Segera PTM, Kementerian Pendidikan Ungkap Akibat Terlalu Lama Belajar dari Rumah

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Sejumlah siswa saat mengikuti kegiatan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di SMP Negeri 2 Depok, Jawa Barat, Selasa, 30 November 2021. Pemerintah Kota Depok kembali memberikan izin PTMT di seluruh sekolah setelah menurunnya kasus COVID-19 pada klaster PTMT dengan protokol kesehatan yang makin diperketat. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sejumlah siswa saat mengikuti kegiatan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di SMP Negeri 2 Depok, Jawa Barat, Selasa, 30 November 2021. Pemerintah Kota Depok kembali memberikan izin PTMT di seluruh sekolah setelah menurunnya kasus COVID-19 pada klaster PTMT dengan protokol kesehatan yang makin diperketat. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mendorong agar segera terlaksana pembelajaran tatap muka atau PTM penuh bagi siswa sekolah dasar dan menengah. Selama pandemi Covid-19, para siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas belajar dari rumah dan beberapa bulan terakhir mulai belajar tatap muka secara terbatas.

    Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Kemendikbudristek, Jumeri mengatakan, percepatan pembelajaran tatap muka atau PTM bertujuan menghindari berbagai dampak belajar dari rumah yang berkepanjangan. "Terjadi penurunan hasil belajar atau ketertinggalan anak-anak dalam mengikuti pelajaran akibat pandemi," kata Jumeri dalam konferensi pers virtual "Kolaborasi Gerakan Sosial Ayo Tunjuk Tangan" pada Kamis, 9 Desember 2021.

    Tak hanya hasil belajar atau prestasi siswa yang kian menurun, banyak murid yang terancam putus sekolah, terpaksa menikah dini, mengalami kekerasan dalam rumah, sampai penurunan daya saing. Pandemi Covid-19, menurut Jumeri, mengakibatkan jumlah peserta didik Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD menurun karena banyak orang tua menunda atau tidak menyekolahkan anaknya di jenjang ini.

    Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbud, Jumeri STP MSi, dalam taklimat media di Jakarta, Jumat, 4 September 2020. Kredit: ANTARA/Indriani

    Dari sisi anak-anak, Jumeri melanjutkan, para siswa sudah jenuh belajar dari rumah. Mereka butuh berinteraksi dengan teman-teman di sekolah, bermain, dan menjalani aktivitas sehari-hari seperti sebelum wabah corona terjadi. Meski begitu, Jumeri mengingatkan, agar para orang tua tetap memperhatikan kesehatan anak dan menjadi contoh disiplin protokol kesehatan.

    Untuk mengatasi kejenuhan, orang tua dapat mengajak anak-anak mereka untuk berolahraga. Penting juga memperhatikan asupan nutrisi untuk meningkatkan kinerja otak, membangun suasana hati yang baik, dan mencegah berbagai penyakit. Jenis makanan sesuai kebutuhan gizi anak, mulai dari vitamin, mineral, karbohidrat, lemak, dan lainnya.

    Jangan lupa untuk tetap menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari memakai masker, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau menggunakan hand sanitizer, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas serta interaksi.

    #pakaimasker #jagajarak #cucitanganpakaisabun #hindarikerumunan #vaksinasicovid-19

    Baca juga:
    Nadiem Makarim Akan Terbitkan SKB 4 Menteri Terbaru tentang PTM

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik Tempo.co Update untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram lebih dulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    DKI Tutup Sementara PTM 100 Persen di Sekolah yang Terpapar Covid-19

    Pemprov DKI Jakarta menutup sejumlah sekolah yang menggelar PTM 100 persen karena terpapar Covid-19. Namun sejumlah sekolah sudah kembali berkegiatan.