Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Kisah Dokter Beri Ivermectin kepada Pasien Covid-19, Ada yang Saturasi 88

Reporter

Editor

Rini Kustiani

image-gnews
Ilustrasi Ivermectin. Shutterstock
Ilustrasi Ivermectin. Shutterstock
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah dokter menyatakan meresepkan Ivermectin kepada pasien Covid-19. Para dokter ini juga mengakui menggunakan Ivermectin sebagai upaya pencegahan terinfeksi Covid-19.

Dalam webinar Ivermectin World Day yang diadakan Front Line COVID-19 Critical Care atau FLCCC pada Minggu, 25 Juli 2021, para dokter ini menceritakan bagaimana proses penanganan pasien Covid-19 dengan Ivermectin dan obat-obatan Covid-19 lainnya di rumah sakit maupun yang menjalani rawat jalan dan isolasi mandiri.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Hadianti mengatakan memberikan Ivermectin kepada pasien Covid-19. "Ada pasien yang meminta obat tersebut dan menolak beberapa obat lain," kata Hadianti yang memaparkan penggunaan Ivermectin kepada tujuh pasiennya.

Dia mencontohkan seorang pasien Covid-19 yang dia tangani pada Februari 2021. Pasien itu berjenis kelamin laki-laki, berusia 52 tahun dengan komorbid Diabetes Melitus, penyakit jantung, dan obesitas tipe tiga dengan berat badan 140 kilogram, serta sudah memakai ventilator. "Inilah pasien yang membuat saya menggunakan Ivermectin dengan yakin," katanya.

Hadianti mengatakan telah terjadi badai sitokin di paru-paru pasien tersebut. Badai sitokin adalah reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan dalam menghalau virus. Sitokin yang merupakan protein ini memenuhi jaringan yang terinfeksi dan memicu peradangan.

Hadianti kemudian menyarankan pasien tersebut mengkonsumsi Actemra (Tocilizumab), obat Covid-19 yang direkomendasikan WHO untuk mengatasi badai sitokin. Namun pasien tersebut menolak. "Dia memilih Ivermectin," katanya. Hadianti kemudian mencari referensi penggunaan Ivermectin dengan dosis yang sesuai untuk kondisi setiap pasien.

Setelah mengkonsumsi Ivermectin selama lima hari, Hadianti mengatakan kondisi pasien tersebut membaik. Dia pun menunjukkan foto rontgen dan CT Scan pasien itu. Dari foto toraks yang membuktikan terjadi badai sitokin di paru-paru sampai normal. Pasien tersebut menjalani perawatan selama 12 hari di rumah sakit dan melanjutkan konsumsi Ivermectin selama dua pekan di rumah setelahnya atas keinginan sendiri.

Ada juga enam pasien Hadianti lainnya yang juga mengkonsumsi Ivermectin dengan komorbid, seperi hipertensi dan asma. Salah satunya sudah berusia 74 tahun dan ada pula yang menyandang autoimun Sjorgen Syndrome. Sebagian besar mengalami Interleukins atau kondisi yang secara bertahap menuju badai sitokin di paru-paru.

Di antara mereka ada juga yang mendapatkan terapi obat Covid-19, seperti Favipiravir dan Remdesivir. "Semua pasien ini sudah menyatakan persetujuan penggunaan Ivermectin, bahkan ada yang sudah lebih dulu mengkonsumsinya," kata Hadianti yang juga mengkonsumsi Ivermectin untuk mencegah infeksi Covid-19, selain juga sudah mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Dokter Spesialis Kandungan, Firman Abdullah mengatakan menggunakan Ivermectin untuk diri sendiri dan keluarga. "Saya pelajari Ivermectin, aman meskipun itu obat untuk hewan dan ternyata sudah sepuluh tahun lalu bisa diberikan untuk manusia," katanya.

Dari berbagai referensi bacaan, Firman mengatakan Ivermectin biasanya digunakan untuk terapi penyakit Hepatitis E karena mampu menghambat replikasi virus. "Saya coba kepada diri saya dulu dan keluarga," katanya. Anak Firman yang terpapar Covid-19 juga minum Ivermectin sejak hari pertama dirawat di rumah sakit. "Hari demi hari kondisinya membaik, memperpendek masa perawatan, dan mengurangi keparahan."

