Senin, 19 November 2018

Salah Mengolah Emosi? Ini Cirinya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • sxc.hu

    sxc.hu

    TEMPO Interaktif, :- Hidup tampak indah jika sekolah beres, pekerjaan lancar, dan tak punya utang. Namun kehidupan bukan itu saja. Ada jiwa yang perlu dibasahi. Itulah yang dirasakan Vera Lutfia, 38 tahun, perempuan pelatih penyedia jasa (provider) teknologi informasi dan komunikasi. Dia merasa ada yang kosong. "Saking ngalir-nya, saya enggak tahu mau apa. Hidup saya terlalu datar," ujarnya saat ditemui di seminar "Emotional Healing Therapy" di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Kamis pekan lalu.

    Untuk mengisi jiwa yang kosong, Vera mengikuti aneka terapi dan penyembuhan mencari tujuan hidup. "Saya dibilang kaya zombie karena tidak punya gairah," ujar perempuan berkerudung ini. Diakui, dalam usia menjelang kepala empat, Vera merasa selalu gagal membangun hubungan personal, padahal secara materi sudah terpenuhi.

    Selama ini ia tak menyadari kegagalan membangun hubungan ternyata berdasarkan trauma masa lalu dalam keluarga. Padahal Vera merasa hubungannya dengan orang tua baik-baik saja.

    Pintu jiwa Vera terbuka setelah ia berkenalan dengan Irma Rahayu. "Dia yang membuka itu semua," katanya menunjuk perempuan di sebelahnya. Irma, 37 tahun, tak punya pendidikan dasar psikologi atau terapi. Empat kali mencoba bunuh diri, terlilit utang ratusan juta rupiah, hingga kehilangan pasangan membuatnya belajar banyak. "Buat saya, pengalaman hidup jauh lebih berharga," katanya.

    Pengalaman jugalah yang membuatnya menjadi penyembuh jiwa (soul healer) sekaligus mendirikan Emotional Healing Indonesia pada Oktober 2008. Awalnya tak ada niat menjadi penyembuh karena perempuan berjilbab ini juga butuh penyembuhan jiwa. Ke sana-kemari mengikuti pelatihan hingga habis puluhan juta rupiah tak juga mengurangi masalahnya.

    Hingga akhirnya, bersama Erwin Hananto Kusumo, yang mempunyai pendidikan dasar psikologi, Irma menemukan kunci semua masalah. "Emosi adalah pemicu energi. Energi manusia keluar dari aneka emosi, mulai jatuh cinta, marah, benci, hingga kecewa," ujarnya.

    Dari emosi pula akan terlihat kondisi kesehatan seseorang. Misalnya orang dalam kondisi tertekan akan banyak diam, tangannya sesekali gemetaran, dan jantung berdetak lebih cepat. Sedangkan orang yang melampiaskan emosi biasanya cepat naik suhu tubuhnya, mudah berkeringat, dan jantungnya berdetak cepat.

    Ujung dari kegagalan mengolah emosi adalah penyakit, antara lain kanker. Penyakit itu muncul karena kondisi klimaks, yakni emosi sudah lama salah urus, ditambah faktor lingkungan. Ciri-ciri dasar kesalahan olah emosi antara lain susah tidur, depresi, dan obesitas. "Itu efek yang paling terasa," ujar Irma.

    Irma mengaku tidak tahu mendapat kemampuan dari mana hingga menjadi penyembuh jiwa. Tapi, sejak kecil, ia punya kemampuan melihat masalah dalam diri seseorang. Kemampuan itulah yang membuatnya dulu pernah dijuluki anak setan. Namun, dengan kemampuan itu pula, ia mampu memiliki segalanya hingga menjadi tak punya apa-apa.

    Kini, setelah kenyang dengan pengalaman hidup dan aneka terapi, Irma menawarkan pengelolaan emosi bagi setiap kliennya. "Setiap orang punya vibrasi yang selaras dengan energi," katanya. Vibrasi dari emosi seseorang bisa terlihat dari suara, tulisan, hingga penampilan fisik. Semakin bagus pengelolaan emosi, semakin sensitif seseorang mengenali energi orang lain.

    Vera, yang merasa kering, jadi ketagihan ikut terapi emosi itu. Sudah enam kali tapi masih ingin ikut lagi. "Bukan karena masalahnya belum beres, tapi lantaran saya ingin menjadi lebih baik," katanya.


    l DIANING SARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.