Belum Ada Obatnya, Berikut Penyebab dari Alzheimer

Reporter:
Editor:

Nurhadi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Perbedaan otak penderita alzheimer dan otak yang sehat. (cdn.powerofpositivity.com)

    Perbedaan otak penderita alzheimer dan otak yang sehat. (cdn.powerofpositivity.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Jenis dimensia yang paling umum terjadi adalah alzheimer. Setidaknya, sebanyak 60-80 persen penderita demensia jenis alzheimer. Biasanya, penderitanya adalah berusia 65 tahun ke atas. Namun, tidak menutup kemungkinan orang berusia di bawah 65 tahun juga berpotensi mengalami alzheimer. Kerusakan sel dalam otak menjadi penyebab utama terjadinya alzheimer ini.

    Melansir dari healthline.com, alzheimer merupakan penyakit progresif otak yang dapat menyebabkan penurunan kinerja dan fungsi kognitif otak. Sebelum penderita mengalami gangguan alzheimer, otak telah mengalami kerusakan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. Penumpukkan protein yang tidak normal akhirnya membentuk plak dan kusut. Kondisi ini menjadi pemicu timbulnya penyakit alzheimer. Seiring perjalanan waktu, otak akan mengalami penyusutan secara signifikan.

    Gejala alzheimer berlangsung secara bertahap, dimulai dari gejala yang paling ringan sampai gejala yang paling berat. Sebagaimana dijelaskan dalam alz.org, gejala alzheimer diawali dengan kesulitan mengingat informasi sebab penyakit ini akan menyerang bagian otak yang berkaitan dengan penerimaan awal informasi terlebih dahulu. Melansir dari webmd.com, berikut beberapa gejala-gejala dari alzheimer:

    1. Kesulitan mengingat nama, acara, dan percakapan
    2. Masalah konsentrasi
    3. Perubahan kepribadian,
    4. Suasana hati yang mudah berubah
    5. Rasa bingung
    6. Kesulitan dalam mengambil keputusan
    7. Beberapa gejala lain yaitu kesulitan melakukan percapakan atau aktivitas sehari-hari.

    Dikutip dari healthline.com, baik alzheimer maupun penyakit demensia lainnya, belum terdapat obatnya. Dokter cenderung akan memfokuskan perawatan pengelolaan gejala dan menjaga penyakit agar tidak semakin parah.

    Sebagaimana dijelaskan dalam laman webmd.com, untuk mendeteksi alzheimer, dokter biasanya akan melakukan skrining terhadap otak menggunakan mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI). Nantinya, otak akan dipotret menggunakan magnet dan gelombang radio yang kuat untuk menghasilkan gambar yang tajam dan detail. Selain itu, dokter juga akan melakukan pengujian terhadap memori. 

    NAOMY A. NUGRAHENI

    Baca juga: Tak Hanya Lansia, Orang Muda pun Bisa Terserang Alzheimer


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    PTM 100 persen DKI Tetap Berjalan Meski Didesak Banyak Pihak

    Pemprov Ibu Kota tetap menerapkan PTM 100 persen meski banyak pihak mendesak untuk menghentikan kebijakan itu. Sejumlah evaluasi diberikan pihak DKI.