Bahaya Partikel Polusi Udara bagi Paru, 24 Kali Lebih Kecil dari Sehelai Rambut

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara suasana gedung bertingkat di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat, 3 Maret 2020. Memasuki minggu ketiga imbauan kerja dari rumah atau work from home (WFH), kualitas udara di Jakarta terus membaik seiring dengan minimnya aktivitas di Ibu Kota. ANTARA

    Foto udara suasana gedung bertingkat di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat, 3 Maret 2020. Memasuki minggu ketiga imbauan kerja dari rumah atau work from home (WFH), kualitas udara di Jakarta terus membaik seiring dengan minimnya aktivitas di Ibu Kota. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Dokter Spesialis Paru Feni Fitriani Taufik mengatakan polusi udara, asap rokok, dan pandemi menjadi ancaman utama bagi kesehatan paru saat ini. Mengenai polusi udara, sebanyak 92 persen populasi dunia tinggal di kawasan dengan kualitas udara yang buruk.

    Secara global, sekitar 93 persen anak berusia di bawah 18 tahun hidup dengan polusi udara. Feni menjelaskan apa saja bahaya polusi udara terhadap kesehatan secara umum, dan bagi paru khususnya. Dari jenisnya, polusi udara terbagi menjadi dua, yakni gas dan partikel.

    Partikel polusi udara ini amat berbahaya bagi paru dan ukurannya sangat kecil. "Saking kecilnya, dia bisa masuk sampai ke bagian kantung udara yang terkecil dari unit paru di tubuh kita ini," kata Feni dalam diskusi daring bertema "Peduli Kesehatan Paru Kita" untuk memperingati World Lung Day 2021 pada Kamis, 23 September 2021.

    Partikel terkecil dari polusi udara itu berukuran 2,5 mikrometer. Istilahnya adalah Partikulat atau PM2.5. Sebagai perbandingan, sehelai rambut manusia saja berukuran 60 mikrometer. Maka partikulat dalam polusi udara ini 24 kali lebih kecil dari sehelai rambut.

    Jika terhirup saat kita bernapas, maka partikel tersebut masuk ke dalam tubuh lewat hidung, jalan napas, sampai ke paru-paru. Partikulat ini dapat bisa masuk ke sistem peredaran darah dan menimbulkan masalah kesehatan, seperti stroke, Penyakit Paru Obstruktif Kronis atau PPOK, hingga gangguan jantung.

    Feni melanjutkan, polusi udara memiliki dampak jangka panjang dan jangka pendek. Dampak jangka pendeknya antara lain iritasi, seperti mata merah, bersin, sakit tenggorokan, batuk, serta peningkatan beberapa penyakit lain, di antaranya infeksi pernapasan, asma, PPOK hingga jantung.

    Adapun dampak jangka panjang polusi udara adalah penurunan fungsi paru, reaksi alergi, dan meningkatnya risiko asma, PPOK, penyakit jantung dan pembuluh darah, hingga kanker. Untuk mengetahui bagaimana kualitas udara di sekitar kita, pemerintah telah memasang indikator kualitas udara di sejumlah titik.

    Apabila indikator pengukur kualitas udara itu berwarna hijau, maka kondisi udara bagus. "Kalau berwarna hijau, maka angkanya di bawah 50," kata Feni. Di Jakarta, umumnya indikator kualitas udara menunjukkan warna oranye dengan indeks 101 sampai 150.

    LAURENSIA FAYOLA

    Baca juga:
    Jakarta Diperingatkan, Kualitas Udara Buruk Makin Berbahaya Kala Pandemi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rachel Vennya Diduga Tak Menyelesaikan Masa Karantina Usai Pulang dari AS

    Rachel Vennya diduga tak menyelesaikan masa karantina yang semestinya ia lalui sepulang dari Amerika Serikat. Dugaan datang dari unggahan Instagram.