Firman mengatakan pernah memberikan Ivermectin kepada rekannya, suami istri yang terpapar Covid-19 dan menjalani isolasi mandiri di rumah. Mereka berusia 80 tahun dengan saturasi oksigen 89 dan 91. Salah satunya sudah terpasang delapan ring jantung. "Sekarang kondisinya kondisi stabil dan membaik," ucapnya.

Ivermectin, menurut Firman, terbilang obat yang murah. Anaknya mengkonsumsi Ivermectin satu tablet sehari selama lima hari. Harganya Rp 7.000 per tablet dikali lima hari, jadi Rp 35 ribu. "Bisa sembuh, walaupun memang tidak sebagai obat tunggal," katanya.

Senada dengan Hadianti dan Firman, dokter Iwan Gunawan Kusmahani yang praktik di fasilitas kesehatan tingkat pertama rawat jalan menyampaikan kesan positif terhadap Ivermectin. "Saya menggunakan Ivermectin setelah membaca berbagai literatur, baik jurnal maupun anjuran-anjuran WHO," katanya. "Saya mulai pakai Ivermectin pada Juni 2021."

Sekitar satu bulan terakhir, Iwan menangani 38 pasien Covid-19 berdasarkan hasil tes swab antigen maupun PCR. Dari semua pasien itu, ada empat orang yang tidak dia beri Ivermectin karena dua di antaranya masih anak-anak dan dua lainnya menolak.

Menurut dia, sebagian besar pasien sudah tahu kalau obat ini kontroversial. Sebab itu Iwan menjelaskan dulu apa itu Ivermectin yang dikenal sebagai obat parasit dan membuat surat pernyataan bahwa pasien setuju menggunakan Ivermectin sebagai terapi obat. "Saya cuma meresepkan dua obat, yakni Ivermectin dan vitamin D3," ucapnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selebihnya simtomatis atau penanganan sesuai gejala. "Kalau demam minum parasetamol, batuk minum obat batuk apa saja yang terjangkau," ucapnya. Tak lupa imbauan untuk menerapkan gaya hidup sehat, makan makanan bergizi, berhenti merokok bagi perokok, dan berjemur sinar matahari 15 menit setiap pagi.

Iwan mengatakan ada satu kasus pasien Covid-19 menarik yang dia tangani. Pasien itu adalah laki-laki berusia 64 tahun, tidak ada riwayat komorbid, tapi perokok aktif selama 30 tahun, dan berhenti lima tahun terakhir. Saat berobat, saturasi oksigen pasien ini menujukkan angka 88. Beberapa hari sebelumnya bahkan sampai 82. Sudah hilang kemampuan penciuman dan mual.

Hasil swab PCR pasien tersebut pada 14 Juli 2021 menunjukkan positif Covid-19 dengan CT 23, yang artinya infeksius. Status sosial ekonomi menengah ke bawah dan tinggal di wilayah zona merah di Jakarta Timur. Di lingkungannya juga banyak pasien Covid-19, baik yang satu RT maupun beda RT.

"Saya bilang, bapak harus ke UGD. Tetapi pasien menolak," kata Iwan. Pasien itu menyimak pemberitaan tentang kondisi di rumah sakit yang kolaps. "Enggak dok, saya enggak mau ke UGD. Nanti saya enggak diapa-apain, malah cepat mati," kata Iwan menirukan ucapan pasien tersebut.

Kemudian Iwan meminta pasien tersebut menandatangani pernyataan menolak dirujuk ke rumah sakit. "Dia mau," katanya. Iwan lantas mengedukasi pasien tersebut untuk menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Dia hanya meresepkan Ivermectin dan vitamin D3 untuk meningkatkan imunitas.

Pasien itu tanda tangan lagi pada surat pertanyaan persetujuan penggunaan Ivermectin sebagai terapi obat dan sudah mendapatkan informasi dari dokter dengan jelas dan detail. Ivermectin dikonsumsi sehari sekali pada pagi hari setelah makan dan vitamin D3 dua kali sehari pada pagi dan sore. "Saya beri Ivermectin untuk lima hari," katanya.

