Terlalu Lama Menatap Layar Sebabkan Gangguan Sindrom Mata

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi perempuan bekerja dari rumah. (Pixabay/Free-Photos)

    Ilustrasi perempuan bekerja dari rumah. (Pixabay/Free-Photos)

    TEMPO.CO, Jakarta - Meningkatnya waktu paparan terhadap layar gawai selama pandemi COVID-19 menyebabkan Computer Vision Syndrome (CVS) atau gangguan sindrom mata. Pandemi memang membuat waktu menatap layar bertambah, baik untuk tujuan pekerjaan, pendidikan, atau sekadar mencari hiburan.

    "Saat menghabiskan lebih banyak waktu di layar digital, termasuk laptop, ponsel, tablet, e-reader, dan bahkan televisi, mata memiliki peningkatan waktu paparan yang tidak proporsional ke layar yang penuh dengan konsekuensi merugikan yang cukup besar," kata Dr. Tushar Grover, Direktur Medis di Vision Eye Centre, New Delhi, India.

    Dilansir Indian Express, gejala dari gangguan sindrom mata di antaranya adalah mata tegang, sakit kepala, penglihatan kabur atau ganda, mata kering, hingga sakit leher dan bahu.

    "Bahkan, terkadang dapat menyebabkan gangguan pada pola tidur dan kesulitan konsentrasi," jelas Grover.

    Grover mengatakan menatap layar yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan sindrom mata sehingga menyebabkan gerakan mata serta pemfokusan memerlukan upaya tambahan dari otot mata dan sistem penglihatan.

    "Saat asyik dengan layar, kita cenderung lebih sedikit berkedip yang menyebabkan mata kering dengan konsekuensi terkait. Orang yang menyentuh 40 tahun, khususnya, harus lebih banyak bekerja karena lensa alami sudah kurang fleksibel," ujarnya.

    Gangguan sindrom mata tak hanya menyerang orang dengan mata normal tapi juga yang berkacamata. Bagi yang sudah memiliki gangguan mata, harus lebih berhati-hati saat menatap layar.

    "Penggunaan gawai, terutama di rumah, sering dikaitkan dengan postur tubuh yang tidak tepat dan pencahayaan rumah yang tidak tepat. Seseorang dipaksa untuk menundukkan kepala, tidak hanya memperparah ketidaknyamanan pada mata tetapi juga menyebabkan sakit punggung dan leher," kata Grover.

    Untuk mencegah terjadinya gangguan sindrom mata, Grover memberikan beberapa saran. Pertama, mengurangi atau membatasi durasi menatap layar. Kedua, tempatkan komputer atau gawai lain di ruangan yang cukup terang. Kemudian, perhatikan juga jarak antara gawai dan mata, tidak boleh terlalu dekat ataupun jauh.

    Selain itu, gunakan kacamata dan lensa yang dapat menyaring sinar biru dan memberikan perlindungan UV. Terakhir adalah menerapkan metode 20-20-20 yang berarti setiap 20 menit, orang yang menatap layar harus melihat sejauh sekitar 3 meter setidaknya selama 20 detik.

    "Ini memberi mata istirahat yang sangat dibutuhkan secara teratur," ujar Grover.

    Baca juga: Dampak Pandemi COVID-19 pada Kesehatan Mata Anak


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Ustaz Abdul Somad Ditolak Masuk Singapura

    Ustaz Abdul Somad, yang populer dengan sebutan UAS, mengaku dideportasi dari Singapura. Dia mengunggah video suasana di imigrasi.