Tips Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi dari Kementerian Kesehatan

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi stres (pixabay.com)

    ilustrasi stres (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi termasuk bencana non-alam yang memberikan dampak pada kondisi kesehatan mental dan psikososial setiap orang. Kementerian Kesehatan menerbitkan pedoman untuk menjaga kesehatan mental selama pagebluk.

    Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial selama Pandemi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan ini memuat cara bagaimana kita dapat meningkatkan kondisi kesehatan mental. Berikut detailnya:

    • Emosi positif
      Merasa gembira dan melakukan kegiatan yang disukai atau hobi, baik sendiri maupun bersama keluarga atau teman.

    • Berpikir positif
      Hindari informasi yang menyesatkan dan hoax. Kenanglah pengalaman yang menyenangkan, bicara dengan diri sendiri tentang apa saja yang positif atau positive self-talk, cari solusi atas terhadap kejadian, dan yakinlah pandemi akan segera teratasi.

    • Hubungan sosial yang positif
      Jangan pelit memuji, beri harapan kepada sesama, saling mengingatkan dengan cara yang positif, meningkatkan ikatan emosi dalam keluarga dan kelompok, menghindari diskusi yang negatif, dan saling memberi kabar dengan keluarga yang berjauhan, rekan kerja, dan teman.

    • Beribadah
      Tetap beribadah di rumah atau lewat daring.

    Masalah kesehatan mental dan psikososial dapat berupa ketakutan, kecemasan, dan panik terhadap kejadian. Orang semakin enggan bertemu dengan orang lain dan muncul rasa curiga yang dapat menular. Perasaan ini membuat tubuh merespons untuk berlindung demi keamanan.

    Gejala awal gangguan mental yang terjadi antara lain khawatir, gelisah, panik, takut mati, takut kehilangan kontrol, takut tertular, dan mudah tersinggung. Jantung akan berdebar lebih kencang, napas terasa sesak, napas pendek, napas berat, mual, kembung, diare, sakit kepala, pusing, kulit terasa gatal, kesemutan, otot-otot tegang, dan sulit tidur yang berlangsung selama dua minggu atau lebih.

    Ilustrasi stres/bingung. Shutterstock.com

    Berikut cara menghadapi situsi kecemasan tadi seperti dikutip dari Buku Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial Kementerian Kesehatan:

    • Sikap Reaktif
      Sikap mental yang ditandai dengan reaksi yang cepat, tegang, agresif terhadap keadaan yang terjadi, mengakibatkan kecemasan dan kepanikan. Contoh perilakunya adalah memborong bahan makanan, memborong masker, handsanitizer, vitamin, dan lainnya. Sikap reaktif ini dapat dikendalikan dengan cara mencari informasi yang benar dan mempertimbangkan situasi sebelum mengambil keputusan.

    • Sikap Responsif
      Sikap mental yang ditandai dengan ketenangan, terukur, mencari tahu apa yang harus dilakukan, dan memberikan respons yang tepat dan wajar. Sikap responsif dapat dikembangkan agar tidak terjadi masalah kesehatan jiwa dan psikososial.

    NAUFAL RIDHWAN ALY

    #CuciTangan #JagaJarak #PakaiMasker #DiamdiRumah

    Baca juga:
    Cara Membedakan Masalah Kesehatan Jiwa yang Termasuk Disabilitas dan Bukan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...