Perlunya Sosok Duta Vaksin Anak, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Siswa mengikuti vaksinasi COVID-19 bagi anak usia 6-11 tahun di SD Negeri 2 Palembang, Sumatera Selatan, Jumat 14 Januari 2022. Vaksinasi yang digelar oleh Polrestabes Palembang tersebut sebagai upaya  percepatan vaksinasi anak usia 6-11 tahun di Palembang yang baru mencapai 8,68  persen atau 14.896 orang anak dari jumlah total sasaran sebanyak 171.215 orang anak.  ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Siswa mengikuti vaksinasi COVID-19 bagi anak usia 6-11 tahun di SD Negeri 2 Palembang, Sumatera Selatan, Jumat 14 Januari 2022. Vaksinasi yang digelar oleh Polrestabes Palembang tersebut sebagai upaya percepatan vaksinasi anak usia 6-11 tahun di Palembang yang baru mencapai 8,68 persen atau 14.896 orang anak dari jumlah total sasaran sebanyak 171.215 orang anak. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta vaksin anak dapat memberikan testimoni positif mengenai vaksin dan diharapkan teman sebayanya akan merasa aman dan akhirnya bersedia divaksin. Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19, Prof. Dr. dr. Syamsul Arifin, mengatakan perlunya sosok duta vaksin anak dalam edukasi vaksinasi yang kini menyasar usia 6-11 tahun.

    "Pemerintah perlu melibatkan anak dalam sosialisasi vaksinasi COVID-19. Dengan demikian, psikis anak akan lebih siap menghadapi penyuntikan dan efek vaksin," jelas Syamsul.

    Menurutnya, masih ada sebagian orang tua siswa yang tidak setuju anaknya divaksin. Mayoritas orang tua beralasan khawatir dan takut terhadap rumor yang ditimbulkan vaksin. Untuk itu, perlu dimaksimalkan sosialisasi dan edukasi terkait vaksinasi anak. Di samping itu, yang tidak kalah penting agar para vaksinator benar-benar memeriksa kondisi kesehatan anak yang akan vaksinasi. Pemeriksaan kesehatan sebelum vaksinasi harus dilakukan dengan seksama untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

    "Jangan sampai kelemahan skrining memicu kejadian yang tidak diinginkan, yang justru membuat pelaksanaan vaksinasi ini menjadi bumerang. Ini tentu akan menghambat diseminasi dan vaksinasi itu sendiri," papar Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM itu.

    Syamsul menegaskan pula perlunya vaksinasi untuk anak 6-11 tahun. Apalagi dengan diberlakukannya pembukaan sekolah tatap muka secara bertahap, anak juga berpotensi menjadi pembawa virus COVID-19 setelah beraktivitas di luar rumah dan menularkannya kepada orang lain.

    Gejala pada anak memang ringan, tapi dia mengingatkan anak bisa menjadi sumber penularan bagi yang rentan di rumah, seperti balita dan lansia dengan komorbid, terutama karena suatu sebab belum bisa divaksin. Di samping itu, mempertimbangkan kemungkinan rendahnya kepatuhan anak dalam memakai masker yang benar, tidak berkerumun, menjaga jarak, juga mencuci tangan.

    "Manfaat yang dapat diperoleh dengan vaksinasi anak 6-11 tahun ini meningkatkan daya tahan tubuh spesifik anak terhadap infeksi COVID-19," paparnya.

    Baca juga: Beda Vaksin Booster Homolog dan Heterolog


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    PTM 100 persen DKI Tetap Berjalan Meski Didesak Banyak Pihak

    Pemprov Ibu Kota tetap menerapkan PTM 100 persen meski banyak pihak mendesak untuk menghentikan kebijakan itu. Sejumlah evaluasi diberikan pihak DKI.