Mengenal Oximeter, Alat Pengukur Saturasi Oksigen dalam Darah

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Oximeter. Antaranews.com

    Oximeter. Antaranews.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Selama pandemi Covid, oximeter menjadi alat yang penting bagi pasien positif Covid-19.

    Alat tersebut direkomendasikan penggunaannya oleh World Health Organization (WHO).

    Melansir Healthline, oximeter adalah alat kesehatan non-invasif untuk mengukur tingkat saturasi oksigen dalam darah. Alat ini berbentuk seperti klip dan bisa ditempelkan pada jari, daun telinga atau kaki.

    Selain Covid-19, oximeter juga digunakan untuk memantau kesehatan pasien dengan kondisi yang mempengaruhi kadar oksigen darah, seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, radang paru-paru, kanker paru-paru, anemia, hingga penyakit jantung.

    Oximeter mungkin berguna untuk menentukan apakah seseorang perlu dirawat inap atau rawat jalan. Pada beberapa kasus, dokter mungkin menyarankan pasien agar memiliki oximeter untuk digunakan di rumah.

    Berikut adalah cara melakukan pembacaan dengan oximeter :

    1. Letakkan oximeter pada jari, daun telinga, atau kaki. Jika menggunakannya pada jari, maka cat kuku dan perhiasan yang dikenakan pada bagian ini harus dilepas. Pastikan tangan tetap hangat, rileks, dan berada di bawah ketinggian jantung.
    2. Tetap aktifkan perangkat selama diperlukan untuk memantau denyut nadi dan saturasi oksigen.
    3. Lepaskan perangkat setelah tes selesai.

    Normalnya, tingkat saturasi untuk menunjukkan bahwa tubuh dalam kondisi sehat adalah 95 persen. Tingkat saturasi 92 persen atau lebih rendah dapat menunjukkan potensi hipoksemia, yakni kondisi dimana kadar oksigen dalam rendah sangat rendah.

    Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembacaan oximeter, salah satunya adalah warna kulit.

    Menurut penelitian tahun 2020, terdapat tiga kali lebih banyak kasus tes oximeter yang gagal mendeteksi hipoksemia pada pasien kulit hitam. Para peneliti menyatakan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperbaiki bias rasial tersebut.

    SITI NUR RAHMAWATI

    Baca juga: Terus Naik, Kasus Omicron Jakarta Tembus 498 1 hari lalu


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    DKI Tutup Sementara PTM 100 Persen di Sekolah yang Terpapar Covid-19

    Pemprov DKI Jakarta menutup sejumlah sekolah yang menggelar PTM 100 persen karena terpapar Covid-19. Namun sejumlah sekolah sudah kembali berkegiatan.