Quagliarella The Untold Truth: Lakon Si Raja Gol dalam Bayang Teror

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita

    INFO GAYA – Surat kaleng kerap ditujukan untuk meneror. Namun, pihak kepolisian modern memiliki teknologi yang mumpuni untuk mengungkap pelaku dengan cepat. Ironis, kepolisian Italia baru berhasil menangkap peneror bintang sepak bola Italia, Fabio Quagliarella setelah bertahun-tahun.

    Kisah Quagliarella yang meniti karier di bawah bayang teror tersebut, diangkat oleh Goffredo d’Onofrio untuk menulis kisahnya dan menjadi film dokumenter yang diarahkan oleh sutradara Giuseppe Garau. Kabarnya, perlu waktu lama hingga Quagliarella mau mengungkap cerita kelamnya kepada Garau dan d’Onofrio. 

    Kisah kelam itu akhirnya tampil dalam film berdurasi 90 menit, Quagliarella The Untold Truth yang menggelar Gala Premier pada 25 Oktober 2021. Film produksi Mola ini sekaligus menandai kehadiran perusahaan media tersebut di Italia. Sampdoria, klub tempat Quagliarella bermain saat ini, menyambut hangat pemutaran film tersebut dengan memasang logo Mola di jersey tandang klub itu.

    Maniak sepak bola tentu mengenal Fabio Quagliarella. Kiprahnya di Seria A digadang-gadang menjadi legenda baru si kulit bundar di Italia. Namanya berdiri sejajar dengan Gabriel Omar Batistuta, pemain asal Argentina yang jadi legenda Fiorentina, dan Cristiano Ronaldo. Tiga orang itu mencatatkan rekor sebagai pemain yang mencetak gol dalam 11 laga beruntun. 

    Quagliarella saat ini berada di urutan pertama pemain tersubur Serie A dengan 178 gol yang masih aktif bermain. Ia juga pernah menjadi pencetak gol terbanyak dengan 26 gol di Serie A musim 2018-2019.

    Mungkin, tidak banyak yang tahu alasan Quagliarella berpindah klub hingga delapan kali. Film ini, selain menitikberatkan kisah teror, juga mengungkap hal tersebut. Quagliarella lahir di Napoli,31 Januari 1983, sebagai bungsu dari empat bersaudara. Menjalani masa balita dengan melihat rekaman video koleksi ayahnya tentang legenda kota itu, Diego Armando Maradona, bintang asal Argentina yang menjadi ‘tuhan kecil’ di klub Napoli dari 1984 sampai 1991. Idola tersebut membuatnya punya mimpi besar. “Suatu saat aku ingin bermain untuk Napoli,” katanya.

    Garau dan d’Onofrio kemudian melibatkan tiga kakak Quagliarella serta orang tuanya untuk bercerita masa kecil sang bintang. Dikisahkan, Quagliarella sering bermain di dalam rumah dan memecahkan berbagai barang. Ia kemudian bermain di taman dan merusak perabotan milik tetangga. “Ia pernah memecahkan alat pemanas milik tetangga. Akhirnya kami semua kabur,” ujar Adriano Quagliarella, salah satu kakaknya.

    Ayahnya, Vittorio  Quagliarella, akhirnya membawa dia kepada Ciro Benvenuto karena melatih sepak bola untuk anak kecil. Saat inilah Ciro menemukan bakat Quagliarella. Menurutnya, bocah kecil itu punya kemampuan spesial. Cara menendang bolanya unik, tidak diajarkan oleh siapa pun. Itu bakat alami. 

    Tebakan itu tepat. Di usia 13 tahun, Torino memboyongnya untuk diasah menjadi pemain profesional. Empat tahun kemudian, Quagliarella melakoni debutnya di Serie A. Kariernya menanjak dengan cepat. Setelah Torino, ia berlabuh ke Sampdoria dan Udinese. 

