Kata Dokter Soal Polemik BPA Bisa Sebabkan Kanker

Reporter

Editor

Mitra Tarigan

Diskusi Kupas Tuntas Polemik Kesehatan terkait BPA

TEMPO.CO, Jakarta - Belakangan ini muncul polemik seputar Bisfenol A (BPA) yang menyebabkan berbagai masalah kesehatan, bahkan kanker dan gangguan hormonal seperti kemandulan. Diskusi pada publik semakin ramai menyusul rencana pelabelan BPA pada air mineral kemasan galon guna ulang. 

Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. dr. Aru Wisaksono Sudoyo SpPD-KHOM, menyatakan bahwa tidak tepat mengaitkan kanker dengan BPA. “Sampai saat ini belum ada buktinya. Tidak cukup data untuk menyatakan BPA ini menyebabkan kanker. Kita perlu mengumpulkan data yang lebih banyak lagi dalam beberapa tahun ke depan sampai kita benar-benar yakin tentang hal ini,” katanya dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada akhir September 2022. 

Sejauh ini belum ada riset yang konklusif terkait dampak BPA terhadap kesehatan, dan belum ada riset yang relevan dengan kondisi di Indonesia. Sejumlah badan kesehatan terkemuka dari seluruh dunia (termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, Health Canada, Otoritas Keamanan Pangan Eropa dan Standar Makanan Australia Selandia Baru), menyatakan bahwa paparan BPA tidak menimbulkan risiko kesehatan atau masalah keselamatan bagi orang-orang dari segala usia (termasuk anak yang belum lahir, bayi dan wanita hamil). Sayangnya, narasi terkait dengan pengaruh BPA pada kesehatan belum banyak dipaparkan oleh para ahli.

Alih-alih BPA, menurut Aru, penyakit kanker lebih banyak disebabkan oleh 3 faktor yang berkaitan dengan gaya hidup dan ini sudah dibuktikan melalui bukti ilmiah yang sahih yaitu: pertama, overweight atau obesitas, gaya hidup kurang olahraga, dan pola makan tidak sehat. 

Selain tiga faktor tersebut, faktor lain seperti zat kimiawi dari lingkungan pengaruhnya sangat kecil hanya sekitar 2 persen. Aru mengatakan akan jauh lebih baik bila masyarakat lebih khawatir soal dampak rokok yang bisa menyebabkan kanker. “Isu rokok lebih penting dikaitkan dengan kanker dibandingkan BPA. Sekali lagi, masih ada konflik data terkait BPA menyebabkan kanker,” kata Prof. Aru.

BPA adalah zat yang terdapat dalam kemasan, biasanya kaleng atau plastik. Fungsinya untuk memperkuat daya tahan kemasan sehingga bisa digunakan ulang. Komposisi BPA dalam wadah atau kaleng ini sangat kecil, dan tidak mudah untuk terurai. 

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Laurentius Aswin Pramono, M-Epid, menyatakan bahwa terkait dengan endokrin, pada dasarnya semua bahan kimia bersifat endocrine disruptor, yaitu komponen kimiawi yang bisa mengganggu fungsi sistem endokrin dan reproduktif dalam tubuh kita. “Namun untuk menimbulkan gangguan metabolisme dan endokrin, butuh kadar yang sangat besar dalam satu waktu secara bersamaan. Dalam berbagai review study, penggunaan bahan kimia dalam keseharian ternyata tidak mampu mencapai ambang yang bisa menyebabkan endocrine disruption,” katanya.

Dr. Aswin melanjutkan, kandungan BPA dalam galon guna ulang hanya 0,001 persen dari ambang batas yang bisa mengganggu. “Disebutkan, butuh 10 ribu galon dalam satu waktu untuk bisa mencapai jumlah tersebut. Terkait hal ini, memang tidak perlu khawatir untuk menggunakan galon sehari-hari,” ujarnya. 

Secara umum, zat-zat kimia yang masuk ke tubuh akan dibersihkan melalui berbagai mekanisme. Misalnya melalui detoksifikasi di liver (hati), dan dibuang oleh ginjal melalui urin. “Ada banyak jalur pembuangan zat kimia dari tubuh kita. Untuk BPA, akan didetoks di liver. Jadi dalam jumlah kecil tidak berbahaya karena akan didetoksifikasi, sehingga tidak masuk ke peredaran darah,” kata Aswin.

Dengan kata lain, BPA yang masuk ke tubuh sehari-hari dalam jumlah kecil tidak akan terakumulasi, sehingga potensinya sangat minim untuk bisa menimbulkan endocrine disruption. “Yang berpotensi mengganggu adalah yang masuk dalam jumlah yang sangat besar dalam satu waktu, bukan akumulasi selama puluhan tahun,” kata Aswin.

