6 Makanan yang Tidak Baik untuk Kesehatan Hati

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi Liver. Shutterstock

    Ilustrasi Liver. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Hati atau lever merupakan salah satu organ utama yang sangat penting bagi tubuh. Fungsi utama dari organ ini adalah mencerna makanan yang dikonsumsi dan menyaring racun dari tubuh.

    Lever bekerja keras sepanjang waktu untuk membuat hidup tetap berjalan dengan sehat. Berbagai komplikasi dan masalah parah dapat muncul ketika kita gagal melakukan perawatan yang tepat. Konsumsi makanan yang baik untuk hidup sehat dan menghindari makanan yang dapat menghambat fungsinya.

    Kopi, buah-buahan dan sayuran segar, oatmeal, teh hijau dalam jumlah sedang (1-2 cangkir/hari), buah beri, telur, kacang-kacangan, dan anggur menyehatkan hati. Tapi tahukah Anda ada makanan yang buruk untuk hati? Berikut enam makanan yang berbahaya bagi lever.

    Makanan dari tepung
    Semua orang suka makan kue, muffin, dan kue kering. Bahan utama yang digunakan dalam produk ini adalah tepung putih. Ternyata, tepung putih sulit dicerna dan juga menimbulkan penumpukan lemak di hati. Selain itu roti juga tidak baik untuk lever karena dapat menyebabkan kadar trigliserida yang lebih tinggi dalam tubuh karena kandungan lemaknya, yang dapat menyebabkan berbagai penyakit hati.

    Minuman soda
    Tidak apa-apa untuk mengonsumsi sedikit minuman soda sesekali. Namun, jika mengonsumsi secara teratur dapat merusak hati dan menyebabkan perkembangan berbagai komplikasi hati. Soda mengandung kombinasi gula buatan dan karbohidrat olahan (juga disebut kalori kosong) yang merugikan kesehatan hati. Selain itu, konsumsi soda berlebih juga merupakan penyebab utama kenaikan berat badan dan obesitas. Obesitas dapat mempengaruhi hati dengan meningkatkan akumulasi lemak di hati  fatty liver).

    Alkohol
    Minum alkohol berlebihan dapat memblokir penyerapan nutrisi dan meningkatkan racun pada hati. Konsumsi alkohol yang berlebihan untuk waktu yang lama menyebabkan sirosis hati yang merupakan jaringan parut yang tak bisa diperbaiki pada hati. Orang yang mengalami sirosis dapat mengalami komplikasi seperti muntah darah, penyakit kuning, akumulasi cairan berlebih dalam tubuh, dan juga kanker hati.

    Makanan berlemak atau cepat saji
    Kentang goreng, wafer, burger, dan pizza tidak baik untuk kesehatan hati. Makanan ini tinggi lemak jenuh atau kandungan lemak trans yang sulit dicerna. Lemak jenuh yang tinggi dapat menimbulkan peradangan dari waktu ke waktu dan akhirnya berubah menjadi sirosis. Lemak jenuh juga dapat meningkatkan kolesterol jahat dan menurunkan kadar kolesterol baik dalam tubuh serta meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

    Makanan yang terlalu asin
    Pada umumnya, tubuh memerlukan garam untuk memelihara keseimbangan cairan di dalam tubuh. Asupan garam yang berlebihan dapat menyebabkan retensi air dalam tubuh. Selain itu, terlalu banyak mengonsumsi garam bisa menyebabkan fibrosis, yang menyebabkan munculnya jaringan parut pada hati, tahapan pertama penyakit liver.

    Daging merah
    Daging merah mengandung protein yang tinggi tetapi mencernanya adalah pekerjaan berat untuk hati. Memecah protein tidak mudah bagi hati dan dapat menyebabkan berbagai masalah terkait hati. Selain itu, penumpukan protein berlebih di hati dapat menyebabkan penyakit hati berlemak yang dapat berdampak buruk pada otak dan ginjal. Selain itu, putih telur baik untuk hati, tetapi mengonsumsi berlebihan dapat menyebabkan masalah pencernaan dan kuning telur adalah sumber kolesterol jahat.

    Itulah enam jenis makanan dan minuman yang tidak baik untuk hati. Sebaiknya konsumsi makanan tersebut dalam batas normal dan tidak berlebihan. Sebelum terlambat, ubah gaya hidup lebih sehat demi kebaikan diri sendiri.

    ANDINI SABRINA | NARAYANA HEALTH

    Baca juga: Cara Cegah Infeksi Hati dan Penanganan Pasien


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    PTM 100 persen DKI Tetap Berjalan Meski Didesak Banyak Pihak

    Pemprov Ibu Kota tetap menerapkan PTM 100 persen meski banyak pihak mendesak untuk menghentikan kebijakan itu. Sejumlah evaluasi diberikan pihak DKI.