Kisah Stephen Hawking yang Bertahan dari ALS Selama 50 Tahun

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Fisikawan Stephen Hawking. REUTERS/Lucas Jackson

    Fisikawan Stephen Hawking. REUTERS/Lucas Jackson

    TEMPO.CO, JakartaStephen Hawking merupakan salah satu ilmuwan paling terkenal di zaman modern. Namanya paling erat dikaitkan dengan teorema area lubang hitam atau black hole.

    Pada usia 21 tahun, Hawking didiagnosis menderita Amyothropic Lateral Sclerosis (ALS), penyakit langka yang menyerang sistem saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Tanda-tanda penyakit tersebut mulai muncul pada tahun ketiganya di Oxford.

    “Saya menyadari bahwa saya menjadi semakin kikuk, dan saya jatuh sekali atau dua kali tanpa alasan yang jelas,” kata Hawking seperti dikutip dari website resminya.

    Hawking akhirnya menjalani serangkaian tes setelah ayahnya membawa ia ke dokter spesialis. Menurut dokter, umurnya diprediksi tinggal 2 tahun. Namun, prediksi tersebut terpatahkan sebab Hawking tetap hidup hingga usia 76 tahun.

    Menurut Motor Neurone Disease (MND) Association, sebagaimana dilansir dari British Medical Journal, rata-rata pasien ALS memiliki harapan hidup 14 bulan setelah diagnosis. Selain Stephen Hawking, tidak ada yang bertahan begitu lama dengan penyakit ini.

    “Stephen Hawking adalah kasus yang menarik dan ahli saraf selalu memikirkannya,” kata seorang ahli saraf.

    Nigel Leigh, profesor neurologi klinis di King's College, London sekaligus direktur King's MND Care and Research Centre menyebutkan bahwa orang yang didiagnosis ALS pada usia muda seperti Hawking umumnya memiliki kemungkinan hidup yang lebih lama. Dalam beberapa kasus, pasien bisa bertahan hingga lebih dari 10 tahun. Akan tetapi, tidak ada yang mengetahui alannya secara pasti.

    Leigh menilai apa yang terjadi pada Hawking sebagai sesuatu yang luar biasa. Bukan hanya lama waktu ia bisa bertahan, Leight juga terkesan dengan tingkat stabilisasi penyakit tersebut di tubuh Hawking.

    “Dalam kasus ini, MND dimulai cukup awal, pada usia 20-an atau 30-an. Stabilisasi semacam ini sangat jarang terjadi,” ujarnya.

    Ketika ditanya mengapa kondisinya berkembang secara berbeda, Hawking mengatakan bahwa ia percaya jika penyakit neuron motorik adalah sindrom yang dapat memiliki penyebab berbeda. Kasusnya mungkin disebabkan oleh penyerapan vitamin yang buruk.

    Hawking kemudian melengkapi dietnya dengan berbagai tablet vitamin dan mineral, mulai dari seng, cod liver oil, asam folat, vitamin B kompleks, vitamin B-12, vitamin C dan vitamin E. Ia juga mengikuti diet bebas gluten dan minyak sayur. Selain itu, Hawking menerima perawatan medis berupa fisioterapi dada pasif serta fisioterapi pasif dan aktif untuk seluruh anggota badan dan kelompok otot.

    Pada 1965, Hawking menikah dengan Jane Wilde. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai tiga orang anak. Kondisinya terus memburuk namun ia berhasil mengatasinya berkat bantuan istri dan para mahasiswanya.

    Pada 1985, Hawking harus kehilangan kemampuan berbicara setelah menjalani operasi trakeostomi. Mendengar hal itu, alhi komputer Walt Woltosz mengirimkan sebuah program komputer yang dibuatnya sendiri. Program tersebut memungkinkan Hawking memilih kata dari serangkaian menu di layar sehingga memudahkannya dalam berkomunikasi.

    Meskipun harus bertahan dari ALS hampir sepanjang masa dewasanya, hal itu tidak menghalangi Stephen Hawking untuk membina rumah tangga dan sukses dalam pekerjaan. “Saya beruntung karena kondisi saya berkembang lebih lambat daripada yang sering terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak perlu kehilangan harapan,” kata dia.

    Stephen Hawking meninggal pada Rabu, 14 Maret 2018. Kabar duka itu disampaikan keluarga, Stephen meninggal pada usia 74 tahun di kediamannya di Cambridge, Inggris.

    SITI NUR RAHMAWATI 

    Baca: Stephen Hawking Meninggal, Sherina Munaf Langsung Membaca Bukunya

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Mengenal Cacar Monyet atau Monkeypox, Ketahui Penyebaran dan Cara Pencegahannya

    Cacar monyet telah menyebar hingga Singapura, tetangga dekat Indonesia. Simak bagaimana virus cacar itu menular dan ketahui cara pencegahannya.