Iwan minta nomor telepon pasien tersebut supaya bisa memantaunya dari jauh. Menurut Iwan, satu hari setelah mengkonsumsi Ivermectin, saturasi oksigen pasien tersebut naik menjadi 92. Hari ketiga, tubuhnya sudah kembali bugar, hanya penciuman belum pulih betul. Pada hari kelima saat obat sudah habis, saturasi oksigen 99.

Dari 38 pasien yang dia tangani, sebanyak 20 pasien melapor telah menjalani tes Covid-19 pada hari kedelapan hingga kesepuluh setelah menggunakan Ivermectin, dan hasilnya negatif Covid-19. Perlu diingat, menurut Iwan, tidak semua pasien menjalani tes Covid-19 setelah isolasi mandiri karena kendala finansial.

Iwan melanjutkan, untuk pasien bergejala ringan, dia mencoba memberikan penanganan dengan Ivermectin sesuai persetujuan pasien dan disertai edukasi. "Saya berusaha mencegah banyak rujukan ke rumah sakit," katanya. Namun kalau kondisinya sedang sampai berat, tentu akan dirujuk ke rumah sakit.

Untuk pasien Covid-19 dengan status ekonomi menengah ke bawah, menurut Iwan, penggunaan Ivermectin dengan vitamin D3 tidak terlalu memberatkan. Dia mengecek di apotek, harga Ivermectin untuk lima hari dan vitamin D3 untuk sepuluh hari tak sampai Rp 200 ribu. "Semua penyakit ada obatnya, kecuali dua: tua dan maut," ucapnya.

Penggunaan Ivermectin sebagai obat Covid-19 memang masih menjadi kontroversi. Seperti diketahui, Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM belum mengeluarkan persetujuan izin edar Ivermectin untuk penanganan pasien Covid-19. Musababnya, Ivermectin adalah obat keras dan baru mendapat persetujuan Expanded Access Program, bukan persetujuan izin edar.

"Maka ditekankan kepada industri farmasi yang memproduksi obat tersebut dan pihak manapun untuk tidak mempromosikan obat tersebut, baik kepada petugas kesehatan maupun kepada masyarakat," demikian pernyataan resmi BPOM pada Rabu, 21 Juli 2021. Saat ini, Badan Pengkajian Kebijakan Kesehatan Kementerian Kesehatan sedang melakukan uji klinik terhadap Ivermectin untuk memperoleh data kegunaan dan keamanan dalam menyembuhkan Covid-19.

#CuciTangan #JagaJarak #PakaiMasker #DiamdiRumah

Baca juga:
Cerita Lobi Mengegolkan Ivermectin Jadi Obat Covid-19

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Perempuan Mahardhika Nilai Penahanan Anandira Puspita Bersama Bayi Berpotensi Mereviktimisasi Korban

1 hari lalu

Ilustrasi selingkuh. Shutterstock
Perempuan Mahardhika Nilai Penahanan Anandira Puspita Bersama Bayi Berpotensi Mereviktimisasi Korban

Sekretaris Nasional Perempuan Mahardhika, Tyas Widuri, menilai penahanan Anandira Puspita dan bayinya berpotensi mereviktimisasi korban dugaan perselingkuhan suaminya.


2.700 Perawat Dikerahkan di Tengah Mogok Massal Dokter Korea Selatan

6 hari lalu

Para dokter saat protes terhadap rencana penerimaan lebih banyak siswa ke sekolah kedokteran, di depan Kantor Kepresidenan di Seoul, Korea Selatan, 22 Februari 2024. REUTERS/Kim Soo-Hyeon
2.700 Perawat Dikerahkan di Tengah Mogok Massal Dokter Korea Selatan

Korea Selatan masih didera pemogokan massal para dokter. Ribuan perawat disiagakan.


