Orang yang Kena Covid-19 Bisa Punya Hybrid Immunity, Level Kekebalan Meningkat

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pasien mengenakan masker duduk di bangku di geladak kapal penumpang milik perusahaan pelayaran milik negara PT PELNI, KM Umsini yang dimodifikasi menjadi pusat isolasi pasien COVID-19 OTG di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Agustus 2021. REUTERS/Abd. Rahman Muchtar

    Seorang pasien mengenakan masker duduk di bangku di geladak kapal penumpang milik perusahaan pelayaran milik negara PT PELNI, KM Umsini yang dimodifikasi menjadi pusat isolasi pasien COVID-19 OTG di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Agustus 2021. REUTERS/Abd. Rahman Muchtar

    TEMPO.CO, Jakarta - Berdasarkan aturan pemerintah orang yang pernah terinfeksi Covid-19 dapat melakukan vaksinasi setelah 3 bulan dari gejala awal. Tetapi tidak sedikit yang masih bertanya-tanya perlukah vaksin setelah terinfeksi karena tubuh dinilai memiliki kekebalan alami selama 6 bulan.   

    Pernyataan bahwa tubuh memiliki kekebalan alami dalam kurun waktu tersebut dibantah oleh Samuel Pola Karta Sembiring, dokter yang juga health educator.

    Menurut keterangannya yang diunggah melalui akun Instagramnya, @doktersam apabila penyintas Covid-19 melakukan vaksinasi setelahnya akan terjadi hybrid immunity.   

    Hybrid immunity merupakan kondisi imunitas yang didapat dari kombinasi kekebalan alami dan kekebalan dari vaksinasi. Respon imunitas dari kombinasi ini akan meningkat 25-100 kali daripada kekebalan yang diperoleh secara alami.   

    Dokter Sam, sapaannya, juga menjelaskan bahwa vaksin pfizer dan moderna dapat memicu hybrid immunity dan untuk vaksin jenis lain belum diteliti.

    Selain dua vaksin tadi, cross neutralizing antibodies atau sel B memori membantu menyiapkan ingatan informasi-informasi yang diperoleh untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan virus varian baru lain. Yang bisa saja muncul di masa depan.   

    Manfaat lain yang didapat melalui vaksinasi setelah terinfeksi Covid-19 adalah tubuh dapat mengumpulkan informasi mengenai varian virus. “Sistem imun penyintas yang telah divaksinasi mendapat banyak peningkatan antibodi netralisasi terhadap banyak varian dibanding penyintas yang hanya mengandalkan kekebalan alami nya saja,” ujar Sam.   

    Ia juga tidak membenarkan anggapan kekebalan yang didapat karena infeksi Covid -19 lebih baik daripada didapatkan dari vaksinasi. Orang terinfeksi covid sebelum vaksinasi risiko masuk icu dan kematiannya lebih tinggi karena gejala yang didapat lebih berat. Juga orang yang belum melakukan vaksinasi dan terinfeksi virus corona berisiko mendapat long covid lebih tinggi.   

    Sam menambahkan, kekebalan alami yang dimiliki penyintas Covid-19 tidak permanen. Meskipun sistem imun penyintas memiliki ingatan hingga 8 bulan, namun antibodi spesifiknya umumnya berumur lebih pendek.

    Terlebih saat kekebalan yang menurun dan lengahnya terhadap protokol kesehatan akan meningkatkan potensi reinfeksi atau infeksi kembali.  

    Dengan kondisi seperti itu, Sam menegaskan para penyintas Covid-19 perlu melakukan vaksinasi, selain membentuk hybrid immunity juga mengurangi reinfeksi.  

    TATA FERLIANA 

    Baca juga: Rujuk Kata Epidemiolog, Menkes Sebut Herd Immunity Tak Mungkin Tercapai


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.