Bayi 'Sumo' Bisa Dicegah Sejak dalam Kandungan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bayi Obesitas

    Bayi Obesitas

    TEMPO.CO, London - Ibu yang menderita diabetes besar kemungkinan melahirkan bayi obesitas. Kini, Inggris menyiasatinya dengan memberikan obat-obatan tertentu pada ibu hamil dengan diabetes agar jabang bayi lahir normal.

    Fenomena 'bayi sumo' kini menjadi problem utama di empat kota besar di Inggris. Bila pilot project ini berhasil, maka akan diterapkan di seluruh Inggris.

    Para dokter di balik percobaan kontroversial ini mengatakan bahwa obesitas pada wanita hamil di Inggris telah mencapai proporsi epidemi. Mereka menyatakan perlu bertindak sekarang untuk melindungi kesehatan anak-anak di masa mendatang.

    Namun, ada kemungkinan muncul kegelisahan jika mengonsumsi obat itu sewaktu hamil. Masalah ini bisa diselesaikan, kata mereka, melalui perubahan diet dan olahraga.

    Daily Mail baru-baru ini mengungkapkan meningkatnya kasus kelahiran 'bayi sumo', dengan jumlah bayi baru lahir di atas 5 kg melonjak sebesar 50 persen selama empat tahun terakhir.

    Lebih dari 15 persen wanita hamil mengalami obesitas. Hal ini menimbulkan peluang mereka untuk meninggal selama kehamilan, bayi mereka yang lahir mati, dan mengalami komplikasi kehamilan yang bisa berakibat fatal.

    Bayi gemuk sekitar dua kali lebih mungkin untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang kelebihan berat badan. Penelitian ini dimaksudkan untuk membuktikan bahwa bayi obesitas bisa  'diprogram' di dalam rahim. Percobaan ini melibatkan 400 wanita hamil di Liverpool, Coventry, Sheffield, dan Edinburgh.

    Mereka telah mulai mengambil metformin, yang telah digunakan dengan aman oleh penderita diabetes selama puluhan tahun. Dokter mengatakan jika studi ini sukses,  pengobatan bisa digunakan secara luas dalam waktu lima tahun.

    TRIP B | DAILY MAIL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.