Serial Ridley Road: Membuka Potongan Sejarah Anti-fasis di Inggris

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita

    INFO GAYA – BBC One Inggris, mengawali Oktober 2021 ini dengan tayangan segar serial televisi Ridley Road yang terdiri dari empat episode. Film drama televisi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jo Bloom ini, tayang perdana di BBC One pada 3 Oktober silam. Film serial yang masing-masing berdurasi 60 menit ini diproduksi oleh RED Production Company, diadaptasi dan ditulis oleh Sarah Solemani. Sang produser,     Nicola Shindler, pernah meraih penghargaan lewat Years and Years, Happy Valley, Trust Me, serta Safe.

    Lewat Vivien Epstein yang diperankan oleh Agnes O’Casey, serial Ridley Road bercerita tentang penentangan Yahudi terhadap fasisme Inggris pada rentang waktu 1960-an. Bak menyoroti sepotong sejarah Inggris yang menarik namun sedikit diketahui, cerita bermula dari sosok perempuan bernama  Vivien Epstein yang mencari kekasih lamanya Jack Morris (yang diperankan oleh Tom Varey).

    Vivien yang di episode pembuka ini melarikan diri dari rumahnya di Manchester karena menolak laki-laki pilihan ayahnya, akhirnya terjebak dalam pusaran gerakan anti-fasis yang gencar diteriakkan di London. “Namamu Evans, bukan Epstein. Ingat, jangan pernah mengatakan jika kau Yahudi,” begitu pesan sang ibu ketika melepasnya pergi. Kalung Bintang Daud pun, harus dia sembunyikan demi menghilangkan atribut Yahudi

    Terlahir sebagai perempuan Yahudi, tentu punya konsekuensi yang berat di masa itu. “Orang Yahudi adalah penyabot Eropa. Tidak ada lagi Yahudi, haramkan Yahudi,” demikian kalimat pedas yang sampai di telinganya. Vivien, sesampainya di London bekerja sebagai penata rambut di sebuah salon yang baginya, dulu hanyalah mimpi, hanya bisa dilihatnya di majalah.

    Meninggalkan kehidupan kelas menengahnya yang nyaman di Manchester, sembari mencari pria yang dicintainya di sudut-sudut Kota London, akhirnya membawa Vivien ke markas  NSM atau National Socialist Movement (NSM) yang merupakan sebuah gerakan melawan Yahudi. Jack Morris, sang kekasih yang dicari-cari oleh Vivien adalah anggota anti-Nazi Group 62, gerakan yang dibentuk oleh veteran khusus untuk memerangi NSM tetapi kemudian justru memperluas operasi dan menentang semua kelompok sayap kanan. Cerita pun kian pelik. Demi laki-laki yang dicintainya, Vivien rela bergabung dan berperang melawan fasisme. Dia, bahkan melakukan penyamaran dengan nama Jane Carpenter, sedangkan Jack mengubah namanya menjadi Peter Fox.  

    Sarah Solemani, lewat serial Ridley Road yang ditulisnya, juga hendak mengatakan bahwa kehidupan di Inggris sesungguhnya banyak menyimpan potongan-potongan sejarah yang tak banyak diketahui publik. Vivien adalah sebagian dari mereka. Wanita muda yang berani ini menjadi sosok pahlawan anti-fasis yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Dan kini, kisahnya layak diceritakan. “Membawa Ridley Road kepada BBC dan Masterpiece adalah suatu kehormatan,” ucap Sarah bangga.

    Bagaimana Vivien mempertaruhkan segalanya demi keyakinannya dan pria yang dicintainya, menggulirkan kisah seru dari satu episode ke episode berikutnya. Pemandangan khas Trafalgar Square, deretan kedai-kedai ala London, hingga pemandangan slogan-slogan keras bertuliskan ‘Bebaskan Inggris dari Kendali Musuh’, seperti hendak menegaskan apa yang terjadi sesungguhnya di tahun 1962, tepat 17 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II dan kekalahan Hitler. Ideologi fasis, sebagaimana dianut Jerman,  menanamkan prinsip kepemimpinan  mutlak, otoriter, harus dipatuhi tanpa pengecualian.  

    Drama fiksi televisi yang diilhami kisah nyata tentang Vivien Epstein ini memusatkan gerakannya di sekitar Ridley Road. Perjuangannya yang gigih untuk mendapatkan simpati sayap kanan yang dipimpin oleh sang paman Soly Malinovsky (diperankan oleh Eddie Marsan), yang merupakan tokoh penting di Group 62, berujung terbongkarnya penyamaran Jack. Jack menyusup ke dalam gerakan NSM yang melawan kelompok anti-fasis yang dipimpin Yahudi.

    Ridley Road, sekali lagi menjadi lokasi bentrokan antara anti-fasis dan neo-Nazi. Puncaknya, saat rapat umum pada 31 Juli 1962,” kata Jo Bloom, yang meluncurkan novel Ridley Road pada 2015 ini. Sedikit berbeda dengan novel aslinya, dalam serial televisi ini Bloom menampilkan Vivien sebagai simpatisan sayap kanan yang pemberani, mampu menyusup hingga ke sarang intelijen, dan berhasil melakukannya. Akhirnya, sosok Vivien memang tak hanya menggambarkan kegigihan dan keberanian wanita muda berusia 20 tahun, namun mengajarkan tentang optimisme.

    Film ini juga dibintangi oleh sederet aktris kawakan seperti Rita Tushingharr (pemeran film legendaris Doctor Zhivago), Tracy-Ann Oberman, Samantha Spiro, Tamzin Outhwaite, Rory Kinnear, Will Keen, hingga  Gabriel Akuwudhe yang tampil dalam Game of Thrones. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Larang WNA dari 11 Negara Masuk untuk Cegah Varian Omicron

    Pemerintah telah berupaya membendung varian Omicron dari Covid-19. Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, pemerintah sudah membuat sejumlah kebijakan.