Berikut Ciri dan Penyebab Toxic Relationship, Apakah Anda Mengalaminya?

Reporter

Istilah toxic relationship mengacu pada sebuah hubungan yang tidak sehat dan ditandai dengan berbagai perilaku 'beracun' yang punya potensi merusak fisik dan mental diri sendiri atau pasangan. (Foto: Canva)

TEMPO.CO, Jakarta - Perlu mewaspadai munculnya toxic relationship untuk setiap pasangan. Bagi sebagian orang, menjalin hubungan asmara dengan seseorang yang dicintai mungkin menjadi hal yang terasa menyenangkan. Hal itu karena satu sama lain akan saling mendukung, menghargai, dan memberikan perhatian tanpa kenal waktu.

Terlebih bagi Anda dan pasangan yang memiliki tujuan untuk hidup bersama dan memulai berjuang dari nol sampai berhasil, tentunya akan meminimalisir pertengkaran dan perpisahan. Namun, hubungan yang romantis tidak selamanya berjalan mulus. Jika Anda mengalami gangguan mental hingga berdampak pada pola hidup Anda karena hubungan yang Anda jalin, maka bisa jadi itu adalah toxic relationship.

Ciri dan Penyebab Toxic Relationship

Toxic relationship umumnya ditandai dengan adanya perdebatan oleh pasangan yang tidak kunjung usai, kurangnya rasa menghargai satu sama lain, dan tidak adanya rasa saling percaya. Sehingga, kondisi tersebut akan berdampak bagi kesehatan mental dan juga kesehatan fisik jangka panjang. Menurut Poosh, berikut ciri-ciri toxic relationship yang mungkin juga Anda alami:

  1. Perubahan Pola Perilaku
    Ketika Anda merasa lelah karena terus menerus bertengkar dengan pasangan Anda, maka kemungkinan yang Anda lakukan adalah mengisolasi diri, mengabaikan hubungan dengan orang sekitar seperi keluarga, dan lebih menjauh dengan lingkungan teman-teman Anda.

    Selain itu, kondisi psikologis Anda juga berpengaruh pada kinerja selama di tempat kerja, hal itu karena kurangnya fokus dan merasa tertekan karena hubungan yang Anda jalani. Anda juga akan merasa lebih lelah, tidak termotivasi dan tidak tertarik dengan kehidupan di luar hubungan Anda.

  1. Memaksa Diri untuk Tidak Khawatir Berlebih
    Perasaan curiga dan takut dibohongi wajar dirasakan oleh pasangan. Hal itu bisa jadi disebabkan karena salah satu pasangan pernah berbohong, sehingga beberapa kali Anda akan menanyakan beberapa hal kepada pasangan Anda. Namun, pasangan Anda melarang untuk bertanya lebih jauh karena merasa terganggu.

    Untuk meminimalisir adanya pertengkaran dan buruknya hubungan, Anda berusaha sekuat mungkin untuk tidak menanyakan hal-hal yang mungkin membuat pasangan Anda marah. Akhirnya, Anda menahannya sendiri dan menjadikan pertanyaan-pertanyaan itu sebagai beban di kepala.

  1. Tidak Menjadi Diri Sendiri
    Ketika seseorang sudah terobsesi dengan pasangannya, apapun akan dilakukan demi membuat pasangannya terus mencintai. Hal itu menjadikan Anda untuk menuruti apa yang pasangan Anda inginkan. Perilaku, cara berpakaian, cara bergaul, hingga waktu yang Anda habiskan adalah bukan atas keinginan Anda sendiri, melainkan untuk pasangan.
  1. Merasa Takut Berpendapat
    Umumnya, seseorang yang terjebak dalam toxic relationship akan menahan pendapat dan apa yang dirasakan demi tetap menjaga kualitas hubungan. Anda akan terus menerus menahan diri, menerima apapun yang disampaikan oleh pasangan, baik benar maupun salah Anda tetap mendukungnya.

Jika Anda mengalami toxic relationship, sebaiknya Anda berkeluh kesah dengan kerabat atau rekan yang bisa membantu mengurangi beban pikiran Anda. Atau jika memungkinkan, segera berkonsultasi dengan psikolog untuk menemukan penanganan yang tepat.

RISMA DAMAYANTI 

Baca: Tujuh Tanda Toxic Relationship

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.






Tips Berhenti Bersikap Clingy dalam Hubungan

1 jam lalu

Tips Berhenti Bersikap Clingy dalam Hubungan

Perilaku "lengket" biasanya berasal dari masalah keterikatan dan hubungan masa lalu. Berikut cara agar dapat berhenti menempel pada pasangan.


Putus Cinta, Simak 5 Kiat Melupakan Mantan Pacar

2 hari lalu

Putus Cinta, Simak 5 Kiat Melupakan Mantan Pacar

Putus cinta bisa menjadi kondisi yang menyakitkan atau menyulitkan. Apakah selalu begitu?


7 Hal yang Terjadi ketika Bertemu dengan Belahan Jiwa

2 hari lalu

7 Hal yang Terjadi ketika Bertemu dengan Belahan Jiwa

Banyak yang percaya bahwa setiap orang memiliki belahan jiwa di dunia ini, tapi bagaimana mengetahuinya saat bertemu?


3 Fase dalam Tahapan Trauma Healing Penyintas Bencana?

3 hari lalu

3 Fase dalam Tahapan Trauma Healing Penyintas Bencana?

Trauma healing memiliki tahapan dalam proses beroperasinya. Begini 3 fase yang sebaiknya dilakukan.


5 Cara Mendukung Pasangan yang Kehilangan Pekerjaan

3 hari lalu

5 Cara Mendukung Pasangan yang Kehilangan Pekerjaan

Sebagai pasangan dari orang yang baru saja kehilangan pekerjaan, harus menjadi dukungan emosional terbesar bagi mereka


Kiat agar Hubungan dengan Si Introvert Lancar

3 hari lalu

Kiat agar Hubungan dengan Si Introvert Lancar

Tak mudah menjalin hubungan dengan orang introvert, apalagi bila Anda tipe yang ekstrovert. Agar hubungan tidak gagal, coba kiat berikut.


Deretan 5 Kebaikan Kamar Anak Bukan 1 Anak Saja

5 hari lalu

Deretan 5 Kebaikan Kamar Anak Bukan 1 Anak Saja

Apakah anak-anak Anda tidur di kamar anak yang sama? Berikut ini hal-hal yang harus Anda ketahui ketika anak berbagi kamar yang sama.


Ciri Pasangan Sudah Tak Bahagia bersama Anda

6 hari lalu

Ciri Pasangan Sudah Tak Bahagia bersama Anda

Anda perlu mengetahui beberapa tanda yang menyiratkan pasangan tak bahagia bersama. Berikut sembilan tanda pasangan tak bahagia dalam hubungan cinta.


Alasan Pria Menghindari Keintiman setelah Memulai Hubungan

6 hari lalu

Alasan Pria Menghindari Keintiman setelah Memulai Hubungan

Berikut beberapa alasan yang paling sering dibagikan mengapa pria terlihat menghindar setelah melakukan pendekatan dan hubungan pun mandek.


Alasan Orang Tua Perlu Penuhi Hak Anak

7 hari lalu

Alasan Orang Tua Perlu Penuhi Hak Anak

Psikolog mengatakan orang tua perlu memenuhi kebutuhan dan hak anak secara psikologis dan memastikan anak sehat secara fisik dan mental.