Kebangkitan Keane di Mola Chill Fridays

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kebangkitan Keane si Mola Chill Fridays

    Kebangkitan Keane si Mola Chill Fridays

    INFO GAYA – Bagaimana Keane mengingat Indonesia? Band asal East Sussex, kota kecil di Inggris itu pernah konser satu kali di Jakarta pada 2012. Kini, mereka kembali menyapa penggemarnya namun dengan cara virtual melalui Mola Chill Fridays Jumat malam, 27 Agustus 2021.

    “Kami semua ingat karena kami membicarakan ini. tampaknya seluruh Jakarta mengalami kemacetan lalu lintas. Kurasa sampai sekarang masih,” kata frontman, Tom Chaplin.

    Begitulah Jakarta di benak Chaplin dan tiga kawannya. Kesan pertama yang ia dapatkan ketika ‘mengguncang’ Parkir Timur Senayan sembilan tahun lalu, sempat menjadi topik hangat di berbagai media. Namun, mereka justru merasa menjadi tokoh penting karena mendapat pengalaman mengesankan di Indonesia.

    “Kami sangat bersemangat saat itu. ada anak-anak kecil dan polisi yang mengawal kami. Mereka membuka jalan agar kami bisa lewat. Kami merasa jadi orang penting untuk sesaat. Jadi kami senang bisa ke sana,” ujarnya.

    Faktanya, kehadiran Keane memang penting. Mereka menjadi salah satu band paling dinanti di Mola. Selama satu pekan menjelang penayangan band yang dihuni Tom Chaplin (vokal), Tim Rice-Oxley (piano/kibor), Richard Hughes (drum), dan Jesse McQueen (bass), puluhan komentar membanjiri postingan Mola Chill Fridays di Instagram Mola.Living. 

    Warganet sangat antusias, karena Keane adalah salah satu band di awal 2000-an yang memiliki sejumlah hits. Terlebih, ketika Mola menampilkan setlist berikut: “Bend and Break”, “Silenced by The Night”, “The Way I Feel”, “We Might As Well By Stranger”, “Nothing In My Way”, “Is It Any Wonder”, “Bedshaped”, “This Is The Last Time”, “Everybody’s Changing”, “Crystal Ball”, dan “Sovereign Light Cafe”. Hal ini sama saja mendengarkan lagu-lagu terbaik mereka.

    Bedanya, penikmat musik tidak bisa bernyanyi bersama ribuan orang di depan panggung konser. Sekarang, kita mungkin ikut berdendang “Everybody’s Changing” sambil rebahan. Pandemi memang telah mengubah segalanya. Keane pun merasakan hal yang sama. 

    Pandemi, kata  Chaplin, merupakan masa untuk introspeksi dan refleksi diri. “Aku jelas merasakan tidak enaknya masa lockdown. Situasi yang terjadi memunculkan malapetaka dan ancaman, terkadang suasananya sangat menyeramkan. Tapi kami juga mengalami banyak hal positif, misalnya menemukan cara baru berkomunikasi dengan orang lain,” katanya.

    Mereka sebenarnya baru saja ‘bangkit dari tidur’ pada September 2019 setelah memutuskan hiatus alias jeda  pada 2013. Saat kembali reuni dengan anggota komplit, tur pun digelar. Enam bulan kemudian mereka konser keliling di Amerika Serikat. Kemudian, terjadilah kabar buruk itu. Covid-19 melanda dunia.

    “Kami saat itu sedang melakukan tur di Amerika, bulan Maret 2020. Kata promotor tur, takkan ada masalah, teruskan konsernya. Kalian bisa selesaikan turnya tanpa ada masalah. Lalu 3-4 hari kemudian kami disuruh naik pesawat, meninggalkan AS secepatnya,” ujar Chaplin.

    Masa-masa setelah itu menjadi berat, lanjut Chaplin, mereka tidak tahu harus berbuat apa. “Kami bingung, maju mundur dan menunggu apa yang bisa dilakukan selanjutnya,” katanya.

    Setelah lebih dari setahun hanya berkumpul dengan keluarga, kini Keane bisa kembali naik panggung. Bukan sekadar menyapa penggemar atau merasakan lagi kejayaan sebagai anak band, tetapi ada satu hal penting, yakni menyelamatkan perut orang-orang di sekitar.

    “Kami juga senang karena kru kami dapat pekerjaan lagi. Industri musik sempat sekarat selama 1,5 tahun ini. Jadi kami merasa lega, sekaligus gembira. Tahun ini kami akan melakukan beberapa konser. Semoga lebih banyak lagi tahun depan, asalkan tak ada lagi yang menghalangi,” kata Chaplin.

    Maka, berbahagialah kita dapat menyaksikan lagi Keane di Mola. Penampilan mereka terlihat lebih bersahaja. Chaplin hanya mengenakan jaket kulit hitam, Hughes dengan T-shirt putih, McQuinn sama seperti Chaplin namun jaket denim, sedangkan Tim memakai semacam blazer berwarna gelap. Dan, mereka tetap pada trademark Keane, yakni band tanpa kehadiran instrumen gitar. Tampaknya, gitar adalah alat musik ‘nggak penting’ untuk mereka.

    Satu hal yang mencolok adalah rambut Chaplin kini sangat pendek. Badannya pun lebih langsing dengan wajah semakin tirus. Beberapa warganet sempat berkomentar di postingan Mola, mengira Chaplin sudah tua dan beruban. Sesungguhnya, ia baru berusia 42 tahun. 

    Chaplin melewati berbagai pengalaman dalam hidupnya. Mengutip Riff Magazine, ia mengaku jadi pengguna obat-obatan terlarang sejak lama. Narkoba pula yang menjadi salah satu pemicu Keane hiatus atau sebutlah hibernasi. Saat itu memang tidak ada statemen band bubar jalan, namun hubungan Chaplin dan Tim memburuk.

    Chaplin dan Tim sebenarnya ibarat John dan Paul di The Beatles, atau Mick Jagger dan Richards di The Rolling Stones. Hubungan Tim dan Chaplin begitu dekat, karena mereka pernah tinggal sekamar dan mencari uang agar bisa berlatih dengan band. Jadi, hancurnya hubungan Chaplin dan Tim merupakan pengalaman menyedihkan dalam sejarah Keane.

    Ketika Chaplin akhirnya mengikuti rehabilitasi narkoba dan berangsur pulih, ia sempat membuat solo album pada 2016. Sementara Tim juga sibuk menulis puluhan lagu yang semuanya tersimpan rapi, tidak pernah diterbitkan hingga sekarang. 

    Kini, setelah Keane berkumpul lagi, terutama setelah pandemi mereda, mereka merilis mini album atau EP bertitel Dirt dalam format vinyl pada Agustus 2021. Album ini hanya berisi empat lagu yakni Dirt, Nothing to Something, Burning the Days, dan November Days.

    Sayangnya, harapan penggemar Keane mendengarkan salah satu lagu mini album tak kesampaian. Di Mola, mereka hanya membawakan lagu-lagu hits dari masa lalu. Meskipun begitu, penggemarnya di Indonesia cukup bahagia, ternyata mereka masih ingat negara ini. Apalagi saat Chaplin ternyata fasih berkata, “Terima kasih”, tapi kemudian terdengar aneh ketika mengakhiri konser dan berucap, “Sampa jampa.”

    Baiklah Chaplin, “sampa jampa” (sampai jumpa) di tayangan Mola Chill Fridays berikutnya! (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.