Peta Jernih Perjalanan Evolusi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Sebelum perjalanan hidup manusia berhenti, pertanyaan itu akan abadi kendati banyak orang telah berupaya keras mencari jawabannya. Para filosof dengan akal budinya, agamawan dengan keimanannya, ilmuwan dengan semangat pencariannya, dan suku "yang disebut primitif" sekalipun dengan kearifannya, memikirkan perkara nan pelik ini.

    Pikiran-pikiran itu terguncang tatkala Charles Darwin mempublikasikan karyanya, On the Origin of Species, satu setengah abad silam. Bagi kaum agamawan, ajarannya perihal evolusi dan seleksi alam terlihat sebagai ancaman. Gagasan evolusi dianggap berseberangan langsung dengan kreasionisme dalam pengertiannya yang mutlak.

    Penerimaan universal atas teori-teori Darwin belum terjadi sampai sekitar 80 tahun kemudian. Penolakan ini, menurut Ernst Mayr, disebabkan oleh dominasi beberapa gagasan filosofis yang dianut hampir secara universal dalam pandangan-hidup lawan-lawan Darwin. "Salah satunya adalah kepercayaan akan kebenaran harfiah tiap kata dalam Alkitab," tulis guru besar Harvard University itu.

    Serangan kepada Darwin alih-alih meruntuhkan gagasan evolusinya, malah menarik banyak pengikut yang membangun dan memperkuat argumennya dari waktu ke waktu. Ikhtiar mengukuhkan gagasan Darwin dicapai lewat pertarungan yang tak kalah hebat di kalangan para pewarisnya sendiri. Apakah evolusi, misalnya, berlangsung berangsur-angsur (gradual) ataukah meloncat-loncat (discontinuous)?

    Ernst Mayr, salah satu ahli waris ide Darwinian, dalam buku ini memetakan perjalanan gagasan evolusi sejak sebelum masa Darwin (Jean-Baptiste de Lamarck menerbitkan publikasinya 50 tahun lebih awal dari On the Origin). Namun, Darwinlah yang memasukkan cara berpikir populasi ke dalam sains. Wawasan dasarnya adalah bahwa dunia kehidupan tidak tersusun atas esensi-esensi yang tidak dapat berubah, tapi populasi-populasi yang sangat beragam.

    Sebagai peta dasar, Mayr menekankan pada kaidah dan tidak hanyut dalam perincian. Dalam memahami Darwin, menurut Mayr, kita harus melihat teori evolusi Darwin sebagai keutuhan dari lima teori utama yang berbeda. Lima teori itu: tidak konstannya spesies (teori evolusi dasar), penurunan segala organism dari leluhur-leluhur bersama (evolusi bercabang), evolusi gradual (tidak ada keterputusan), bertambahnya spesies (asal-usul keragaman), serta seleksi alam (teori ini secara terpisah juga diajukan oleh Alfred Russell Wallace).

    Mayr mengajak kita memasuki wilayah yang paling kontroversial: evolusi manusia. Manusia selalu dianggap sepenuhnya berbeda dari makhluk ciptaan lain. Para filsuf, dari Plato ke Descartes sampai Kant, setuju sepenuhnya dengan kesimpulan itu. Manusia dianggap sebagai puncak penciptaan dan berbeda dari segala hewan dalam berbagai hal, terutama karena memiliki jiwa rasional.

    Mayr menguraikan tahap-tahap di mana manusia menjadi makin berbeda dari kera (bukan monyet) leluhurnya hingga kemudian menunjukkan ciri-ciri khas manusia. Salah satu yang terpenting adalah perkembangan otak manusia. Otak yang besar memungkinkan perkembangan seni, sastra, matematika, dan sains. Pada sebagian besar hewan, jumlah informasi yang dapat diteruskan melalui sistem transfer nongenetis tersebut terbatas. Pada manusia, transformasi informasi budaya menjadi aspek penting.

    Bagaimana masa depan manusia? Pertanyaan yang sangat menggoda ini sering diajukan dalam dua rupa. Pertama, mungkinkah spesies manusia yang ada sekarang pecah menjadi beberapa spesies? Kedua, bisakah spesies manusia yang ada sekarang berevolusi secara keseluruhan menjadi spesies baru yang "lebih maju"? Untuk kedua pertanyaan itu, jawaban Mayr negatif. Ia mencemaskan memburuknya kondisi alam dan masyarakat saat ini akan menurunkan kualitas spesies manusia.

    Sebagai seorang Darwinis, Mayr bukanlah pendukung yang membabi buta. "Segala teori dalam Darwinisme bisa ditolak bila terbukti keliru. Mereka bukan tak bisa berubah sebagaimana dogma agama yang diwahyukan," tulis Mayr. Sejarah biologi evolusi mencatat banyak sekali kasus teori evolusi yang akhirnya ditolak.

    Mayr juga menunjukkan sumber-sumber kesalahpahaman. Misalnya, orang sering hanya memperhatikan satu penyebab atas suatu gejala evolusi. Berbagai penyebab terlibat dalam segala proses seleksi karena fenomena kebetulan terjadi bersama-sama seleksi. Munculnya spesies baru, umpamanya, tak pernah hanya disebabkan oleh perubahan pada gen atau kromosom, tapi juga oleh faktor geografi dan populasi tempat terjadinya perubahan genetis.

    Sembari mengakui bahwa belum semua perincian yang terkait dengan proses evolusi telah dipahami, bagi Mayr, istilah "teori evolusi" seharusnya tak usah dipakai lagi. Bahwa evolusi terjadi dan terus terjadi sepanjang waktu adalah fakta yang amat mapan, sehingga tidak lagi rasional menyebutnya teori. Mayr telah menghadirkan karya yang layak dibaca oleh siapa pun, apakah ia pendukung, penentang, ataupun yang ragu-ragu terhadap teori evolusi.

    PERESENSI: DIAN R. BASUKI, PEMINAT ISU_ISU SAINS

    Judul: Evolusi: Dari Teori ke Fakta
    Penulis: Ernst Mayr
    Penerbit: KPG
    Edisi: I, 2010
    Tebal: xxii + 433 hlm


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.