Covid-19 di Indonesia Naik Berkali Lipat dari Puncak Kasus

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perawatan pasien Covid-19. REUTERS

    Ilustrasi perawatan pasien Covid-19. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menyampaikan gambaran pandemi Covid-19 saat ini. Kasus Covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat tajam.

    "Peningkatan kasus yang sekarang kita alami sudah tiga kali lipat dari puncak kasus pada Desember 2020 dan Januari 2021," kata Siti dalam acara Eagle Forum 'Rapor PPKM Darurat Kita' pada Rabu, 14 Juli 2021. Seperti diketahui, pada Desember 2020 terjadi pilkada di berbagai daerah dan pada Januri 2021, kasus Covid-19 bertambah karena libur pergantian tahun.

    Lonjakan kasus Covid-19 mengakibatkan kelangkaan berbagai kebutuhan pasien Covid-19, mulai dari oksigen sampai peti mati. Siti mengatakan, bahwa kebutuhan harian oksigen di Pulau Jawa yang sebelumnya 400 ton per hari meningkat hingga 2.195 ton per hari seiring dengan bertambahnya kasus Covid-19. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, ditambah komitmen pasokan dari pelaku industri yang belum dapat memenuhi kebutuhan harian tersebut.

    Masyarakat mengantre untuk mendapatkan isi ulang oksigen medis yang dibagikan secara gratis di Jalan Minangkabau Timur, Jakarta, Kamis, 15 Juli 2021. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Sebab itu, menurut dia, pemerintah membentuk Satuan Tugas Oksigen di Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan oksigen medis. Mengenai kelangkaan peti mati, Siti menyatakan, umumnya terjadi di kota-kota, seperti Jakarta dan Yogyakarta.

    Untuk membantu kelangkaan peti mati, alumnus Universitas Gadjah Mada atau UGM membentuk gerakan donasi peti mati di Yogyakarta bernama Djogja Gotong Royong atau DGR. Gerakan yang bermula dari keprihatian krisis peti mati di Yogyakarta pada Senin, 5 Juli 2021 dan terus berlangsung hingga sepuluh hari setelahnya.

    Petugas menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan membawa peti mati sebagai ilustrasi agar masyarakat tidak datang berziarah ke Taman Pemakaman Umum (TPU) di tengah masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). (ANTARA/HO/instagram @tamanhutandki)

    Relawan DGR, Agus Supriyo mengatakan gerakan tersebut berawal dari spontanitas yang bergulir dalam sebuah grup WhatsApp. Anggota grup percakapan itu membicarakan sulitnya mendapatkan peti mati untuk pasien Covid-19. "Pada hari-hari pertama, kami hanya mampu membuat lima sampai enam buah peti mati sehari," katanya.

    Sekarang, Agus bersama rekan-rekannya bisa membuat 20 sampai 30 peti mati per hari. Hanya saja, jumlah produksi peti mati itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit di Yogyakarta dan sekitarnya. "Semangat kami, bagaimana dapat memberikan penghormatan terakhir kepada mereka dan kami berharap inisiatif ini menginspirasi masyarakat," kata Agus.

    FAHIRA NOVANRA

    #CuciTangan #JagaJarak #PakaiMasker #DiamdiRumah

    Baca juga:
    Pandu Riono Nilai Ada atau Tidak PPKM Darurat Kasus Covid-19 Tetap Naik, Sebab..


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.