Kehidupan Seks Orang Ateis Lebih Baik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • chinadaily.com

    chinadaily.com

    TEMPO Interaktif, Orang-orang ateis memiliki kehidupan seks yang lebih baik dibandingkan orang-orang beragama. Sebuah penelitian menemukan orang-orang yang tidak percaya Tuhan lebih bebas membahas masalah fantasi seksual dan kenikmatan bercinta dengan pasangannya. Sementara orang-orang yang beragama lebih merasa tertekan dan bersalah ketika berhubungan seks.

    Penelitian "seks dan sekularisme" ini dilakukan oleh psikolog Darrel Ray dan Amanda dari Kansas University, Amerika Serikat. Penelitian ini melibatkan 14.500 orang yang diberikan pertanyaan seputar seks dan agama mereka.

    Dari penelitian ini juga ditemukan para ateis dan para penganut agama juga memiliki kehidupan seksual yang sama, misalnya saja, masturbasi, melihat pornografi, oral seks dan selingkuh. Namun, mereka yang mereka yang beragama tidak menikmati pengalaman itu seperti orang ateis. Orang yang beragama rata-rata memiliki stigma dan keyakinan berbeda tentang seks ketimbang mereka yang ateis.

    "Meski merasa bersalah, namun mereka yang beragama tidak berhenti melakukan aktivitas seksual," kata Darrel. "Mereka hanya merasa bersalah saja."

    Di luar perasaan bersalah, kedua kelompok yang diteliti memiliki rutinitas yang sama soal seks, seperti berapa kali mereka bercinta dalam sepekannya. Dari penganut beberapa agama yang diteliti, penganut agama Mormon adalah yang paling tinggi perasaan bersalahnya ketika melakukan hubungan seks.

    Besar dalam lingkungan beragama juga mempengaruhi perasaan mereka. Sebanyak 22.5 persen orang yang dibesarkan keluarga beragama merasa bersalah dan malu ketika melakukan masturbasi. Adapun orang yang kurang beragama hanya 5,5 persen yang malu dan merasa bersalah.
     
    DAILY MAIL | PGR

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Sandiaga Uno Soal Tenaga Kerja Asing Tak Sebutkan Angka

    Sandiaga Uno tak menyebutkan jumlah Tenaga Kerja Asing dalam debat cawapres pada 17 Maret 2019. Begini rinciannya menurut Kementerian Ketenagakerjaan.