Bahaya Jamur, Bakteri, dan Virus yang Ada di Pakaian Bekas

Reporter:
Editor:

Nurhadi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Pengunjung memilih pakaian bekas di Pasar Senen, Ahad, 17 Oktober 2021. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Pengunjung memilih pakaian bekas di Pasar Senen, Ahad, 17 Oktober 2021. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, JakartaPakaian bekas atau secondhand masih banyak diminati karena alasan murah dan masih menarik. Banyak dari pakaian bekas yang masih layak pakai, bahkan modelnya tidak kalah bagus dengan pakaian baru.

    Satu hal yang tidak dapat dijamin dari pembelian pakaian bekas adalah kebersihan dan risiko kesehatannya. Pakaian bekas berasal dari berbagai sumber. Karena itu, Anda tidak dapat mengetahui kualitas kebersihan pakaian bekas. Jika pakaian tidak dicuci sampai benar-benar bersih, dapat membahayakan kesehatan kulit.

    Kementerian Perdagangan melakukan uji laboratorium setelah maraknya penjualan baju bekas. Dengan mengambil 25 sampel baju dan celana bekas impor dari Pasar Senen, Jakarta, uji laboratorium menunjukkan banyaknya kontaminasi bakteri berbahaya di pakaian tersebut. Sebanyak 216.000 koloni bakteri menghuni celana impor bekas per gramnya.

    Dilansir dari laman Universitas Airlangga, Kementerian Perdagangan kemudian melarang penjualan pakaian bekas impor setelah dilakukannya uji laboratorium tersebut. "Pakaian bekas paling mudah menularkan jamur," ucap dokter spesialis kulit, Trisniartami Setyaningrum, seperti dikutip Tempo dari laman Unair, Jumat, 14 Februari 2020.

    Jamur dapat menular ketika Anda sedang mencoba-coba pakaian bekas akibat interaksi langsung dengan kulit. Infeksi ini menyebabkan gatal-gatal dan memunculkan bercak putih pada kulit atau panu. Gejala panu sendiri adalah bercak putih atau kemerahan, bersisik, dan terasa gatal terutama setelah berkeringat. Pengguna pakaian bekas juga berisiko tertular penyakit lain seperti folikulitis, pyoderma, dan abses. Gejalanya berupa bintik atau benjolan berwarna merah, berisi nanah, dan terasa gatal atau nyeri.

    Selain itu, penyakit herpes simpleks, penyakit kulit yang disebabkan oleh virus, berisiko menulari seseorang melalui media pakaian bekas. Gejala herpes simpleks berupa munculnya gelembung cair yang jika pecah dapat mengenai permukaan pakaian. Orang lain yang mengenakan baju yang sama dapat tertular penyakit ini.

    Jika Anda masih tetap tertarik untuk membeli pakaian bekas, ada baiknya untuk tetap memastikan kebersihannya. Pencucian berulang kali dapat dilakukan untuk menghilangkan potensi jamur maupun virus. Rendam pakaian dengan air bersuhu 100 derajat celcius sebelum memisahkan pakaian yang akan dicuci. Kemudian, cuci pakaian menggunakan sabun dan cairan antiseptik. Menyetrika pakaian juga efektif dalam membunuh kuman yang menempel.

    Jika pengguna pakaian bekas mengalami penyakit kulit yang disebutkan di atas, perlu dipastikan terlebih dahulu jenis penyakit yang dialami. Infeksi kulit diakibatkan oleh jamur dapat diberikan obat anti jamur. Jika penyebab penyakit tersebut adalah bakteri, maka dapat diobati dengan antibiotik. Jika penyebabnya adalah virus, maka diperlukan obat antivirus dan vitamin.

    DINA OKTAFERIA

    Baca juga: Ahli: Waspadai Bagian Ini Saat Membeli Baju Bekas

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fitur Stiker

    Fitur "Add Yours" Instagram dapat mengundang pihak yang berniat buruk untuk menggali informasi pribadi pengguna. User harus tahu bahaya oversharing.