selian faktor fisik, kekurangan seng juga bertanggung jawab atas kelainan kemampuan lidah mencecap rasa pada orang yang sehat dan kasus gangguan rasa akibat obat. Fungsi pengecapan juga dapat dipengaruhi oleh obat anti plak yang diekskresikan ke dalam saliva.

    Obat-obatan tertentu termasuk antibiotik seperti ampisilin, makrolida, metronidazol, kuinolon, tetrasiklin, maupun agen antineoplastik, serta obat neurologis seperti anti parkinsonisme, stimulan SSP, obat migrain, dan obat kardiovaskular seperti antihipertensi, diuretik, statin, antiaritmia juga dapat menyebabkan kasus hilangnya kemampuan indra perasa merasakan rasa.

    Obat lain seperti antipsikotik, obat penenang, antidepresan trisiklik, obat tiroid, antihistamin, bronkodilator, anti jamur, dan anti virus juga telah dilaporkan menyebabkan ageusia sebagai efek samping. Selain itu, penuaan atau faktor yang terkait dengan penuaan juga dapat membuat individu lebih rentan terhadap disfungsi sistem gustatory.

    HENDRIK KHOIRUL MUHID

    #Jagajarak #Pakaimasker #Cucitangan

    Baca juga:  Waspadai Gejala Corona, Kehilangan Indera Perasa dan Pencium


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.