Tahapan Tradisi Pernikahan Turun Ranjang Masyarakat Betawi

Reporter:
Editor:

Bram Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Sapri sedang beraksi dalam acara Palang Pintu, tradisi berbalas pantun di pernikahan adat Betawi. Foto: Instagram

    Sapri sedang beraksi dalam acara Palang Pintu, tradisi berbalas pantun di pernikahan adat Betawi. Foto: Instagram

    TEMPO.COJakarta - Ada beberapa tahapan dalam pernikahan adat Betawi. Skripsi berjudul Pernikahan Turun Ranjang dalam Tradisi Masyarakat Betawi (2018) karya mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Reza Nur Fikri memerinci tahapan dalam pernikahan orang Betawi.

    Ngeledengin yang berarti melihat-lihat sebagai tahapan pertama, yaitu pencarian informasi dari calon ipar untuk memastikan status lajang. Langkah selanjutnya, berkunjung atau silaturahmi ke rumah keluarga calon ipar. Jika merasa cocok, kedua keluarga bersepakat melanjutkan tahapan ngelamar atau melamar. Saat tahapan ini keluarga laki-laki (calon tuan mantu) menyampaikan permintaan resmi kepada keluarga perempuan (calon none mertua). Pada tahap ini, akan ada utusan (dapaun) untuk menemui keluarga perempuan. Biasanya, dapaun berjumlah paling banyak tiga orang.

    Saat melamar, keluarga laki-laki membawa sirih embun (sirih lamaran), pisang raja berjumlah dua sisir, roti tawar, tiga botol sirop berwarna merah, dan hadiah pelengkap antara lain, yaitu kain batik, kain panjang, kosmetik, selop. Kalau seluruh tahap itu sudah dilakukan, selanjutnya tunangan (bawa tande putus). Tahapan ini ditandai dengan acara mengantar kue dan buah-buahan dari keluarga laki-laki ke rumah perempuan. Nanti akan dilanjutkan acara kedua anggota keluarga saling memberikan makanan.

    Tahapan sebelum mendekati hari pernikahan adalah piare calon none penganten. Tujuan tahapan ini untuk merawat calon pengantin sejak sepuluh hari sebelum akad. Perawatan dilakukan supaya wajah pengantin tampak segar dan bercahaya saat pernikahan. Orang yang ahli untuk mengurus perawatan ini disebut tukang piare.

    Sebelum upacara pernikahan, calon pengantin perempuan meminta izin orang tua sambil memakai kemban dan kebaya, rambutnya disanggul, juga mengenakan kerudung yang tipis. Prosesnya mandi kembang atau dimandiin. Ketika hari pernikahan makin dekat, akan ada kegiatan di rumah calon pengantin pria mempersiapkan kebutuhan serahan. Kegiatan itu biasa disebut malam mangkat, malam bumbu, atau malam ngeracik.

    Tahapan saat pernikahan disebut ngerudut. Acara ini berupa upacara akad nikah. Rombongan pengantin pria datang bersama tokoh masyarakat yang dibarengi penabuh rebana dan pembawa barang serahan. Setelah menikah, pasangan pengantin tinggal di rumah keluarga perempuan selama tiga hari. Selepas itu, kemudian pindah ke rumah keluarga laki-laki.

    AMELIA RAHIMA SARI

    Baca: Pernikahan Adat Turun Ranjang Masyarakat Betawi Sudah Ditinggalkan?


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    DKI Tutup Sementara PTM 100 Persen di Sekolah yang Terpapar Covid-19

    Pemprov DKI Jakarta menutup sejumlah sekolah yang menggelar PTM 100 persen karena terpapar Covid-19. Namun sejumlah sekolah sudah kembali berkegiatan.