Aksi Mogok Dokter, Skandal Tas Dior hingga Daun Bawang: Riuh Pemilu Legislatif Korea Selatan

7 hari lalu

Seorang wanita keluar dari tempat pemungutan suara di tempat pemungutan suara saat pemilihan parlemen ke-22 di Seoul, Korea Selatan, 10 April 2024. REUTERS/Kim Soo-hyeon
Aksi Mogok Dokter, Skandal Tas Dior hingga Daun Bawang: Riuh Pemilu Legislatif Korea Selatan

Sekitar 44 juta warga Korea Selatan akan memberikan suaranya dalam pemilu yang akan menentukan sisa masa kepemimpinan Presiden Yoon Suk yeol.


Dokter Penjara Israel: Tahanan Palestina Harus Diamputasi karena Diborgol 24 Jam

13 hari lalu

Ilustrasi napi di penjara. Shutterstock
Dokter Penjara Israel: Tahanan Palestina Harus Diamputasi karena Diborgol 24 Jam

Dokter Israel di rumah sakit lapangan di dalam penjara yang menampung warga Palestina asal Gaza menyebut hal ini merupakan pelanggaran hukum


Gejala Flu Singapura dan Cara Mengatasinya

15 hari lalu

Flu Singapura.
Gejala Flu Singapura dan Cara Mengatasinya

Flu Singapura merupakan infeksi yang diakibatkan oleh virus. Penyakit ini sering menjangkiti anak-anak, terutama di bawah 7 tahun.


Perpustakaan Harvard Menghilangkan Kulit Manusia dari Buku Koleksinya

20 hari lalu

Sebuah tanda tergantung di gerbang sebuah gedung di Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts, AS, 6 Juli 2023. REUTERS/Brian Snyder
Perpustakaan Harvard Menghilangkan Kulit Manusia dari Buku Koleksinya

Seorang dokter Prancis "mengikat buku itu dengan kulit manusia yang diambil tanpa persetujuan dari jasad pasien wanita," menurut Perpustakan Harvard


Dokter Masih Mogok, Rumah Sakit Besar di Korea Selatan Tutup Bangsal

20 hari lalu

Para dokter mengambil bagian dalam protes terhadap rencana penerimaan lebih banyak siswa ke sekolah kedokteran, di depan Kantor Kepresidenan di Seoul, Korea Selatan, 22 Februari 2024. REUTERS/Kim Soo-Hyeon
Dokter Masih Mogok, Rumah Sakit Besar di Korea Selatan Tutup Bangsal

Korea Selatan menutup bangsal rumah sakit besar karena tak ada dokter.


Polisi Tangkap Dokter Gadungan Pemilik Klinik di Bekasi, Sudah 5 Tahun Buka Praktek

30 hari lalu

Ilustrasi surat keterangan sakit / sehat dari dokter. Nieuwsblad.be
Polisi Tangkap Dokter Gadungan Pemilik Klinik di Bekasi, Sudah 5 Tahun Buka Praktek

Polisi menangkap dokter gadungan bernama Ingwy Tito Banyu yang membuka praktek di Klinik Pratama Keluarga Sehat, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi.


Mau Tetap Olahraga Saat Puasa? FKUI Beberkan Tips, Risiko, dan Manfaatnya

32 hari lalu

Warga berolahraga di kawasan Jenderal Sudirman, Minggu, 10 April 2022. Masyarakat tetap berolahraga di kawasan Sudirman saat bulan puasa. TEMPO/M Taufan Rengganis
Mau Tetap Olahraga Saat Puasa? FKUI Beberkan Tips, Risiko, dan Manfaatnya

Untuk lansia, status hidrasinya harus lebih diperhatikan saat memutuskan tetap berolahraga di bulan puasa.


Korea Selatan Kirim Pemberitahuan Penangguhan Izin Praktik Dokter Muda

38 hari lalu

Para dokter saat protes terhadap rencana penerimaan lebih banyak siswa ke sekolah kedokteran, di depan Kantor Kepresidenan di Seoul, Korea Selatan, 22 Februari 2024. REUTERS/Kim Soo-Hyeon
Korea Selatan Kirim Pemberitahuan Penangguhan Izin Praktik Dokter Muda

Korea Selatan telah mengirimkan pemberitahuan awal tentang penangguhan izin praktik dokter pada 5 ribu dokter magang yang sedang mogok kerja.