Definsi Baru WHO Soal Long Covid sebagai Kondisi Pasca Covid-19

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tenaga medis tengah merawat pasien Covid-19 di RSUD Kramat Jati, Jakarta, Kamis, 26 Agustus 2021. Selama pandemi, sudah ditemukan 848.263 kasus Covid-19 di Jakarta, dengan 827.333 di antaranya sembuh, sementara 13.216 orang lainnya meninggal. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Tenaga medis tengah merawat pasien Covid-19 di RSUD Kramat Jati, Jakarta, Kamis, 26 Agustus 2021. Selama pandemi, sudah ditemukan 848.263 kasus Covid-19 di Jakarta, dengan 827.333 di antaranya sembuh, sementara 13.216 orang lainnya meninggal. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO resmi merilis kriteria diagnostik dan definisi tentang long covid yang selama ini menjadi kekhawatiran bagi orang yang pernah terkena Covid-19.

    Dalam pengertian WHO, disebutkan bahwa pasien dapat mengalami gejala berbulan-bulan setelah infeksi awal dan gejala-gejala ini dapat cukup parah, serta memengaruhi kehidupan sehari-hari.

    Long covid menjadi perhatian di kalangan medis, karena sebagiannya masih menjadi tanda tanya. Sebagian besar penelitian dilakukan dengan melibatkan para penyintas untuk mengenali karakteristiknya.

    Namun, masih ada banyak pertanyaan mengenai long covid, salah satunya seberapa sering itu terjadi dan mekanisme yang mendasari di balik banyak gejala terkait dengan long covid.

    Pada 6 Oktober 2021, WHO merilis definisi kasus klinis untuk long covid. Dalam situs resminya, WHO menyebut long covid sebagai “kondisi pasca-Covid-19”.

    Melansir dari laman gizmodo.com, kondisi tersebut memiliki definisi sebagai sesuatu yang terjadi pada orang dengan riwayat kemungkinan atau konfirmasi infeksi SARS-CoV-2. Gejalanya meliputi kelelahan, sesak napas, dan disfungsi kognitif  atau brain fog

    Gejala long covid dapat menetap sejak infeksi akut atau muncul kemudian dan keparahannya dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu. Gejala tersebut berlangsung setidaknya selama dua bulan sebelum diagnosis formal dibuat.

    Untuk menghasilkan kriteria ini, WHO melakukan konsensus Delphi, yang menyerukan untuk mengumpulkan masukan dari para ahli terkait dan pemangku kepentingan lainnya tentang suatu topik. Ini termasuk survei staf WHO, para ahli, pasien, dan peneliti pasien.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS secara resmi juga  menambahkan kode diagnostik formal untuk long covid ke edisi terbaru International Classification of Disease (ICD-10).

    Kode ICD digunakan oleh dokter, rumah sakit, dan perusahaan asuransi untuk tujuan diagnostik dan penagihan yang mungkin sangat penting bagi pasien, yang membutuhkan perawat dan rehabilitasi jangka panjang.

    WHO telah menyerukan negara-negara, peneliti, dan lainnya di seluruh dunia untuk mengadopsi kriteria mereka sebagai standar global. Namun, WHO mengakui bahwa itu dapat berubah dari waktu ke waktu saat kita belajar lebih banyak tentang long covid.

    WHO menyebut Covid-19 akan tetap menjadi tantangan di masa mendatang. "Definisi ‘kondisi pasca-Covid-19’ ini akan membantu memajukan advokasi dan penelitian tetapi kemungkinan akan berubah ketika bukti baru muncul dan pemahaman kita tentang konsekuensi Covid-19 terus berkembang," tulis WHO.

    M. RIZQI AKBAR

    Baca juga: Temuan Dokter: Gejala Long Covid Bisa Berkembang ke Rawat Ulang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rachel Vennya Diduga Tak Menyelesaikan Masa Karantina Usai Pulang dari AS

    Rachel Vennya diduga tak menyelesaikan masa karantina yang semestinya ia lalui sepulang dari Amerika Serikat. Dugaan datang dari unggahan Instagram.