Macam Gangguan Mental Akibat Kecanduan Ponsel

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi wanita dan ponsel. Freepik.com/msgrowth

    Ilustrasi wanita dan ponsel. Freepik.com/msgrowth

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi Covid-19 membuat banyak orang bergantung pada gawai dan internet. Kegiatan di luar rumah pun dibatasi dan diganti dengan aktivitas daring. Akibatnya, anak-anak hingga orang dewasa kecanduan ponsel dan internet karena kegiatan di luar rumah terbatas.

    Tren bermedia sosial pun terus mengalami peningkatan hingga membuat orang ingin selalu mengecek ponsel. Alhasil, penggunaan ponsel tanpa disadari sudah mengubah pola kehidupan. Kebiasaan menunduk melihat layar atau tidak bisa tidur jika belum mengecek pesan hanya sedikit contoh dari banyak perubahan yang terjadi.

    Perubahan ini bisa memberikan dampak buruk untuk kesehatan, baik jangka pendek maupun panjang. Kemudian, tanpa disadari berbagai gangguan kesehatan bisa muncul sebagai dampak negatif dari penggunaan telepon genggam. Berikut gangguan atau penyakit baru yang muncul karena mengalami kecanduan ponsel pintar.

    Kanker otak
    Gelombang radiofrekuensi yang dipancarkan oleh telepon genggam dianggap berpotensi memicu kanker. Pasalnya, gelombang tersebut bisa diserap oleh jaringan tubuh yang letaknya berdekatan dengan ponsel saat digunakan. Beberapa tahun lalu, lembaga penelitian kanker internasional telah memasukkan gelombang radiofrekuensi sebagai salah satu hal yang berpotensi karsinogenik. Ini artinya, gelombang tersebut berpotensi meningkatkan risiko kanker.

    FOMO
    FOMO atau Fear of Missing Out adalah gangguan mental yang ditunjukkan dengan rasa takut harus berpisah dengan internet atau ponsel. Tren dan derasnya arus informasi yang terus mengalir membuat orang kebingungan saat tak mendapatkan informasi terbaru. Sebuah studi dari Universitas Essex menemukan ciri-ciri orang yang sudah terjangkit FOMO adalah yang selalu mengecek akun media sosial setiap saat untuk melihat apa saja aktivitas yang dilakukan orang lain. Saking takutnya, orang dengan tanda FOMO bahkan sampai mengabaikan aktivitasnya sendiri.

    FOMO juga dapat diartikan sebagai munculnya rasa khawatir saat melihat orang lain lebih banyak melakukan aktivitas menyenangkan dan lebih bahagia. Akibatnya, pengidap FOMO akan lebih sering membandingkan hidupnya dengan orang lain. FOMO yang parah bisa membuat orang terserang penyakit iri yang mengarah ke gejala depresi akut.

    Nomofobia
    Nomofobia adalah gejala yang ditandai dengan munculnya ketakutan jika tidak memegang ponsel. Studi pada 2015 menemukan orang yang sedang melakukan aktivitas di saat ponselnya berdering menjadi lebih sulit konsentrasi, bahkan bisa meningkatkan kecemasan. Penderita nomofobia harus selalu memegang ponsel dan mengabadikan semua kegiatan dengan ponsel. Di kondisi tertentu, seorang nomofobia merasa tak perlu membawa jam atau dompet karena semua aktivitas bisa dilakukan secara mudah melalui ponsel.

    Low battery anxiety
    Perasaan khawatir tak bisa menggunakan ponsel menjadi gangguan baru seseorang. Bukan FOMO atau pun nomofobia, ini bisa dibilang sangat mengganggu karena khawatir ponsel mati. Melihat baterai ponsel berada di bawah 20 persen membuatnya terserang panik. Kecemasan akibat baterai habis membuatnya menderita gejala low battery anxiety.

    Baca juga: Sindrom Nomofobia, Ketakutan tidak Bisa Mengakses Ponsel


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Larang WNA dari 11 Negara Masuk untuk Cegah Varian Omicron

    Pemerintah telah berupaya membendung varian Omicron dari Covid-19. Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, pemerintah sudah membuat sejumlah kebijakan.