Secara etiologi dalam skala global, tidak ada hubungan kausalitas yang kuat antara BPA dengan berbagai penyakit, seperti kanker dan gangguan endokrin. “Tidak seperti rokok dengan kanker paru, atau virus HPV dengan kanker serviks, yang memang secara etiologi hubungan kausalitasnya sangat kuat,” kata Aswin menjelaskan.

Belum ada satu studi pun yang berhasil menemukan kausalitas antara BPA dengan gangguan kesehatan. “Baru ada dalam tingkat mencit, atau studi sel di lab. Itu tidak bisa membuat kita berkesimpulan bahwa BPA merupakan penyebab dari kanker ataupun gangguan endokrin dan hormon,” lanjutnya.

Aswin menekankan, banyak sekali faktor yang bisa berpotensi menimbulkan gangguan endokrin dan hormon. “Ada hal-hal yang lebih penting untuk diperhatikan. Terutama sekali gaya hidup,” ujarnya. Pola makan dengan prinsip gizi seimbang, serta berolahraga secara teratur, adalah cara yang sangat baik untuk menjaga kesehatan metabolisme, kadar hormon, dan endokrin kita. 

Baca: 4 Makanan yang Sering Dikaitkan dengan Kanker






Kirstie Alley Didiagnosis Idap Kanker Usus Besar Sebelum Meninggal, Apa Gejalanya?

5 jam lalu

Kirstie Alley Didiagnosis Idap Kanker Usus Besar Sebelum Meninggal, Apa Gejalanya?

Kirstie Alley menjalani pengobatan kanker usus besar dan berjuang sampai kematiannya pada usia 71.


Kirstie Alley Meninggal setelah Berjuang Melawan Kanker

1 hari lalu

Kirstie Alley Meninggal setelah Berjuang Melawan Kanker

Bintang Look Who's Talking (1989) dan peraih Emmy Awards 2 kali, Kirstie Alley sempat menjalani perawatan di pusat kanker.


Perhatikan Waktu Aktivitas Luar Ruangan untuk Cegah Kanker Kulit

1 hari lalu

Perhatikan Waktu Aktivitas Luar Ruangan untuk Cegah Kanker Kulit

Paparan sinar matahari langsung bisa memicu kanker kulit sehingga penting untuk memperhatikan waktu beraktivitas di luar ruangan.


Deteksi Kanker Kulit, Kenali Ciri Tahi Lalat ABCDE

1 hari lalu

Deteksi Kanker Kulit, Kenali Ciri Tahi Lalat ABCDE

Dokter mengajak masyarakat mendeteksi dini kondisi tahi lalat yang berpotensi menjadi kanker kulit dengan memperhatikan bentuknya.


Bisnis AMDK Kemasan Galon Unregulated Industry

1 hari lalu

Bisnis AMDK Kemasan Galon Unregulated Industry

Ketika tak diregulasi, industri kayak hukum rimba.


Manfaat Mengonsumsi Buah Stroberi

1 hari lalu

Manfaat Mengonsumsi Buah Stroberi

Stroberi memberikan tubuh vitamin, serat, dan antioksidan tingkat tinggi atau polifenol


Kelompok Orang yang Rentan Mengalami Kanker Ovarium

2 hari lalu

Kelompok Orang yang Rentan Mengalami Kanker Ovarium

Ada enam faktor risiko yang memungkinkan wanita terkena kanker ovarium, empat gejala ini juga mesti diwaspadai.


5 Kandungan Nanas yang Bisa Cegah Kanker dan Sakit Jantung

2 hari lalu

5 Kandungan Nanas yang Bisa Cegah Kanker dan Sakit Jantung

Buah nanas memiliki banyak manfaat kesehatan. Ini kandungan yang bikin nanas


Dokter: Meski Tak Bisa Sembuh, Kanker Dapat Dikontrol

3 hari lalu

Dokter: Meski Tak Bisa Sembuh, Kanker Dapat Dikontrol

Dokter mengatakan kanker tidak bisa sembuh namun dapat dikendalikan. Berikut penjelasan dan sarannya.


7 Manfaat Kesehatan yang Luar Biasa dari Nanas

3 hari lalu

7 Manfaat Kesehatan yang Luar Biasa dari Nanas

Buah nanas mengandung banyak nutrisi sehingga baik untuk kesehatan, mulai dari membantu pencernaan, menangkal penyakit, meningkatkan kekebalan tubuh, menurunkan gejala radang sendi, serta mengurangi risiko kanker.