7 Kesalahan Terbesar ketika Memutuskan Meninggalkan Pekerjaan

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi wanita dan rekan kerja. Freepik.com

    Ilustrasi wanita dan rekan kerja. Freepik.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Mengundurkan diri dari pekerjaan bukan hal mudah. Pekerjaan tidak akan berakhir begitu saja ketika memberitahukan pengunduran diri kepada atasan.

    Jadi, jika ingin meninggalkan hubungan profesional dan menjaga kewarasan tetap utuh membutuhkan kebijaksanaan agar tidak terjadi kesalahan yang memperburuk keadaan. Berikut beberapa kesalahan yang harus dihindari saat mundur dari pekerjaan.

    Memutus hubungan dengan kolega
    Kolega mungkin lupa apa saja yang pernah dikerjakan bersama. Namun, hal buruk yang dilakukan kepadanya mungkin bisa meninggalkan kesan negatif yang bertahan lama.

    “Dalam pencarian pekerjaan berikutnya di masa depan, kita tidak tahu kapan akan bertemu dengan salah satu kolega yang pernah kita sakiti,” kata penulis resume Tammeca Riley. “Orang itu mungkin saja yang akan meninjau resume atau membuat keputusan akhir dalam proses perekrutan di divisi yang diinginkan.”

    Gregory Tall, mantan profesional sumber daya manusia yang sekarang menjalankan lokakarya pelatihan manajer, pernah menemukan seorang karyawan yang berhenti di tengah presentasi klien tanpa pemberitahuan, meninggalkan kesan buruk pada klien dan tim, yang kemudian harus berjuang menutupi ketidakhadirannya. Itulah mengapa penting untuk mempertimbangkan berapa banyak orang yang akan meninggalkan kesan buruk dari cara kita saat mengundurkan diri.

    Terlalu cepat mengumumkan pengunduran diri
    Jika menunggu untuk mengundurkan diri sampai memiliki pekerjaan baru, pastikan pekerjaan berikutnya sudah pasti didapat sebelum mengumumkan pengunduran diri. Berhati-hatilah dengan orang yang dipercayai tentang keinginan untuk berhenti sekalipun orang itu memiliki hubungan baik.

    Menurut konsultan sumber daya manusia Daniel Space, orang itu bisa memberitahu kepada atasan tentang rencana pengunduran diri itu. Akibatnya, Anda tidak akan mendapat imbalan selama siklus kompensasi.

    Terlalu banyak pemberitahuan
    Mengumumkan pemberitahuan selama dua minggu sebelum mengundurkan diri adalah standarnya kecuali jika Anda manajer atau eksekutif dan ada alasan bisnis yang nyata untuk memiliki periode pemberitahuan yang lebih lama. Dua minggu sudah cukup.

    Jangan kehilangan kesempatan karena tidak dapat memutuskan hubungan. Jika memutuskan untuk memperpanjang lebih dari dua minggu, pastikan dapat menegosiasikan gaji tambahan atau tunjangan untuk waktu tambahan yang diberikan atasan.

    Bekerja terlalu keras setelah menyampaikan pengunduran diri
    Di hari-hari terakhir bekerja, mungkin kita ingin terus melakukan pekerjaan tersisa sehingga rekan kerja tidak mengingat kita sebagai rekan yang buruk. Namun, Pada saat yang sama, kita tidak ingin bekerja lembur untuk pekerjaan yang sudah berakhir. Sebaiknya, jujurlah kepada atasan tentang apa yang ingin dicapai di sisa waktu.

    Berhenti keja di waktu yang salah dan kehilangan keuntungan
    Sebagian besar perusahaan akan terus memberikan keuntungan, seperti fasilitas kesehatan, asuransi jiwa, dan memperoleh waktu luang hingga akhir bulan saat mengundurkan diri. Itu sebabnya lebih baik waktu pengunduran diri pada awal bulan, bukan di akhir.

    Tidak memberi diri waktu istirahat di antara pekerjaan
    Pada saat berhenti dari pekerjaan, kemungkinan besar mengalami kelelahan dan bentuk fisik lain dari stres terkait pekerjaan. Melompat langsung ke pekerjaan lain tidak baik karena melewatkan kesempatan untuk pemulihan yang sangat dibutuhkan. Jika memiliki kesempatan untuk meminta lebih banyak waktu, lebih baik untuk mengambil jeda sekitar lebih dari satu minggu.

    Tidak siap untuk memberitahukan hari terakhir bekerja
    Jika telah memberikan surat pengunduran diri bukan berarti akan langsung mendapatkan izin untuk pergi, entah itu karena manajer merespons dengan buruk atau Anda mengetahui terlalu banyak informasi pekerjaan yang sensitif sehingga membuat hari terakhir bekerja ketika mengumumkan akan berhenti seakan-akan dipecat.

    “Jika manajer melakukan itu karena Anda menemukan sesuatu yang ebih baik untuk hidup dan prospek masa depan, lalu mereka membuat Anda sengsara, tentu itu bukan orang yang baik untuk diajak bekerja sama dalam jangka panjang,” kata Tall.

    ANDINI SABRINA | HUFF POST

    Baca juga: Macam Status Pekerja, Anda Masuk yang Mana?


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    DKI Tutup Sementara PTM 100 Persen di Sekolah yang Terpapar Covid-19

    Pemprov DKI Jakarta menutup sejumlah sekolah yang menggelar PTM 100 persen karena terpapar Covid-19. Namun sejumlah sekolah sudah kembali berkegiatan.