    Penduduk Napoli yang melihat kesuksesan Quagliarella di klub-klub tersebut ingin melihatnya mudik dan membela kota kelahirannya demi menjadi the next Maradona. Obsesi itu terkabul, Quagliarella akhirnya pulang kampung pada 2009. Seluruh penonton stadion menyerukan namanya dalam setiap laga. “Fabio, Fabio!” 

    Giulio De Riso, sahabat dekat keluarganya bercerita, suatu hari Quagliarella singgah dan berbincang sejenak di depan toko. Dalam hitungan menit, jalan di depan toko menjadi sesak oleh warga Napoli. “Mobil-mobil berhenti begitu saja di tengah jalan. Penumpangnya turun dan menyerbu Fabio sehingga membuat jalan macet total,” katanya. 

    Faktanya di balik popularitas itu orang tua Quagliarella kerap menerima pesan teks dan surat kaleng bernada ancaman. Satu teror paling mengerikan saat ayahnya dikirim peti mati kecil dan surat bertuliskan “Fabio akan berakhir seperti ini.” sahabat dekat mereka, Giulio juga menerima surat kaleng tentang tuduhan terlibat mafia. Demikian pula dengan Giovanni Barile, sahabat yang juga pengacara, mendapat surat kaleng serupa.

    Teror pada Quagliarella bukan saja datang dari surat kaleng. Hanya setahun bermain untuk kampung halamannya, Napoli, ia tiba-tiba pindah ke Juventus. Sontak, seluruh  penggemar menghujatnya. Kendati Quagliarella berpindah klub ke Torino dan Sampdoria, ia tetap menuai kebencian dari penduduk Napoli. Keluarganya pun mengalami aroma kebencian itu dari orang-orang di sekitarnya. 

    Saat Quagliarella bermain untuk Turin dan mencetak gol ketika melawan Napoli, ia mengangkat tangan memohon maaf kepada penonton dan menjadi berita besar di media Italia. Tetap saja warga Napoli sulit memberi ampun kepadanya. 

    Sementara terkait surat kaleng, kasus tersebut diserahkan kepada Raffaele Piccolo, seorang polisi khusus bidang siber di Napoli. Ia meminta setiap orang tuanya menerima surat kaleng langsung dikirim kepadanya agar dapat memindai sidik jari sang pengirim. Namun, lebih dari empat tahun kasus itu tidak pernah terungkap. Hingga akhirnya orang tua Quagliarella menaruh curiga pada Piccolo. Akhirnya inspektur kepolisian Napoli turun tangan dan terbukti Piccolo ternyata sang pelaku. 

    Masalah kebencian warga Napoli serta surat kaleng mengiringi karier Quagliarella sebagai bintang menjadi untold story dalam film dokumenter ini. Dua perkara itu diharapkan membuka mata kita betapa beratnya tekanan yang dialami Quagliarella. 

    Semangat Quagliarella yang berusaha tetap fokus menjalani karier walau dihantui teror, digambarkan dengan epik oleh sutradara Garau melalui potongan-potongan adegan Quagliarella berlari menyusuri sejumlah sudut wilayah di Italia. Seolah, menggambarkan sang bintang yang terus berlari menjalani hidup walau memikul beban berat. Berlari, memang tidak selalu identik dengan kabur dari masalah. Berlari bisa juga tetap menjalani setiap hal dengan semangat yang pantang menyerah. 

    Film dokumenter ini kian menarik karena pengungkapan pengirim surat kaleng diselingi perjalanan Quagliarella dari kecil, beranjak remaja, dan upayanya mendaki tangga kesuksesan. Ada pula cuplikan gol-gol indah yang tak lazim tercipta dari kaki sang maestro. Agar tak penasaran, saksikan langsung di Mola. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Larang WNA dari 11 Negara Masuk untuk Cegah Varian Omicron

    Pemerintah telah berupaya membendung varian Omicron dari Covid-19. Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, pemerintah sudah membuat sejumlah kebijakan.