Sebab Penyintas Covid-19 Bisa Kembali Terinfeksi

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga dan kerabat berdoa di pemakaman khusus protokol Covid-19 di TPU Cikadut, Bandung, Jawa Barat, 19 Juli 2021. Semakin banyak korban Covid-19 yang meninggal saat isolasi mandiri setelah rumah sakit tak mampu lagi menerima pasien baru.  TEMPO/Prima mulia

    Keluarga dan kerabat berdoa di pemakaman khusus protokol Covid-19 di TPU Cikadut, Bandung, Jawa Barat, 19 Juli 2021. Semakin banyak korban Covid-19 yang meninggal saat isolasi mandiri setelah rumah sakit tak mampu lagi menerima pasien baru. TEMPO/Prima mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus positif COVID-19 di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan sejalan dengan adanya mutasi baru virus corona. Selain penyebarannya yang cepat, varian Delta juga menyerang para penyintas COVID-19.

    Direktur Utama Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, dr. Syahril Mansyur Sp.P., mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan penyintas COVID-19 masih bisa terpapar virus lagi, salah satunya kontak erat dengan yang terinfeksi.

    "Penyintas bisa kena lagi atau reinfeksi apabila bertemu lagi dengan kontak erat atau pergi ke zona merah," kata Syahril.

    Tak hanya penyintas, virus juga bisa menyerang masyarakat yang telah melakukan vaksinasi COVID-19, tak terkecuali yang sudah dua dosis sekali pun. Menanggapi hal tersebut, Syahril menegaskan vaksin tidak 100 persen membuat tubuh menjadi kebal sepenuhnya dari paparan COVID-19. Vaksinasi akan menjadi efektif jika setidaknya masyarakat sudah 70-80 persen divaksin dan disiplin menjalani protokol kesehatan.

    ADVERTISEMENT

    "Vaksin tidak melindungi 100 persen sehingga menjadi kebal COVID. Maka dari itu, ada 70-80 persen komoditas agar divaksin untuk menciptakan herd immunity. Kalau yang divaksin sedikit, maka tidak ada dampak, bahkan akan ada penularan," ujar Syahril.

    "Untuk yang sudah divaksin, antibodi yang timbul mungkin tidak cukup untuk membunuh virus yang masuk. Apalagi orang yang sudah divaksin terus terpapar mereka yang terinfeksi COVID. Apalagi dengan varian yang baru, karena mereka sudah bermutasi lebih canggih dan mengelabui kekebalan yang ada," imbuhnya.

    Medical Senior Manager PT Kalbe Farma, dr. Esther Kristiningrum, mengatakan bagi penyintas COVID-19 yang belum pernah mendapatkan vaksin bisa mengikuti vaksinasi setidaknya tiga bulan setelah sembuh.

    "Karena tujuan kita adalah bagaimana mencari herd immunity, maka sekarang yang diutamakan adalah yang belum terkena COVID-19. Jika sudah pernah, tubuh sudah membentuk antibodi terhadap COVID dan seiring berjalannya waktu, antibodi menurun," kata Esther. "Tapi, belum jelas berapa lama antibodi akan menurun sehingga dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menganjurkan vaksinasinya setelah tiga bulan sembuh."

    Ia menambahkan, "Sebenarnya kalau sudah sembuh bisa saja (langsung divaksin). Namun, vaksin yang ada masih terbatas dan fokus ke herd immunity sehingga diutamakan bagi yang belum terinfeksi COVID-19 karena belum ada kekebalan terkait COVID-19."

    Baca juga: Sudah Negatif Covid-19 tapi Penciuman Belum Normal? Kenali Gejala Long Covid


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?